Dompet Dhuafa dan Kimia Farma luncurkan Bidan Inspiratif Untuk Negeri

Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan PT. Kimia farma Tbk menginisiasi program bertajuk Bidan Inspiratif Untuk Negeri (BIUN). Kolaborasi ini tercetus dari kesamaan fokus program antara dua pihak dalam upaya penurunan stunting melalui intervensi berbasis inovasi program dan pemberdayaan bidan di lokus-lokus stunting.

"Semoga dengan program Bidan Inspiratif ini dapat menekan laju stunting di Indonesia. Serta harapan dengan kolaborasi bersama berbagai elemen khususnya Dompet Dhuafa, diharapkan dapat efektif dalam perencanaan dan pengembangan program ini", ujar Direktur Sumber Daya Manusia PT Kimia Farma TBK Dharma Syahputra di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: BKKBN: Bidan berperan strategis dalam penanganan stunting

Pada 2020, PT Kimia Farma Tbk menginiasiasi program Bidan Inspiratif, sejalan dengan itu Dompet Dhuafa di tahun 2021 meluncurkan program Bidan Untuk Negeri (BUN) yang berlokasi di 4 wilayah pelosok di provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara barat, Aceh dan Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika Rahmad Riyadi mengatakan, "Kerjasama Dompet Dhuafa dengan Kimia Farma diharapkan dapat mendorong semangat bidan inspiratif dalam memberikan layanan kesehatan khususnya dalam mengatasi stunting di wilayah pelosok Indonesia. Tidak hanya itu, kerjasama ini dapat memperkuat pondasi bagi para bidan inspiratif dalam mengemban tugasnya".

Lewat kolaborasi ini, para bidan dari seluruh Indonesia akan didukung untuk mewujudkan ide-ide cemerlang idealisme pengabdian kepada masyarakat terutama dalam menjaga 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Program BIUN akan digelar di 13 Provinsi se-Indonesia. Lokasi yang ditentukan merupakan wilayah kerja Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa yang dipilih berdasarkan rekomendasi Dinas Kesehatan, BKKBN, IBI dan stakeholder setempat. BIUN mengutamakan inovasi program penjagaan 1.000 HPK serta program yang memiliki dampak besar.

Masalah gizi pada bayi usia di bawah lima tahun (Balita) masih menjadi masalah kesehatan yang tergolong tinggi di indonesia, salah satunya masalah stunting (kekerdilan).

Stunting adalah kondisi di mana anak tinggi di bawah standar menurut usia anak. Stunting ini merupakan salah satu indikator gagal tumbuh pada Balita akibat kekurangan asupan gizi kronis pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni dari anak masih dalam bentuk janin hingga berusia 23 bulan.

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi Balita stunting sebesar 24,4 persen pada 2021. Data tersebut menggambarkan, hampir seperempat Balita di Indonesia mengalami stunting pada tahun lalu. Pemerintah menargetkan stunting di Indonesia turun menjadi hanya 14 persen pada 2024.

Baca juga: BKKBN: Bidan berperan dalam penurunan stunting

Baca juga: BKKBN-Kimia Farma-Dompet Dhuafa bangun program bidan inspiratif

Baca juga: Epidemiolog: Peran bidan sangat krusial dalam pelayanan kesehatan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel