Dolar AS menguat ditopang rencana stimulus fiskal di Amerika

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Kurs dolar AS menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), termasuk terhadap mata uang utama seperti euro dan franc Swiss, karena investor fokus pada rencana stimulus fiskal Amerika Serikat dan ketegangan AS-China menjelang pembicaraan perdagangan utama minggu ini.

Greenback terangkat ke level tertinggi satu minggu terhadap euro dan mata uang Swiss.

Indeks dolar juga menutup beberapa kerugian dari Juli ketika jatuh empat persen. Data Jumat (7/8/2020) tentang laporan penggajian (payrolls) non-pertanian menenangkan kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja AS, tetapi dolar masih membukukan penurunan mingguan ketujuh berturut-turut.

Baca juga: Harga emas "rebound" 11,7 dolar dari penurunan akhir pekan lalu

Setelah pembicaraan di Washington mengenai stimulus fiskal putaran berikutnya gagal, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (8/8/2020) menandatangani perintah eksekutif untuk memperpanjang bantuan ekonomi COVID-19 tertentu setelah negosiasi antara anggota parlemen Republik dan Demokrat gagal.

“Kami tidak menyelesaikan kesepakatan di Capitol Hill minggu lalu, tetapi Presiden Trump dapat menandatangani tindakan eksekutif tersebut. Jadi kami mendapatkan beberapa stimulus, tetapi tidak cukup," kata Analis Pasar Senior OANDA, Ed Moya, di New York.

“Saat ini, Anda mungkin akan melihat sedikit lebih banyak konsolidasi minggu ini dari pergerakan besar valas. Tapi prospek jangka panjang terus bagus di euro, jadi Anda akan melihat orang membeli saat turun," tambahnya.

Baca juga: BI: Cadangan devisa Juli 2020 tercatat 135,1 miliar dolar AS

Dalam perdagangan sore, euro melemah 0,3 persen terhadap dolar menjadi 1,1746 dolar, sedangkan mata uang AS menguat 0,3 persen terhadap franc Swiss menjadi 0,9152 franc. Terhadap yen Jepang, dolar sedikit berubah pada 105,93 yen.

Secara keseluruhan, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,2 persen menjadi 93,56.

Kepala Strategi Valas Scotiabank, Shaun Osborne, di Toronto, mengatakan dia yakin dolar akan tetap lemah dalam jangka menengah tetapi tidak anjlok. Dia melihat kemungkinan koreksi jangka pendek atau setidaknya moderasi.

Baca juga: Wall Street dibuka menguat setelah Trump perpanjang bantuan COVID

"Kami pikir latar belakang fundamental yang telah memberikan dukungan untuk dolar AS dalam dua tahun terakhir berubah lebih buruk dan investor akan terus mencari prospek ekonomi yang lebih baik atau keuntungan di pasar non-dolar AS dalam beberapa bulan mendatang," tulis Osborne dalam bukunya catatan penelitian terbarunya.

Penguatan dolar pada akhir pekan lalu juga karena meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China, dengan AS menjatuhkan sanksi kepada pejabat tinggi Hong Kong dan China.

Ini terus mendorong investor menuju mata uang safe-haven dolar pada Senin (10/8/2020). China menjatuhkan sanksi kepada 11 warga AS, termasuk legislator.

Pejabat senior AS dan China akan bertemu melalui telekonferensi pada Sabtu (15/8/2020) untuk meninjau implementasi kesepakatan perdagangan Fase 1 mereka dan kemungkinan saling menyampaikan keluhan.

Baca juga: IHSG ditutup menguat, meski minim sentimen di pasar saham