Dolar merosot ke dekat terendah 4 bulan, mata uang berisiko menguat

·Bacaan 3 menit

Dolar melayang di dekat posisi terendah empat bulan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena taruhan pada pemulihan ekonomi global terus mendukung mata uang yang dipandang lebih berisiko.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya bergerak di sekitar angka 90, turun 0,2 persen pada hari itu, sedikit di atas level terendah empat bulan pada Jumat (21/5/2021) di 89,646.

Sejak akhir Maret, greenback, yang dipandang sebagai mata uang safe-haven, terus melemah seiring dengan optimisme tentang pemulihan. Namun akhir-akhir ini penurunan tersebut tampaknya telah melambat karena para pedagang mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga AS ketika Federal Reserve (Fed) AS bereaksi terhadap tanda-tanda peningkatan inflasi.

"Pasar telah mulai memperkirakan Fed yang sedikit lebih hawkish ke depannya," tulis Kepala Strategi Mata Uang Global Brown Brothers Harriman, Win Thin, pada Senin (24/5/2021) pagi.

Baca juga: Harga emas naik 7,8 dolar, dipicu turunnya yield obligasi AS dan dolar

Data yang akan dirilis pada Jumat (28/5/2021), termasuk konsumsi pribadi dan angka inflasi AS, dapat menggerakkan pasar untuk mengantisipasi nada yang lebih hawkish dari pertemuan kebijakan Fed berikutnya pada 15-16 Juni. Tapi untuk saat ini, Thin berkata, "dolar berada di bawah tekanan moderat saat minggu ini dimulai."

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan turun menjadi 1,604 persen pada Senin (24/5/2021) dari 1,632 persen pada akhir Jumat (21/5/2021).

Karena pemulihan meningkat secara global, sekarang para ahli strategi mencoba untuk mengantisipasi seberapa cepat imbal hasil di negara lain akan meningkat dibandingkan kecepatan yang mungkin terjadi di Amerika Serikat.

Pedagang juga mengawasi kemajuan pada paket stimulus AS yang baru, setelah Gedung Putih mengurangi RUU infrastrukturnya menjadi 1,7 triliun dolar AS pada Jumat (21/5/2021), tetapi gagal mendapatkan dukungan Senat dari Partai Republik.

Baca juga: Harga minyak melambung 3 persen, setelah reda kekhawatiran ekspor Iran

Di antara mata uang yang menguat adalah euro, naik 0,3 persen menjadi 1,22 dolar AS. Mata uang tunggal telah naik sekitar 4,0 persen terhadap greenback sejak Maret karena Eropa telah bergerak untuk mengejar Amerika Serikat dalam memvaksinasi rakyatnya dan menghidupkan kembali ekonominya.

Mata uang kripto berbalik arah pada Senin (24/5/2021), merebut kembali nilainya yang hilang selama pertarungan penjualan akhir pekan yang dipicu oleh tanda-tanda lebih lanjut dari tindakan keras China di sektor yang sedang berkembang.

Bitcoin rebound sekitar 10 persen di pagi hari dan kemudian bertahan di sekitar 38.000 dolar AS, pulih dari akhir pekan yang sulit di mana mata uang digital itu turun sebanyak 17 persen menjadi 31.107 dolar AS pada Minggu (23/5/2021).

Baca juga: Dolar dekati terendah 3 bulan, tertekan prospek Fed yang "dovish"

Bitcoin telah melonjak hampir 30 persen sepanjang tahun ini, tetapi telah turun hampir setengah dari rekor tertinggi pada April di 64.895 dolar AS. Volatilitas telah merusak kasus penerimaan arus utamanya.

Katalis kemerosotan pada Minggu (23/5/2021) adalah bahwa "penambang" mata uang kripto, yang mencetak mata uang kripto dengan menggunakan komputer yang kuat untuk memecahkan teka-teki matematika yang kompleks, menghentikan operasi di China dalam menghadapi peningkatan pengawasan dari pihak berwenang.

Ether, mata uang kripto terbesar kedua, terangkat 16 persen menjadi 2.435 dolar AS, sekitar setengah dari level tertingginya dua minggu lalu.

Baca juga: Rupiah awal pekan ditutup stagnan, di tengah pelemahan dolar