Dokter Ungkap Bahaya 'Chikibul' Bagi Anak, Begini Cara Pertolongan Pertama

Merdeka.com - Merdeka.com - Sejumlah anak mengalami keracunan usai mengkonsumsi jajanan Chikibul alias Chiki Ngebul. Empat anak di Kota Bekasi misalnya. Satu dari empat anak tersebut harus mendapat penanganan intensif karena kondisinya mengkhawatirkan. Anak tersebut keracunan hingga menyebabkan kerusakan pada lambungnya.

Dokter Spesialis Anak, Shela P Sundawa mengatakan, Chiki Ngebul adalah cemilan yang dicampur dengan nitrogen cair. Sehingga menimbulkan efek berasap (ngebul) pada makanan. Nitrogen cair merupakan bentuk nitrogen yang jernih, tidak berbau dan tidak berwarna.

Shela melanjutkan, pada perusahaan makanan, nitrogen cair telah digunakan untuk mempercepat proses pembekuan makanan. Penggunannya bukan tidak pernah menimbulkan masalah.

"FDA pernah mengeluarkan peringatan terkait bahayanya apabila penyajiannya tidak melalui proses yang aman," tulisnya dalam akun Twitter @oxfara dikutip merdeka.com, Kamis (12/1).

Meskipun tidak beracun, lanjut dia, nitrogen cair dapat menyebabkan kerusakan parah pada kulit dan organ dalam. Ada dua mekanisme yang menyebabkan hal ini terjadi.

Konten ini tidak tersedia karena preferensi privasi Anda.
Perbarui pengaturan Anda di sini untuk melihatnya.

Pertama, kerusakan pada lapisan organ pencernaan karena suhu yang sangat dingin. Kedua, peningkatan volume pada organ pencernaan karena pembentukan gas nitrogen.

"Nitrogen cair pada makanan mungkin tidak sepenuhnya menguap saat makanan sudah sampai di tangan konsumen. Hal ini bisa menyebabkan kulit atau organ dalam yang terpapar mengalami injury karena suhu ekstrem (thermal injury)," kata Shela.

Kemudian mekanisme kedua, apabila nitrogen cair berubah menjadi gas akan terjadi ekspansi volume dadakan. 1 Liter nitrogen cair akan berubah menjadi 700 liter gas nitrogen.

"Walaupun setetes yang masuk ke tubuh bisa menimbulkan volume yang sangat besar dan meregangkan organ dalam saat berubah jadi gas," ujar dia.

Melalui dua mekanisme tersebut, tambah Shela, dapat terjadi kebocoranorgan pencernaan dan penumpukan udara yang masif pada rongga perut. Gejalanya, mual, muntah, nyeri perut, diare dan rasa begah diperut.

Cara Pertolongan Pertama

Shela juga membagikan tips bagaimana cara pertolongan pertama dari gejala tersebut. Jika tertelan nitrogen cair.

“Hentikan konsumsi makanan yang mengandung nitrogen cair. Jangan paksa untuk dimuntahkan Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” katanya.

Jika nitrogen cair kontak dengan kulit, lanjut Shela, pindahkan anak ke tempat yang hangat. Rendam area yang terkena dengan air hangat (37ºC - 39ºC).

"Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," tutup dia.

Larangan Kemenkes

Kementerian kesehatan (Kemenkes) tidak merekomendasikan penggunaan nitrogen cair pada pangan siap saji terutama di jajanan.

Hal tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran tentang Pengawasan Terhadap Penggunaan Nitrogen Cair Pada Produk Pangan Siap Saji yang dikeluarkan Kemenkes, Jumat (6/1) lalu.

"Jadi untuk para pelaku usaha yang misalnya keliling atau di pasar malam atau katakanlah yang di masyarakat itu kita rekomendasikan untuk tidak menggunakan nitrogen cair pada pangan siap saji. mengingat ada beberapa kasus yang dilaporkan akibat mengkonsumsi ciki ngebul ini," kata Direktur Penyehatan Lingkungan Kemenkes dr. Anas Maruf saat konferensi pers, Kamis (12/1).

Sebagai upaya kewaspadaan dan antisipasi, Kemenkes telah menyiapkan delapan startegi. Pertama, Kemenkes meminta Dinas Kesehatan (Dinkes), puskesmas, dan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) serta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap produk pangan siap saji yang menggunakan nitrogen cair yan beredar di masyarakat di wilayah kerjanya.

Yang kedua, kata Anas, pihaknya memberikan edukasi kepada pelaku usaha dan pihak-pihak terkait terhadap bahaya nitrogen cair pada pangan siap saji. Lalu, juga memberikan edukasi kepada sekolah-sekolah, anak-anak, dan masyarakat terhadap bahaya nitrogen cair pada pangan siap saji.

"Untuk restoran yang menggunakan nitrogen cair pada produk pangan siap saji harus di bawah pembinaan dan pengawasan dari Dinkes setempat dan pihak terkait serta diberikan informasi cara konsumsi yang aman kepada konsumen," kata Anas.

Kelima, tempat pengelolaan pangan (TPP) selain restoran, seperti gerai pangan jajanan keliling tidak direkomendasikan menggunakan nitrogen cair pada produk pangan siap saji yang dijual.

"Jika terjadi keracunan pangan yang disebabkan penambahan nitrogen cair agak dilakukan investigasi oleh Tim Gerak Cepat sesuai dengan Permenkes nomor 2 tahun 2013 tentang KLB Keracunan Pangan," tambah Anas.

Terakhir, rumah sakit berkoordinasi dengan Dinkes setempat dan memberikan laporan apabila terjadi KLB keracunan pangan yang disebabkan oleh nitrogen cair. Adapun yang dimaksud dengan KLB adalah penambahan kasus dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. [rnd]