Dolar tahan kenaikan, data lemah AS rusak sentimen, fokus PDB China

Kelik Dewanto
·Bacaan 2 menit

Dolar AS menahan kenaikan akhir pekan lalu di perdagangan Asia pada Senin pagi, karena melemahnya data ekonomi AS dan meningkatnya kasus virus corona membuat investor berhati-hati.

Terhadap sekeranjang mata uang, dolar melayang di sekitar tertinggi satu bulan di 90,887 yang dicapai pada awal perdagangan dan sentimen juga mendukung mata uang aman (safe-haven) yen terhadap mata uang utama lainnya.

Euro sedikit melemah menyentuh level terendah enam minggu di 1,2066 dolar dan dolar Australia yang sensitif terhadap risiko tergelincir 0,3 persen ke level terendah satu minggu di 0,7679 dolar.

Baca juga: WSJ: Janet Yellen sebut AS tidak mencari dolar yang lebih lemah

Perdagangan berombak dan bergerak moderat menjelang serangkaian data ekonomi China, termasuk angka PDB yang akan dirilis pagi ini, dengan PDB kuartal keempat diperkirakan akan menunjukkan kenaikan lebih lanjut dalam pertumbuhan menjadi 6,1 persen tahun-ke-tahun.

Penawaran safe-haven telah menambah dukungan untuk dolar sejak Demokrat memenangkan kendali Kongres AS dua minggu lalu, yang memicu lonjakan imbal hasil obligasi AS ketika investor memperkirakan lebih sedikit belenggu pada pinjaman-dan-belanjakan pemerintah.

Indeks dolar melonjak sekitar 1,9 persen sejak itu dan euro, yang melonjak pada 2020, telah merosot lebih dari 2,0 persen ketika dolar melambung bertepatan dengan melonjaknya kasus virus dan krisis politik di Italia yang telah menimbulkan keraguan pada pemulihan kawasan itu.

Sterling pada Senin pagi berada di level terendah satu minggu di 1,3567 dolar dan yen stabil di 103,83 per dolar, meskipun naik ke level tertinggi tiga minggu di 125,29 per euro. Dolar Selandia Baru turun 0,1 persen ke level terendah tiga minggu di 0,7117 dolar.

"Optimisme sedang ditantang karena kenyataan dari beberapa bulan yang sulit ada di depan kami," tulis analis ANZ dalam sebuah catatan kepada klien, dikutip dari Reuters. "Prospek konsumsi jangka pendek, pendorong utama pertumbuhan ekonomi, buruk."

Penjualan ritel AS turun untuk bulan ketiga berturut-turut pada Desember, data menunjukkan pada Jumat (15/1/2021), saat langkah-langkah baru untuk memperlambat penyebaran COVID-19 memicu hilangnya pekerjaan.

Baca juga: Data ritel dan penguncian tekan saham dan minyak, dolar menguat

Jumlah kematian akibat virus corona di seluruh dunia melampaui dua juta pada Jumat (15/1/2021) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan yang terburuk mungkin terjadi.

Kemudian, pada minggu ini, Presiden terpilih AS Joe Biden akan dilantik di Washington yang dijaga ketat dari risiko lebih banyak kekerasan massa, dengan investor juga mulai meragukan seberapa besar rencana stimulusnya dapat berhasil melewati Kongres.

Pilihan Biden untuk Menteri Keuangan, Janet Yellen, diperkirakan mengesampingkan pencarian dolar yang lebih lemah ketika bersaksi di Capital Hill pada Selasa (19/1/2021), Wall Street Journal melaporkan.

Baca juga: Saham Tokyo dibuka jatuh saat ambil untung setelah Wall Street melemah
Baca juga: Uni Eropa sambut usulan Biden untuk stimulus AS 1,9 triliun dolar