Dolar AS menguat, ditopang data ekonomi dan kebijakan ECB

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 3 menit

Dolar AS naik terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), terangkat berita ekonomi yang positif dan pernyataan Bank Sentral Eropa (ECB) bahwa pelemahan zona euro masih memerlukan dukungan dari kecepatan pembelian obligasi saat ini.

Gerakan dolar diperkuat pada sore hari oleh sebuah penghindaran risiko (risk-off), permintaan dolar ketika tersiar kabar bahwa Presiden AS Joe Biden akan mengusulkan hampir dua kali lipat pajak atas capital gain untuk orang-orang yang berpenghasilan lebih dari satu juta dolar AS.

Indeks dolar terhadap mata uang utama lainnya naik 0,2 persen menjadi 91.303 pada sore hari di New York, setelah pasar menyaring pernyataan ECB dan berita bahwa klaim pengangguran baru AS telah jatuh ke level terendah 13 bulan, menyiapkan panggung untuk pertumbuhan pekerjaan yang kuat pada April.

Euro telah naik sekitar 0,1 persen terhadap dolar sebelum peristiwa tersebut, tetapi kemudian turun 0,2 persen menjadi 1,201 dolar.

Baca juga: "Rebound" dolar terhenti pasca-Kanada isyaratkan kenaikan suku bunga

Ketua ECB Christine Lagarde mengatakan pembuat kebijakan belum membahas penghentian program pembelian obligasi "karena itu prematur." Dia mengatakan ekonomi masih "tertutupi oleh ketidakpastian" meskipun ada tanda-tanda perbaikan dan kemajuan vaksinasi.

Imbal hasil obligasi zona euro merosot setelah Lagarde berbicara.

“Sampai Anda melihat angka COVID yang lebih baik dari Eropa, potensi kenaikan euro akan dibatasi,” kata Direktur Pelaksana Analis Mata Uang Global Action Economics, Ronald Simpson, di Safety Harbor, Florida.

Simpson menambahkan bahwa jika proposal pajak Biden diteruskan, hal itu dapat merugikan greenback jika mendorong para investor saham dengan keuntungan besar untuk menjualnya sebelum peraturan diberlakukan.

Baca juga: Rupiah menguat, ditopang turunnya imbal hasil obligasi AS

"Hal itu mungkin terus menekan pasar saham, terus menerus, selama sisa tahun ini, yang tidak akan menjadi pertanda baik bagi dolar jika kita mulai melihat arus keluar dari ekuitas AS," kata Simpson.

Dampak langsungnya "tidak terlalu serius," kata Kepala Analis Valas Exchange Bank of Canada, Erik Bregar.

"Kami melihat perpanjangan dari pergerakan pagi ini pasca-ECB," kata Bregar. “Ini adalah masalah klasik risk-off (penghindaran risiko), permintaan dolar AS.”

Pasar mata uang awalnya bimbang atas apa yang diungkapkan Lagarde tentang waktu kenaikan suku bunga.

Baca juga: IMF: Ada potensi dan risiko dalam mata uang digital

Alex Merk, kepala investasi di Merk Investments di Palo Alto, California, mengatakan pasar mendengar bahwa ECB ingin mempercepat pergerakan suku bunga bersama bank sentral AS tetapi bahwa kedua ekonomi memiliki lintasan inflasi yang berbeda.

Pada akhirnya, Merk berkata, "tidak ada substansi besar di sana."

Bolak-balik mata uang pada Kamis (22/4/2021) adalah contoh lain bagaimana pasar disibukkan dengan memilah seberapa cepat ekonomi-ekonomi yang berbeda akan pulih dari pandemi dan bagaimana tingkat suku bunga mereka akan berfluktuasi.

Sekarang pasar fokus ke pertemuan Federal Reserve AS minggu depan dan kemungkinan pernyataan tentang bagaimana pandangannya terhadap perubahan kebijakan moneter longgarnya di masa depan.

Imbal hasil sedikit berubah hari ini di 1,55 persen meskipun sempat naik sekitar empat basis poin.

Sentimen terhadap dolar telah banyak melemah di bulan ini setelah lonjakan imbal hasi obligasi pemerintah pada Maret berbalik arah. Tetapi beberapa analis mengatakan prospek jangka panjang tetap positif karena ekonomi AS yang kuat dan lebih banyak vaksinasi virus corona.

Merk berkata, "Pada akhirnya yang penting adalah kemajuan dengan pandemi" dan apa artinya bagi pemulihan global, inflasi dan suku bunga.

Di pasar mata uang kripto, ethereum melonjak sebanyak 10 persen sepanjang hari. Bitcoin merosot sekitar 2,0 persen menjadi 52.800 dolar AS.

Baca juga: Perry Warjiyo: BI akan terus berada di pasar, jaga stabilitas rupiah