Dolar turun di Asia karena selera risiko membaik setelah risalah Fed

Dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya di sesi Asia pada Kamis sore, karena investor didorong oleh prospek laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat oleh Federal Reserve beralih ke aset-aset berisiko.

Risalah yang ditunggu-tunggu dari pertemuan Fed 1-2 November menunjukkan para pejabat sebagian besar puas bahwa mereka sekarang dapat bergerak dalam langkah-langkah yang lebih kecil.

"Saya pikir sekarang hampir pasti bahwa kita akan melihat FOMC memperlambat laju pengetatan mulai Desember," kata Carol Kong, ahli strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia (CBA).

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,14 persen pada 105,75, setelah meluncur 1,0 persen semalam.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar tiga perempat poin persentase bulan ini, untuk keempat kalinya berturut-turut dalam upaya menjinakkan inflasi yang sangat tinggi.

Tetapi data harga konsumen AS yang sedikit lebih dingin dari perkiraan telah memicu harapan akan laju kenaikan yang lebih moderat. Harapan itu telah membuat indeks dolar merosot 5,1 persen pada November, menempatkannya di jalur kinerja bulanan terburuk dalam 12 tahun.

Ahli strategi Citi mengatakan masih ada ketidakpastian besar tentang seberapa tinggi suku bunga akan naik, meskipun ada konsensus bahwa suku bunga akan naik lebih lambat.

Risalah tersebut juga menunjukkan perdebatan yang muncul di dalam Fed mengenai risiko bahwa pengetatan kebijakan yang cepat dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan. Pada saat yang sama, para pembuat kebijakan mengakui hanya ada sedikit kemajuan yang dapat dibuktikan pada inflasi dan bahwa suku bunga masih perlu dinaikkan.

Data pada Rabu (23/11/2022) menunjukkan aktivitas bisnis AS mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut pada November, dengan data pesanan baru turun ke level terendah dalam 2,5 tahun karena suku bunga yang lebih tinggi memperlambat permintaan.

Namun demikian, Kong dari CBA memperingatkan bahwa pasar terlalu optimis tentang kemungkinan segera berakhirnya siklus pengetatan dan mencatat masih ada dukungan besar untuk dolar AS karena kebijakan nol-COVID China.

Meningkatnya kasus virus corona telah menyebabkan kota-kota China memberlakukan lebih banyak pembatasan, meningkatkan kekhawatiran investor tentang ekonomi dan membatasi selera risiko. China melaporkan rekor jumlah infeksi pada Kamis.

Yuan menguat setelah media pemerintah China, mengutip pernyataan kabinet yang mengatakan bahwa Beijing akan menggunakan pemotongan tepat waktu dalam rasio persyaratan cadangan (RRR) bank, di samping alat kebijakan moneter lainnya, untuk menjaga likuiditas cukup memadai.

Yen Jepang adalah salah satu pemenang terkuat di antara mata uang utama terhadap dolar, naik 0,5 persen menjadi 138,88.

Euro naik 0,39 persen pada 1,0435 dolar, sementara sterling terakhir diperdagangkan pada 1,2090 dolar, naik 0,43 persen hari ini. Pound naik 1,4 persen semalam setelah data awal aktivitas ekonomi Inggris mengalahkan ekspektasi, meskipun masih menunjukkan bahwa kontraksi sedang berlangsung.

Dolar Australia naik 0,25 persen menjadi 0,675 dolar AS, sedangkan kiwi naik 0,17 persen menjadi 0,6255 dolar AS.

Pasar AS akan ditutup pada Kamis untuk hari libur Thanksgiving dan likuiditas kemungkinan akan lebih tipis dari biasanya.

Baca juga: Dolar tergelincir di Asia, sentimen risiko membaik setelah risalah Fed

Baca juga: Dolar turun tertekan risalah pertemuan Fed dan data ekonomi AS