Dolar stabil di awal sesi Asia karena investor menunggu risalah Fed

Dolar AS stabil di awal perdagangan Asia pada Rabu, karena investor meredam selera risiko mereka menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dapat memberikan petunjuk tentang prospek inflasi dan suku bunga.

The Fed pada Rabu akan merilis risalah dari pertemuan terbarunya, dengan investor mencari tanda-tanda diskusi seputar memoderasi laju kenaikan suku bunga.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terakhir naik 0,056 persen pada 107,130, setelah tergelincir 0,65 persen semalam.

Pergerakan semalam mencerminkan sentimen risiko yang lebih baik karena saham dan obligasi menguat didukung pendapatan perusahaan yang lebih baik dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih lambat dari Fed, kata Carol Kong, ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bulan ini bahwa sementara biaya pinjaman perlu dinaikkan lebih lanjut, bank sentral mungkin menaikkan suku bunga dengan kenaikan yang lebih kecil di waktu mendatang.

Bank sentral Selandia Baru menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin ke level tertinggi hampir 14 tahun di 4,25 persen pada Rabu.

Bank sentral mengatakan suku bunga acuan diperlukan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi lebih awal dari indikasi sebelumnya untuk menjinakkan inflasi. Bank juga meningkatkan proyeksi puncak untuk suku bunga menjadi 5,5 persen pada September 2023.

Kiwi naik 0,57 persen menjadi 0,618 dolar AS, sedangkan dolar Australia naik 0,06 persen pada 0,665 dolar AS.

Sementara itu, China memperketat pembatasan di beberapa kota akibat lonjakan kasus COVID-19. Kota Chengdu akan melakukan tes massal bagi warga selama lima hari berturut-turut.

"Pemberlakuan pembatasan baru dalam waktu dekat tidak diragukan lagi akan memiliki dampak ekonomi yang negatif, tetapi setidaknya untuk saat ini pasar tampaknya fokus pada fakta bahwa dalam jangka menengah China ingin secara bertahap bergerak menuju strategi hidup bersama COVID," kata Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang di National Australia Bank.

"Karena itu, kami pikir kemunduran sangat mungkin terjadi dalam proses ini, jadi kami harus memperkirakan lonjakan volatilitas pasar di sepanjang jalan."

Euro naik 0,03 persen pada 1,0305 dolar, setelah naik 0,6 persen semalam, sementara sterling terakhir diperdagangkan pada 1,1888 dolar atau menguat 0,04 persen.

Pasar uang kripto tetap tidak stabil, dengan bitcoin berayun antara kerugian dan keuntungan. Terakhir turun 0,21 persen pada 16.163 dolar AS.


Baca juga: Dolar tergelincir karena investor kembali memburu mata uang berisiko
Baca juga: Emas naik karena dolar melemah, hentikan penurunan 5-hari beruntun
Baca juga: Rubel pangkas kerugian awal, menjadi sekitar 61 terhadap dolar