Dolar jatuh, tertekan penurunan tajam imbal hasil obligasi AS

Risbiani Fardaniah

Dolar AS jatuh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), membukukan kerugian mingguan terbesar dalam empat tahun, karena penurunan tajam dalam imbal hasil obligasi pemerintah AS merusak daya tarik greenback.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, melemah 0,7 persen menjadi 95,995, setelah tergelincir ke level terendah 13-bulan di 95,701. Untuk minggu ini, indeks dolar jatuh 2,2 persen, penurunan mingguan terbesar sejak awal Mei 2016.

"Kemerosotan bersejarah dalam imbal hasil obligasi pemerintah AS membantu merusak dolar yang telah mencapai tingkat tertinggi tiga tahun beberapa minggu lalu," kata Analis Senior Pasar Western Union Business Solutions, Joe Manimbo, di Washington.

"Ketidakpastian ekonomi menyebar secepat Virus Corona yang menumpuk tekanan pada Federal Reserve untuk menindaklanjuti pemotongan suku bunga besar minggu ini dengan yang lain ketika bertemu akhir bulan ini," katanya.

Baca juga: Harga emas naik 4,4 dolar, ditopang kejatuhan ekuitas dan dolar AS

Investor telah memangkas ekspektasi untuk suku bunga AS setelah penurunan suku bunga Federal Reserve (Fed) darurat 50 basis poin awal pekan ini untuk melawan dampak ekonomi dari penyebaran Virus Corona.

Kekhawatiran tentang wabah telah meninggalkan fundamental pasar jauh di belakang, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun merosot ke rekor terendah. Itu memusnahkan keuntungan imbal hasil yang telah memicu carry trade global - meminjam dengan suku bunga negatif di euro dan yen untuk membeli aset AS.

Pasar sekarang bertaruh bahwa Fed akan kembali memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin bulan ini.

Euro menguat sekitar 0,7 persen pada level tertinggi delapan bulan di 1,1311. Terhadap yen Jepang, dolar turun 0,6 persen pada 105,49 yen, level terendah lebih dari enam bulan.

Baca juga: Harga minyak anjlok, setelah Rusia tolak pangkas produksi tajam OPEC

Dolar menemukan sedikit dukungan dari data yang menunjukkan pengusaha AS mempertahankan laju perekrutan yang kuat di Februari, memberikan ekonomi dorongan kuat ketika menghadapi wabah yang memicu kekhawatiran resesi.

"Pencetakannya sangat mengesankan," kata Wakil Presiden untuk Transaksi dan Perdagangan Tempus Inc, John Doyle, di Washington. "Tapi saya pikir kepositifan angka-angka itu akan tenggelam oleh lingkungan risk-off yang memayungi hari ini."

Sterling memperpanjang kenaikan terhadap dolar yang secara luas lebih lemah, dan didorong oleh komentar dari kepala negosiator Brexit Uni Eropa bahwa kesepakatan perdagangan antara Inggris dan blok itu masih mungkin tahun ini. Mata uang Inggris menguat 0,5 persen pada 1,3021 dolar.

Baca juga: Rupiah Jumat sore anjlok, dipicu kekhawatiran meluas terhadap Corona