Dolar AS Berpeluang Menguat Tajam, Pemerintah Mulai Antisipasi

·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan penjelasan terkait nilai tukar rupiah yang masih mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) usai pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell (The Fed) di Simposium Jackson Hole.

Perry menekankan, melalui pidato tahunannya di simposium tersebut, Powell memang telah memastikan akan terjadinya percepatan perubahan atau pengetatan kebijakan moneter (tapering) The Fed yang dimulai pada akhir tahun ini.

"Statement terakhir dari Jerome Powell dalam Jackson Hole kemarin melihat kemungkinan-kemungkinan mulainya pengurangan likuiditas akhir tahun ini," tutur dia di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin, 30 Agustus 2021.

Baca juga: Utang Pemerintah Akhir Juli 2021 Tembus Rp6.570 Triliun

Namun, dia menekankan, pernyataan Powell tersebut juga diiringi dengan kepastiannya untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga Fed Fund Rate pada tahun ini. Jerome, kata Perry, memberikan sinyal kenaikan suku bunga masih akan dilakukan akhir tahun depan.

Sinyal ini menurutnya yang disambut baik para pelaku pasar keuangan sehingga tidak serta merta membuat dolar AS menguat tajam. Sebab, beberapa risiko ekonomi di AS dan banyak negara masih terjadi akibat penyebaran varian delta meski inflasi di AS tinggi.

"Kenaikan suku bunganya masih kemungkinan di pengujung 2022. Dan, kita lihat reaksi pasar juga pemahamannya juga semakin baik dan itu yang harus terus kita antisipasi perubahan-perubahan ini dalam menjaga stabilitas," tutur Perry.

Senada, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada kesempatan yang sama juga menekankan, isu tapering ini memang terus menjadi perhatian pemerintah maupun Bank Indonesia. Sebab, risiko terbesar dari isu ini adalah menguat pesatnya dolar AS.

"Ini mungkin perlu menjadi perhatian, pemulihan ekonomi AS dan tentu kalau AS relatif kuat, cenderung dolarnya juga menguat. Namun, di sisi lain AS mengalami inflasi cukup tinggi yang kemudian disinyalkan Jerome Powell," tutur Sri.

Isu tapering ini dan percepatan pemulihan ekonomi AS, menurut Sri, sangat perlu untuk diantisipasi secara lebih awal karena faktor-faktor ini akan sangat menentukan suku kebijakan secara global maupun denominasi dolarnya terhadap imbal hasil surat berharga negara.

"Ini kita perlu antisipasi pergerakan rupiah kita walaupun rupiah dari sisi depresiasi year to date 2,3 persen dibanding negara-negara lain emerging market yang terkoreksi lebih dalam. CDS (Credit Default Swap) kita juga membaik mendekati posisi di awal tahun yaitu di 67,8," ujarnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel