Dokter: Tak ada bukti hepatitis akut dengan vaksinasi COVID-19

Dokter spesialis patologi klinik Nuri Dyah Indrasari, Sp.PK mengatakan tidak ada bukti yang mengatakan bahwa kejadian hepatitis akut misterius berhubungan dengan vaksinasi COVID-19.

“Dari beberapa referensi mengatakan bahwa tidak ada bukti kejadian hepatitis akut misterius ini berhubungan dengan vaksinasi, karena sebagian besar anak-anak yang terkena dampak hepatitis akut ini belum pernah menerima vaksin COVID-19,” katanya dalam webinar mengenai hepatitis akut pada anak dalam rangka HUT RSCM ke-103 tahun yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Hepatitis akut adalah peradangan sel hati yang terjadi secara akut dan masa berlangsungnya kurang dari enam bulan. Hingga saat ini masih belum diketahui penyebab pasti dari penyakit ini dan masih dalam penyelidikan dan pengembangan.

“Etiologinya bisa karena infeksi virus hepatitis A sampai E, ada juga virus lain yang bisa menyebabkan hepatitis seperti epsteinbar virus, CMV, HIV dan virus lainnya, ada juga bakteri dan parasit,” kata dokter RS Cipto Mangunkusumo ini.

Selain itu ada pula penyebab non infeksi seperti imunologi atau autoimun, metabolik seperti penyakit Wilson dan keracunan asetaminofen dari obat-obatan yang berlebihan.

Nuri mengatakan dalam definisi Kementerian Kesehatan, hepatitis akut misterius ini bisa dilihat dari tingginya kadar SGOT maupun SGPT-nya pada saat pemeriksaan laboratorium yaitu di atas 500 IU/L (internasional unit per liter) dan tidak ada indikasi hepatitis A sampai E.

“Pemeriksaan SGOT dan SGPT ini adalah pemeriksaan untuk melihat fungsi atau keutuhan hati. Kalau tidak utuh karena trauma akibat inflamasi virus ataupun karena obat-obatan, sel hati kita menjadi rusak dan tidak utuh,” katanya.

Pemeriksaan laboratorium memberikan peranan yang penting dalam mendeteksi hepatitis akut misterius ini, meliputi sampel darah hingga pemeriksaan urine dan swab.

“Karena kita sedang mencari etiologinya atau penyebabnya apa, sampai nanti suatu saat bahwa penyebabnya penyakit tertentu sehingga nanti tidak terlalu banyak lagi sampel ataupun bahan yang diambil dari pasien,” demikian Nuri Dyah Indrasari.

Baca juga: Pemerintah lakukan penyelidikan epidemiologi antisipasi hepatitis akut

Baca juga: Kulit menguning hingga hilang sadar tanda gejala berat Hepatitis akut

Baca juga: RSPI Sulianti Saroso jadi rujukan perawatan pasien Hepatitis misterius