Dolar bergerak dekati posisi terendah 7 bulan jelang data inflasi AS

Dolar bergerak dalam kisaran ketat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), melayang di sekitar level terlemahnya dalam tujuh bulan versus euro dan sekelompok mata uang utama lainnya, karena para pedagang menunggu data inflasi AS pekan ini untuk membantu memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.

Euro naik tipis 0,1 persen terhadap greenback menjadi 1,07415 dolar, sedikit di bawah level tertinggi tujuh bulan di 1,07605 dolar yang dicapai pada Senin (9/1). Sterling merosot 0,18 persen menjadi 1,21585 dolar, tepat di bawah puncak tiga minggu sehari sebelumnya.

Dolar telah cenderung lebih rendah karena investor dan pedagang mempertanyakan apakah Federal Reserve harus meningkatkan target suku bunganya di atas 5,0 persen untuk mengekang inflasi yang sangat tinggi, karena dampak dari kenaikan agresif bank sentral AS dalam biaya pinjaman pada 2022 telah mulai terlihat.

Data minggu lalu menunjukkan bahwa sementara ekonomi AS menambah pekerjaan yang solid pada Desember, pertumbuhan upah melambat, dan laporan lain menunjukkan bahwa aktivitas jasa-jasa melemah.

Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk Desember akan dirilis pada Kamis (12/1) dan merupakan salah satu laporan ekonomi utama terakhir sebelum pertemuan kebijakan Fed 31 Januari-1 Februari.

"Pasar valas di kisaran ketat menjelang data utama IHK AS ... tidak mengherankan mengingat besarnya penekanan pasar obligasi pada data itu," kata analis dari ANZ Research.

Investor sekarang memperkirakan suku bunga dana federal mencapai puncaknya di bawah 5,0 persen pada Juni, sebelum mulai turun di akhir tahun.

Presiden Fed Bank Atlanta Raphael Bostic dan Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan pada Senin (9/1) bahwa suku bunga akan semakin tinggi dan akan tetap pada level yang tinggi.

Ketua Fed Jerome Powell menghindari berbicara tentang kenaikan suku bunga dalam pidatonya di Swedia pada Selasa (10/1).

"Sampai narasi Fed yang lebih hawkish muncul, dolar kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan," kata Win Thin, kepala strategi mata uang global di Brown Brothers Harriman, menambahkan bahwa pelemahan dolar saat ini mungkin berlebihan.

Indeks dolar AS yang melacak greenback terhadap sekeranjang mata uang, dengan euro diberi bobot terbesar, naik 0,039 persen di 103,21, setelah jatuh 0,7 persen dan menyentuh level terendah tujuh bulan di 102,93 di sesi sebelumnya.

Tidak jelas apakah status safe-haven dolar akan membantu atau merugikannya.

Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan 2023 mendekati tingkat resesi untuk banyak negara karena dampak kenaikan suku bunga bank sentral yang intensif, perang Rusia di Ukraina berlanjut, dan mesin ekonomi utama dunia tergagap.

Namun, Goldman Sachs mengatakan tidak lagi memperkirakan Eropa akan jatuh ke dalam resesi pada tahun 2023 karena penurunan harga gas alam dan pembukaan kembali perbatasan China.

Pembukaan kembali perbatasan China yang cepat setelah pembatasan pandemi COVID-19 memberikan dorongan lain terhadap aset-aset dan mata uang berisiko minggu ini menjauh dari daya tarik safe-haven greenback, terutama memindahkan ke mata uang terkait China.

Dolar Australia yang sensitif terhadap China melonjak melampaui puncak empat bulan di 0,6950 dolar di sesi sebelumnya. Aussie terakhir 0,3 persen lebih rendah pada 0,6893 dolar AS.

Yuan di pasar luar negeri terakhir diperdagangkan pada 6,7861 per dolar, setelah mencapai level terkuatnya dalam lima bulan di 6,7590 di awal sesi.

Dolar beringsut 0,22 persen lebih tinggi versus yen menjadi 132,175. Mata uang Jepang telah menguat secara luas setelah perubahan mengejutkan bank sentral Jepang pada kebijakan kurva imbal hasil akhir tahun lalu.