Dolar AS jatuh, selera risiko investor naik saat transisi Trump-Biden

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 3 menit

Dolar AS merosot pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), ketika selera risiko meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menerima transisi ke kepresidenan Joe Biden dan dengan optimisme bahwa vaksin COVID-19 akan segera diluncurkan.

Trump mengakui bahwa Kepala Administrasi Layanan Umum (GSA) harus melanjutkan transisi ke pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden terpilih Joe Biden, meskipun ada rencana untuk melanjutkan tantangan hukum terhadap hasil pemilu.

“Kami memiliki dua peristiwa berisiko besar yang ditarik, yang pertama bahwa Pemerintahan Trump tidak akan mengizinkan transisi yang tertib, dan juga tentang vaksin ... pengumuman vaksin selama beberapa minggu terakhir ini telah melampaui perkiraan para ahli kesehatan yang paling optimis,” kata Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya, di New York.

Baca juga: Harga emas anjlok lagi, investor berburu aset berisiko

Indeks dolar terakhir melemah 0,31 persen pada 92,214, setelah mencapai level terendah tiga bulan di 92,013 pada Senin (23/11/2020). Dolar bertahan di atas dukungan teknis utama di sekitar 92, yang menurut para analis akan menyebabkan penurunan lebih lanjut jika ditembus.

Euro naik 0,35 persen menjadi 1,1884 dolar dan dolar naik 0,08 persen menjadi 104,56 yen terhadap mata uang Jepang.

Mata uang berisiko berkinerja lebih baik dolar Australia terakhir melonjak 0,93 persen pada 0,7354 dolar AS, setelah sebelumnya menyentuh tertinggi hampir tiga bulan di 0,7367 dolar AS.

Baca juga: Harga minyak melonjak tertinggi sejak Maret, ditopang vaksin dan Biden

Dolar Selandia Baru mencapai tertinggi lebih dari dua tahun di 0,7005 dolar AS saat investor mengurangi spekulasi pelonggaran kebijakan lebih banyak oleh bank sentral negara itu, dan terakhir naik 0,72 persen pada hari itu di 0,6972 dolar AS.

Bitcoin menguat lebih dari empat persen menjadi 19.139 dolar dan mendekati rekor tertinggi 19.666 dolar pada Desember 2017.

“Ini menjadi momentum perdagangan,” kata Moya. “Saya pikir apa yang benar-benar mendorong Bitcoin beberapa bulan terakhir ini adalah ekspektasi bahwa kami akan mendapatkan stimulus yang signifikan dari bank sentral dan pemerintah.”

Baca juga: Rupiah ditutup melemah, di tengah kabar baik soal vaksin

Sekutu Demokrat untuk kampanye Joe Biden mengatakan mantan Ketua Federal Reserve (Fed) Janet Yellen diperkirakan akan dicalonkan sebagai Menteri Keuangan, yang telah meningkatkan ekspektasi akan stimulus fiskal yang besar.

Dia telah menyerukan peningkatan pengeluaran pemerintah untuk mengangkat ekonomi keluar dari resesi yang disebabkan oleh Virus Corona.

Meski begitu, Yellen juga telah menyatakan keprihatinan tentang utang AS yang meningkat pesat dan defisit anggaran yang memburuk.

Baca juga: Saham Spanyol melonjak lagi, Indeks IBEX 35 melambung 2,03 persen

Baca juga: Saham Jerman berbalik untung, Indeks DAX 30 melambung 1,26 persen

“Dia telah berkomentar beragam yang saya katakan tentang anggaran federal,” kata Ahli Strategi Makro Wells Fargo, Erik Nelson. "Saya tidak mengatakan dia akan menjadi orang yang suka menghabiskan anggaran besar, tapi saya tidak tahu apakah dia memiliki anggaran sebesar yang orang inginkan."

Data pada Selasa (24/11/2020) menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen AS turun lebih dari yang diperkirakan pada November di tengah kebangkitan luas infeksi baru COVID-19 dan pembatasan bisnis, memperkuat ekspektasi akan perlambatan tajam dalam pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat.

Baca juga: Saham Inggris "rebound," Indeks FTSE 100 melonjak 1,55 persen

Baca juga: Saham Prancis bangkit kembali, Indeks CAC 40 melambung 1,21 persen