Dolar menguat, dipicu ekspektasi suku bunga AS bisa lebih tinggi lagi

Dolar tampaknya akan mencatatkan minggu terbaiknya dalam lebih dari sebulan pada Jumat, di tengah ekspektasi bahwa suku bunga AS dapat mencapai puncak lebih tinggi, sementara sterling berada di ujung tanduk karena investor merevisi proyeksi suku bunga mereka setelah perubahan nada dari Bank Sentral Inggris (BoE).

Sterling naik tipis 0,1 persen menjadi 1,1170 dolar di awal perdagangan Asia setelah meluncur 2,0 persen semalam. Mata uang Inggris itu menuju kerugian mingguan hampir 4,0 persen, terbesar sejak gejolak pasar September dipicu oleh rencana ekonomi yang mengkhawatirkan investor.

Sementara BoE menaikkan suku bunga terbesar sejak 1989 pada Kamis (3/11/2022), pihaknya memperingatkan investor bahwa risiko resesi terpanjang Inggris dalam setidaknya satu abad berarti biaya pinjaman kemungkinan akan naik kurang dari yang mereka perkirakan.

"Sterling mendapatkan dosis realitas ekonomi. Bahwa BoE harus membuat - pasti ke sisi fiskal - pilihan sulit," kata Ahli Strategi Mata Uang National Australia Bank, Rodrigo Catril.

"Sudah agak lama bahwa BoE enggan menaikkan suku bunga ... di lingkungan saat ini. Tapi tentu saja, angka inflasi itu masih terlalu tinggi."

Baca juga: Bank Sentral Inggris bakal naikkan suku bunga terbesar sejak 1989

Euro naik 0,08 persen pada 0,97755 dolar, setelah jatuh mendekati 0,7 persen semalam, sementara kiwi turun 0,06 persen menjadi 0,5772 dolar, setelah merosot 0,7 persen di sesi sebelumnya.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang, menguat ke 112,90, setelah melonjak 0,8 persen semalam dan menyentuh level tertinggi sekitar dua minggu di 113,15.

Indeks berada di jalur untuk kenaikan mingguan sebesar 2,0 persen, terbesar sejak September.

Sementara Federal Reserve (Fed) menaikkan suku bunga sebesar tiga perempat poin persentase minggu ini dan mengisyaratkan pihaknya mungkin mendekati titik belok dalam kampanye pengetatan kebijakan moneter yang agresif, Ketua The Fed Jerome Powell dengan cepat meredam harapan potensi perubahan arah, menambahkan bahwa "sangat prematur" untuk membahas kapan Fed mungkin menghentikan kenaikannya.

Suku bunga Fed berjangka sekarang menunjuk ke suku bunga terminal sekitar 5,15 persen pada Juni, dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak sejalan dengan ekspektasi yang lebih tinggi.

Baca juga: Dolar menguat di Asia, pasar bersiap suku bunga The Fed lebih tinggi

Imbal hasil obligasi pemerintah dua tahun, yang biasanya bergerak sesuai dengan ekspektasi suku bunga, terakhir berada di 4,7243 persen, setelah mencapai puncak 15 tahun di 4,745 persen pada sesi sebelumnya.

"Secara keseluruhan, dolar memiliki relativitas ekonomi dan bank sentral di sisinya, dan untuk saat ini, semacam kesadaran bahwa perubahan arah tidak benar-benar terjadi, itu hanya penurunan dalam hal roda gigi," kata Catril.

Pasar sekarang mengalihkan fokus mereka ke data pekerjaan utama AS yang akan dirilis pada Jumat, dengan ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan data penggajian nonpertanian (NFP) telah meningkat sebesar 200.000 pekerjaan pada Oktober.

Sementara itu yen Jepang naik sedikit 0,07 persen menjadi 148,155 per dolar, sementara Aussie turun 0,02 persen menjadi 0,6287 dolar AS, menyusul penurunan hampir 1,0 persen semalam.

Bank Sentral Australia pada Jumat menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi, memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut akan diperlukan untuk menurunkan inflasi setinggi langit bahkan ketika berusaha untuk menghindari resesi sekaligus.

Baca juga: Rupiah ditutup terus melemah, tertekan The Fed yang lebih "hawkish"