Dolar AS Menguat Terkerek Permintaan Mata Uang 'Safe-Haven'

Ezra Sihite
·Bacaan 3 menit

VIVADolar AS menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah aksi jual tajam di pasar ekuitas memicu sentimen penghindaran risiko, meningkatkan permintaan untuk mata uang safe-haven, sementara yen Jepang merosot ke level terendah sejak pertengahan November karena investor menyeimbangkan kembali portofolio untuk akhir bulan.

Greenback sebagian besar diperdagangkan di kisaran sempit terhadap sekeranjang mata uang lainnya selama dua minggu terakhir, karena investor mengevaluasi apakah aksi jual yang mengirim mata uang itu anjlok hampir tujuh persen tahun lalu kemungkinan akan berlanjut.

Dolar sedikit berubah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada Jumat (29/1/2021) naik 0,13 persen menjadi 90,580. Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya telah menguat 1,53 persen dari level terendah tiga tahun di 89,206 yang dicapai pada 6 Januari.

"Orang-orang menunggu pendorong baru dan saya rasa kami belum mendapatkannya sampai bulan depan," kata Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, di New York.

Pertanyaannya adalah apakah koreksi dolar berlanjut atau berakhir, dan saya pikir berbagai prediksi masih akan keluar.

Data ketenagakerjaan untuk Januari yang dirilis Jumat depan (5/1/2021) adalah pendorong ekonomi utama berikutnya, sementara investor juga fokus pada stimulus fiskal.

Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat AS akan bergerak minggu depan atas rencana Presiden Joe Biden untuk memberikan bantuan COVID-19 kepada warga Amerika dan bisnis yang terhuyung-huyung dari pandemi, kata para pejabat tinggi Demokrat pada Kamis (28/1/2021).

Yen berkinerja buruk pada Jumat (29/1/2021) bahkan ketika selera risiko memburuk, mencapai level terendah dua bulan terhadap dolar dan level terendah hampir tiga tahun terhadap franc Swiss.

Analis mengaitkan langkah tersebut dengan beberapa faktor, termasuk imbal hasil dolar atas mata uang Jepang dan perombakan portofolio akhir bulan.

Pembuat kebijakan bank sentral Jepang (BoJ) membahas manfaat dari membiarkan imbal hasil jangka panjang bergerak lebih fleksibel di sekitar target bank, ringkasan pendapat pada pertemuan Januari mereka menunjukkan pada Jumat (29/1/2021) .

Beberapa langkah juga kemungkinan karena posisi jangka pendek yang besar terhadap dolar tertekan, kata Chandler. “Pasar agak rentan terhadap ini,” katanya.

Mata uang Jepang biasanya memperoleh tawaran safe-haven ketika sentimen risiko memburuk.

Dolar juga merosot ke level terendah tiga minggu terhadap yuan China di pasar luar negeri karena suku bunga jangka pendek China naik untuk hari kelima berturut-turut, melampaui batas atas koridor suku bunga bank sentral.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,2132 dolar AS dari 1,2131 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,3703 dolar AS dari 1,3740 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7641 dolar AS dari 0,7694 dolar AS.

Dolar AS dibeli 104,73 yen Jepang, lebih tinggi dari 104,23 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,8905 franc Swiss dari 0,8877 franc Swiss, dan naik menjadi 1,2802 dolar Kanada dari 1,2795 dolar Kanada.

Bitcoin juga melonjak ke level tertinggi dua minggu karena pergerakan investor ritel menumpuk di saham tertentu yang diperluas ke mata uang kripto.

Bitcoin didorong setelah kepala Tesla Inc Elon Musk menandai mata uang kripto dalam biografi Twitter-nya. Musk hanya menulis "#bitcoin" dalam biografinya di situs media sosial.

Bitcoin terakhir naik 2,2 persen menjadi 34.300 dolar AS, setelah sebelumnya mencapai 31.990 dolar AS.

“Bitcoin hilang di mania GameStop dan tweet Musk membawa mata uang kripto kembali ke pusat perhatian,” kata Analis Pasar Senior OANDA, Edward Moya. (Antara/Ant)