Dolar turun tipis seiring naiknya mata uang sensitif terhadap risiko

·Bacaan 2 menit

Nilai tukar dolar AS sedikit melemah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena berkurangnya kekhawatiran dampak dari varian virus corona Omicron mendukung kurs mata uang berisiko naik seperti dolar Australia dan pound Inggris.

Menjelang liburan dan long weekend yang diperpanjang di Amerika Serikat, sebagian besar mata uang utama bertahan pada kisaran sempit.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, turun tipis 0,08 persen pada 96,031. Indeks tetap mendekati level tertinggi 16 bulan yang dicapai akhir bulan lalu.

"Kekhawatiran tentang tingkat keparahan varian Omicron memudar, yang mendorong permintaan untuk mata uang dan kelas aset yang lebih berisiko sementara menekan tempat berlindung yang aman (safe haven) seperti dolar AS, yen Jepang, dan obligasi pemerintah," George Vessey, ahli strategi Western Union Business Solutions, mengatakan dalam sebuah catatan.

Berita optimis tentang vaksin dan rawat inap terkait Omicron juga membantu meningkatkan selera investor terhadap risiko, mengangkat saham dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi.

Dua pembuat vaksin mengatakan suntikan mereka terlindungi dari Omicron ketika data Inggris menunjukkan varian tersebut dapat menyebabkan kasus rumah sakit yang lebih sedikit secara proporsional daripada varian Delta, meskipun pakar kesehatan masyarakat memperingatkan pertempuran melawan COVID-19 masih jauh dari selesai.

Secara terpisah, data pada Kamis (23/12/2021) menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran bertahan di bawah level pra-pandemi pekan lalu, sementara belanja konsumen meningkat dengan kuat, menempatkan ekonomi di jalur untuk berakhir dengan kuat hingga 2021.

Tetapi tekanan harga terus meningkat, dengan ukuran inflasi yang mendasarinya mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak 1989 pada November.

Dolar Australia naik 0,44 persen menjadi 0,7247 dolar AS. Sterling menguat 0,46 persen terhadap dolar, diuntungkan dari pergerakan yang lebih tinggi dalam imbal hasil obligasi pemerintah jangka pendek Inggris serta laporan yang meyakinkan tentang varian Omicron.

Di tempat lain, lira Turki memperpanjang rebound mengejutkannya minggu ini, melonjak lagi 4,0 persen pada 11,5 per dolar AS, setelah diperdagangkan ke terlemah 18,4 pada Senin (20/12/2021).

Keuntungan besar pada lira datang setelah Presiden Tayyip Erdogan mengatakan pemerintah dan bank sentral akan menjamin beberapa deposito mata uang lokal terhadap kerugian depresiasi valas.

Baca juga: Saham Asia naik, dolar melemah, pasar putuskan dampak Omicron terbatas
Baca juga: Dolar AS tergelincir, sementara euro dan dolar Australia menguat
Baca juga: Dolar AS turun di Asia, Omicron buat pasar uang bergejolak tak wajar

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel