Dolar menguat setelah tiga hari jatuh karena sentimen risiko berkurang

Ahmad Buchori
·Bacaan 3 menit

Dolar menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah tiga hari berturut-turut merugi, dan mata uang berisiko kembali jatuh, karena sentimen risiko berkurang di tengah melonjaknya infeksi COVID-19 meningkatkan selera terhadap mata uang safe-haven.

Sebagai tempat berlindung yang aman, mata uang AS cenderung naik pada saat ada tekanan keuangan dan ekonomi yang mengakibatkan selera risiko lebih rendah.

Indeks S&P 500 dan Dow bersama dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga lebih rendah, menunjukkan suasana yang umumnya suram di pasar keuangan.

Dolar mengurangi keuntungan dan mata uang berisiko memotong kerugian awal setelah data ekonomi AS yang positif - kenaikan aktivitas pabrik ke level tertinggi dalam lebih dari 13 tahun pada Januari dan kenaikan tak terduga 0,7 persen dalam penjualan rumah.

Greenback telah jatuh terhadap sekeranjang mata uang selama tiga sesi beruntun karena optimisme pasar tentang rencana stimulus fiskal Presiden AS Joe Biden mendorong pedagang untuk mencari aset-aset berisiko, menghasilkan keuntungan di mata uang seperti dolar Selandia Baru dan Australia.

Tapi tren itu berhenti pada Jumat (22/1), karena sentimen risiko pasar mundur. Saham global tergelincir dari rekor tertinggi ketika dolar AS stabil, naik 0,1 persen pada hari itu di 90,209.

Namun, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, masih membukukan kerugian mingguan terbesar sejak pertengahan Desember.

"Ada beberapa keragu-raguan di pasar dan sentimen risiko sedikit memburuk," kata Amo Sahota, direktur eksekutif di firma penasehat mata uang Klarity FX di San Francisco.

"Pasar mungkin akan memperhatikan pertemuan Fed minggu depan, di mana mereka kemungkinan akan sedikit lebih berhati-hati di pasar mengingat peluncuran vaksin yang lebih lambat dan peningkatan virus yang berkepanjangan secara global."

Kematian akibat virus corona di AS kini telah mencapai hampir 410.000, dengan hampir 25 juta kasus.

Federal Reserve minggu depan akan mengadakan pertemuan kebijakan moneter pertama tahun ini dan para analis memperkirakan Fed akan tetap dovish, dan para pejabat "mungkin akan mencatat tanda-tanda perlambatan ekonomi sejak pertemuan Desember," kata NatWest Markets dalam sebuah catatan penelitian.

Data ekonomi yang suram juga sedikit mencerahkan suasana, ketika data Inggris menunjukkan pengecer Inggris berjuang untuk pulih pada Desember.

Aktivitas ekonomi di zona euro menyusut tajam pada Januari karena penguncian yang ketat untuk menahan pandemi virus corona menghantam industri jasa dominan blok itu dengan keras.

Dalam perdagangan sore, dolar menguat 0,3 persen terhadap yen menjadi 103,815.

Data dari Jepang semalam menunjukkan aktivitas pabrik tergelincir ke dalam kontraksi pada Januari dan sektor jasa lebih pesimis karena langkah-langkah darurat untuk memerangi kebangkitan COVID-19 mengurangi sentimen.

Dolar Australia turun setelah data penjualan ritel mengecewakan, tetapi masih membukukan kenaikan mingguan. Terakhir turun 0,6 persen menjadi 0,7718 dolar AS. Dolar Selandia Baru turun sekitar 0,6 persen menjadi 0,7179 dolar AS dan euro sedikit berubah pada 1,2167 dolar AS.

Mata uang tunggal naik pada Kamis (21/1) setelah pengumuman suku bunga kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB), dengan ECB mengatakan mungkin tidak perlu menggunakan amplop pembelian aset penuh.

Krona Norwegia, sementara itu, tertekan oleh harga-harga komoditas yang lebih rendah, merosot 1,1 persen terhadap dolar menjadi 8,4940.