Dokter Sukarelawan Bagikan Pengalaman Haru Memberi Vaksin COVID-19 Pertama bagi Masyarakat Umum

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Saat kumpulan vaksin COVID-19 pertama kali tiba di New York City, pusat perawatan kesehatan mencari sukarelawan untuk membantu memvaksinasi. Sebagai mahasiswa kedokteran di Manhattan yang berkomitmen melakukan apapun yang ia bisa guna memfasilitasi respon pandemi, Lala Tanmoy Das segera mendaftarkan diri.

Lintasan lari dalam ruangan yang biasanya menjadi tempat darurat, digunakan untuk vaksin COVID-19. Jam 2 siang, ketika Lala tiba, ada antrean orang yang tumpah ke jalan, ratusan dari mereka menunggu dengan sabar di atas rumput hijau, memeriksa ulang bukti janji temu mereka, sedikit gugup, dan wajah mereka hanya terlihat sebagian karena tertutup masker.

Lala diberi tahu bahwa dibutuhkan relawan di ruang bawah tanah, area yang ditujukan untuk pasien dengan kesulitan aksesibilitas, jadi ia turun ke bawah, melepaskan mantelnya, membersihkan tangan, dan bersiap. Pasien pertama Lala adalah Maxine Gold (nama telah disamarkan), seorang pensiunan guru berusia akhir 60-an, yang melakukan perjalanan jauh-jauh dari ujung Long Island untuk divaksinasi.

"Bu, kami akan memberi Anda vaksin Moderna hari ini. Apakah Anda memiliki pertanyaan sebelum kita memulai?" tanya Lala.

Tidak ada pertanyaan sama sekali, ia sangat senang menerima vaksin, sehingga setelah vaksinasi tersebut, ia berencana mengadakan pesta via Zoom dengan anggota keluarga dan teman dekatnya. Ia berkata tidak pernah menginginkan sesuatu sampai seperti ini sebelumnya, ia bahkan mengenakan gaun terbaiknya untuk perayaan virtual yang akan diadakan malam itu juga.

Lala menjadi dokter sukarelawan untuk memberikan vaksin pertama kepada masyarakat umum

Ilustrasi vaksin corona/Dokter Sukarelawan Bagikan Pengalaman Haru Memberi Vaksin COVID-19 Pertama bagi Masyarakat Umum | pexels.com/@rethaferguson
Ilustrasi vaksin corona/Dokter Sukarelawan Bagikan Pengalaman Haru Memberi Vaksin COVID-19 Pertama bagi Masyarakat Umum | pexels.com/@rethaferguson

Lala memeriksa daftar pertanyaan, memeriksa apakah ia memiliki alergi, kemudian membahas beberapa efek samping dari vaksin, seperti nyeri di tempat suntikan, peningkatan suhu ringan, perasaan tidak enak badan secara umum yang akan mereda dalam beberapa hari. Lalu, Maxine minta agar dirinya direkam untuk dikirimkan kepada keluarga dan teman-temannya.

"Ini terutama untuk mereka yang takut atau tidak ingin melakukannya atau hanya ingin tahu tentang apa semua ini," jelasnya.

Dalam hitungan detik, semuanya selesai, namun Maxine harus ditahan selama 15 menit terlebih dahulu. Lalu, 2 pasien berikutnya tiba.

Mereka adalah Irene Silver dan suaminya Robert Boch yang keduanya berusia awal 70an, serta telah melakukan perjalanan lebih dari 100 mil dari bagian utara New York untuk mendapatkan vaksin. Untuk menghindari stres, mereka bahkan menginap semalam di hotel terdekat.

Saat Lala mengajukan pertanyaan pertama, Robert tampak kecewa karena keduanya tidak mendapatkan vaksin Pfizer. Robert menjelaskan bahwa dirinya dan sang istri lebih sering mendengar tentang nama Pfizer di TV, merasa lebih mengenal merek vaksin tersebut.

Lala mencoba menghilangkan kekhawatiran Robert dengan menjelaskan bahwa semua vaksin yang telah tersedia saat ini sama baiknya. Pada akhirnya, pasangan suami istri tersebut sangat senang akhirnya bisa menerima vaksin.

Ada pasien yang emosional karena putranya meninggal karena COVID-19

Ilustrasi/Dokter Sukarelawan Bagikan Pengalaman Haru Memberi Vaksin COVID-19 Pertama bagi Masyarakat Umum/copyrightshutterstock/sri widyowati
Ilustrasi/Dokter Sukarelawan Bagikan Pengalaman Haru Memberi Vaksin COVID-19 Pertama bagi Masyarakat Umum/copyrightshutterstock/sri widyowati

Orang-orang terus berdatangan, hingga di akhir shift, Lala kedatangan Manuela Mendez yang tiba dengan kursi roda dan mengenakan pakaian tradisional Meksiko yang cantik. Di awal, Manuela mengatakan kepada Lala bahwa ia memiliki kondisi yang membahayakan sistem kekebalan dan tidak yakin apakah suntikan vaksin dapat memperburuk kondisinya ini.

Lala menjelaskan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketika Lala telah menyuntikkan sedikit cairan vaksin, Manuela mulai menangis, hingga para petugas kesehatan di sana memberinya pilihan untuk kembali lagi di lain waktu.

Pada akhirnya Lala mengetahui bahwa masalahnya bukan pada vaksin yang diberikan, namun Manuela benar-benar kewalahan mengatasi emosinya sendiri, karena putra meninggal akibat COVID-19. Lala merasakan kesedihan yang menyayat hati ketika mendengar kematian putra Manuela dan menyampaikan belasungkawa yang terdalam.

Setelah pengalaman hari itu, di satu sisi, Lala merasa dapat lebih berempati dengan perasaan bersalah pasien yang selamat, mengkontekstualisasikan keyakinan orang tentang berbagai vaksin COVID-19 dan yang terpenting, ikut serta dalam ritual kesehatan masyarakat yang mungkin dapat membantu orang. Terlepas dari semua ketidaksempurnaan dan kekacauan, tantangan logistik, dan kendala yang tidak terduga, penting untuk diingat bahwa masih ada rasa positif dan syukur yang tidak hilang di antara orang-orang yang menerima vaksin.

Banyak pasien menderita tragedi pribadi, seperti kehilangan keluarga dan teman karena virus ini, sementara yang lain menyerah pada serangan depresi yang dipicu oleh lockdown. Namun, harapan adalah hal yang membuat sebagian orang terus maju dan sedikit pengakuan atas apa yang kita lakukan dengan benar, jelas tidak merugikan.

#Elevate Women