Dokter Tirta Luruskan Asumsi Vaksin Bisa Cegah COVID-19

Donny Adhiyasa, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pertengahan Januari lalu tepatnya pada 13 Januari program vaksinasi COVID-19 telah dimulai di Tanah Air. Program vaksinasi ini pertama kali diterima langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

Dengan adanya vaksin ini cukup membuat lega masyarakat di tengah kasus COVID-19 yang beberapa hari belakangan ini mengalami kenaikan. Namun sayangnya, sejumlah masyarakat masih salah mengartikan dengan program vaksinasi COVID-19.

Salah satunya terkait vaksin yang dapat mencegah COVID-19. Terkait hal tersebut, influencer yang juga dokter, dr Tirta angkat bicara. Dia meluruskan kesalahpahaman bahwa vaksin dapat mencegah seseorang tertular dari COVID-19.

"Di penelitian enggak menyebut vaksin mencegah kita dari COVID itu pentingnya mematuhi protokol. Vaksin ini disuntikkan ke kita efektif untuk mencegah pemberatan kalau kita kena COVID. Supaya tidak fatal, sehingga infeksius dari virus berkurang," kata dokter Tirta dalam channel YouTube Deddy Corbuzier.

Selain itu, dokter Tirta juga menjelaskan sejumlah kejadian pasca imunisasi vaksin COVID-19 yang ramai terjadi belakangan ini di sejumlah negara. Misalnya saja, adanya korban meninggal di Norwegia pasca disuntik vaksin COVID-19 dari Pfizer. Yang mana korban meninggal tersebut dilaporkan terjadi pada sejumlah lansia di Norwegia.

"Di Norwegia kebijakan (pemberian vaksin) pfizer diberikan ke 70 tahun ke atas dan screeningnya tidak begitu lengkap 20 orang meninggal, digoreng media yang pro sinovac. Tapi kan diklarifikasi screening ga lengkap bisa jadi meninggal karena lansianya karena tua, makanya di revisi kebijakan vaksin," kata Tirta.

Tirta melanjutkan, Warga Negara Singapura yang juga mendapatkan vaksin COVID-19 dari Pfizer belum ditemukan adanya kasus fatal seperti di Norwegia pasca diberi suntikan vaksin Pfizer.

"Di Singapura enggak ada masalah rata-rata yang divaksin Pfizer di Singapura mereka demam, nyeri sendi 36 jam," ujar dia.

Tirta menjelaskan, vaksin COVID-19 yakni Pfizer dan Moderna basisnya menggunakan MrNA protein spike, dan juga menggunakan metode vaksin baru. Sedangkan untuk vaksin COVID-19 Sinovac dan Sinopharm itu inactive virus (virus yang dimatikan)

"Otomatis kalau logika mati lebih safe. Kalau Moderna dan Pfizer ibaratnya imun ngerti protein mirip COVID-19 cuman mRNA efikasi tinggi tetapi dari penelitian diakui karena protein spike baru long term gimana apakah cocok di lansia atau anak muda Pfizer ini sama jurnal di lansia," ujar dia.

Di sisi lain, untuk Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) terhadap masyarakat Indonesia yang telah divaksin COVID-19 Sinovac baru dilaporkan ada 28 orang yang mengalami gejala ringan.

"Sinovac KIPI yang dilaporkan di Indonesia baru 28an dan ringan kalau Moderna ini di AS agak heboh, orang yang disuntik moderna ada alergi sistemik dari protein spike yang buat wajah lumpuh akhirnya pemerintah AS dipending, cuman alergi sistemik ini bahaya harus dicek alergi karena dia alergi atau screening diselidiki, " kata Tirta.

Tirta melanjutkan, dengan sejumlah alasan keamanan membuat pemerintah akhirnya memilih untuk Sinovac sebagai vaksin untuk COVID-19.

"Makanya pemerintah kita Sinovac dulu karena lebih aman bukan karena sinovac murah. Pfizer dan moderna di Indonesia lagi negosiasi Indonesia minta BPOM kalau ada certified mereka yang tanggung jawab," kata Tirta.