Dolar menguat karena kekhawatiran inflasi menekan sentimen risiko

Dolar AS menguat secara keseluruhan terhadap sejumlah mata uang utama pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena imbal hasil obligasi pemerintah naik dan kekhawatiran atas percepatan lebih lanjut dalam inflasi global menekan selera risiko investor.

Dolar didukung oleh permintaan untuk tempat berlindung yang aman, ketika saham-saham AS jatuh pada Selasa (31/5/2022) karena melonjaknya harga minyak dan komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve AS menakuti investor.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik sehari setelah Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan The Fed harus siap untuk menaikkan suku bunga setengah poin persentase pada setiap pertemuan mulai sekarang sampai inflasi terkendali dengan pasti.

Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,3 persen pada 101,76, dengan kecepatan kenaikan satu hari terbaik dalam hampir dua minggu. Indeks dolar, naik sekitar 6,4 persen sepanjang tahun ini, turun 1,4 persen untuk Mei, dengan laju penurunan bulanan terburuk dalam setahun.

Presiden Joe Biden mengatakan kepada Ketua Fed Jerome Powell pada Selasa (31/5/2022) bahwa dia akan memberi bank sentral ruang dan independensi untuk mengatasi inflasi sesuai keinginan, menurut seorang pembantu utama.

Rebound pada Selasa (31/5/2022) dalam dolar AS menunjukkan dukungan yang lebih baik untuk indeks dolar di sekitar rata-rata pergerakan 50 hari, yang telah diuji indeks selama beberapa sesi terakhir, Shaun Osborne, kepala strategi mata uang di Scotia Bank, mengatakan dalam sebuah catatan.

Indeks dolar belum ditutup di bawah rata-rata pergerakan 50 hari sejak pertengahan Februari tetapi telah melayang lebih dekat ke sana selama beberapa sesi terakhir.

"Kami pikir dolar tidak mungkin reli secara signifikan dan masih mempertimbangkan aksi harga untuk mencerminkan tahap awal pembalikan yang lebih luas dalam tren bullish dolar baru-baru ini." kata Osborne.

Untuk saat ini, euro tetap lemah karena data pada Selasa (31/5/2022) menunjukkan inflasi zona euro mencapai rekor tertinggi pada Mei, menambah tekanan pada Bank Sentral Eropa ketika menangkis resesi dan untuk mengekang harga tinggi dengan kenaikan suku bunga bertahap dalam beberapa bulan mendatang.

Inflasi di 19 negara yang berbagi euro meningkat menjadi 8,1 persen pada Mei dari 7,4 persen pada April, mengalahkan ekspektasi sebesar 7,7 persen karena pertumbuhan harga terus meluas, menunjukkan bahwa tidak lagi hanya energi yang menarik angka utama.

Terhadap dolar, euro turun 0,5 persen ke level terendah lima hari.

Berita bahwa para pemimpin Uni Eropa pada prinsipnya setuju pada Senin (30/5/2022) untuk memotong sebagian besar impor minyak dari Rusia pada akhir tahun ini mengirim harga minyak lebih tinggi dan menawarkan beberapa dukungan untuk mata uang komoditas.

Dolar Kanada menyentuh 1,2653 per dolar AS, mendekati level tertinggi satu bulan yang dicapai semalam, menjelang pertemuan bank sentral Kanada pada Rabu waktu setempat, di mana semua 30 ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan kenaikan suku bunga 50 basis poin menjadi 1,50 persen.

Di pasar mata uang kripto, bitcoin naik 1,39 persen menjadi 31.666,45 dolar AS, mendekati level tertinggi tiga minggu.
Baca juga: Euro siap cetak kenaikan bulanan terbaik setahun jelang data inflasi
Baca juga: Rupiah ditutup melemah, dipicu naiknya imbal hasil obligasi AS

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel