Dokter Ungkap Alasan Long COVID-19 Picu Halusinasi

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Fenomena Long COVID-19 mulai banyak dilaporkan dari berbagai kasus secara global. Tak sedikit pasien yang mengaku, organ-organ lainnya turut mendapat dampak dari virus asal Wuhan, China itu.

Istilah Long COVID-19 mulai terjadi sejak beberapa bulan terakhir lantaran terjadi pada banyak kasus pasien di berbagai belahan dunia. Istilah ini muncul akibat banyaknya gejala yang terjadi selama lebih dari 3 minggu bahkan berbulan-bulan pada pasien COVID-19.

Biasanya, gejala yang terjadi pada pasien sangat beragam mulai dari ringan hingga berat. Pada kasus ini, virus juga tak hanya menyerang sistem pernapasan namun bagian organ lainnya. Termasuk serangan pada sistem saraf pusat, yakni ke organ otak.

"Terbukti saat swab usap negatif tapi pas cairan otak dicek, ada virus SARS-CoV-2," ujar dokter spesialis paru, dr. Agus Dwi Susanto, SpP, dalam acara virtual, Jumat 22 Januari 2021.

Hal itu terjadi lantaran peredaran darah yang menjadi 'penghantar' virus SARS-CoV-2 untuk masuk ke dalam otak. Sebab, peredaran darah memiliki reseptor yang dapat 'ditunggangi' virus tersebut.

"COVID-19 masuk paling utama lewat saluran napas dan paru-paru lalu nempel di reseptor ACE2. Tapi, reseptor itu juga ada di saluran pencernaan dan pembuluh darah termasuk pembuluh darah yang masuk ke otak," tuturnya.

Pembuluh darah yang masuk ke otak, memiliki tugas utama untuk memberi suplai oksigen. Dengan begitu, otak akan mampu bekerja dan berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, virus yang sudah terlanjur masuk ke dalamnya, dapat membuat fungsinya terhambat bahkan menimbulkan dampak buruk.

"Maka ada yang gejalanya pada sistem saraf pusat atau otak. Keluhannya ada yang sakit kepala, delirium, halusinasi, bahkan kejang. Kondisi ini yanh bisa sebabkan apa yang dilakukan jadi enggak inget," ujar Agus