Donald Trump Jadi Tokoh dengan 88 Juta Followers Pertama di Twitter yang Kena Suspend Permanen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Donald Trump menjadi tokoh dengan 88 juta followers pertama di Twitter yang akunnya dibekukan (suspend) secara permanen.

Menurut data Social Bakers, akun @realDonaldTrump telah memiliki 88.776.124 followers dengan twit berjumlah 59.558.

Dia menjadi tokoh politik dunia yang memiliki followers terbanyak kedua di Twitter. Sementara posisi pertama ditempati Barack Obama yang memiliki lebih dari 127 juta followers.

Masih menurut data Social Bakers, terhitung dari akhir Juli 2020 hinggga saat ini, secara kolektif followers Donald Trump bertambah sekitar 4 juta.

Di region AS, akun Donald Trump menduduki posisi keempat setelah Barack Obama, Justin Bieber (113 juta followers), dan Katy Perry (109 juta followers).

Selain itu, jumlah followers Donald Trump sedikit lebih banyak daripada Taylor Swift (88.021.005).

Twitter Akhirnya Bekukan Akun Donald Trump secara Permanen

Presiden Donald Trump berpartisipasi dalam upacara peletakan karangan bunga peringatan Hari Veteran di Pemakaman Nasional Arlington di Arlington, Virginia, Rabu (11/11/2020). Ini adalah penampilan resmi di publik pertama untuk Trump sejak Pilpres AS beberapa hari lalu. (AP Photo/Patrick Semansky)
Presiden Donald Trump berpartisipasi dalam upacara peletakan karangan bunga peringatan Hari Veteran di Pemakaman Nasional Arlington di Arlington, Virginia, Rabu (11/11/2020). Ini adalah penampilan resmi di publik pertama untuk Trump sejak Pilpres AS beberapa hari lalu. (AP Photo/Patrick Semansky)

Twitter akhirnya membekukan akun Donald Trump secara permanen setelah melakukan peninjauan terhadap twit-twit yang diterbitkan di akun @realDonaldTrump.

"Kami telah menangguhkan akun Donald Trump secara permanen karena risiko hasutan lebih lanjut untuk melakukan kekerasan," tutur perusahaan lewat akun Twitter Safety (@TwitterSafety), Sabtu (9/1/2021) pukul 6.21 WIB.

Dalam konteks peristiwa yang berlangsung pekan ini, perusahaan sebelumnya telah menegaskan pada hari Rabu (7/1/2021) bahwa pelanggaran tambahan terhadap Peraturan Twitter berpotensi mengakibatkan tindakan pembekuan permanen.

"Kerangka kerja kepentingan publik kami ada untuk memungkinkan publik mendengar dari pejabat terpilih dan pemimpin dunia secara langsung. Itu dibangun di atas prinsip bahwa rakyat memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban di tempat terbuka," kata Twitter.

Menurut Twitter, akun-akun pejabat terpilih dan pemimpin dunia, yang termasuk akun Donald Trump, tetap harus digunakan sesuai dengan peraturan perusahaan dan tidak dapat dimanfaatkan Twitter untuk menghasut kekerasan.

"Kami akan terus bersikap transparan seputar kebijakan kami dan penegakannya," ujar Twitter.

Penyebab

Ada dua twit yang menyebabkan pembekuan akun Donald Trump. Kedua twit yang terbit pada 8 Januari 2021 itu, berbunyi:

“75.000.000 Patriot Amerika yang memilih saya, AMERIKA PERTAMA [AMERICA FIRST], dan MEMBUAT AMERIKA HEBAT LAGI [MAKE AMERICA GREAT AGAIN], akan memiliki SUARA RAKSASA [GIANT VOICE] di masa depan. Mereka tidak akan tidak dihormati atau diperlakukan tidak adil dengan cara atau bentuk apa pun!!!”

“Kepada semua yang bertanya, saya tidak akan menghadiri pelantikan pada 20 Januari.”

Twitter menjelaskan, karena ketegangan yang sedang berlangsung di Amerika Serikat, dan adanya peningkatan percakapan global terkait dengan orang-orang yang menyerbu Capitol dengan kekerasan pada 6 Januari 2021, kedua twit ini harus dibaca dalam konteks peristiwa lebih luas di AS dan ujaran presiden di twit itu dapat ditanggapi oleh audiens yang berbeda, termasuk untuk menghasut kekerasan.

"Setelah menilai bahasa dalam twit ini terhadap kebijakan Glorifikasi Kekerasan, kami telah menetapkan bahwa twit ini melanggar kebijakan Glorifikasi Kekerasan dan pengguna @realDonaldTrump harus segera ditangguhkan secara permanen dari layanan," kata Twitter.

Penilaian

Perusahaan memutuskan bahwa kedua twit itu sangat mungkin untuk mendorong dan menginspirasi orang untuk meniru tindakan kriminal yang terjadi di Capitol pada 6 Januari 2021.

Penentuan ini didasarkan pada sejumlah faktor, antara lain:

  • Pernyataan Presiden Trump bahwa dia tidak akan menghadiri pelantikan diterima oleh sejumlah pendukungnya sebagai konfirmasi lebih lanjut bahwa hasil pemilihan tidak sah.

  • Twit kedua juga dapat berfungsi sebagai dorongan bagi mereka yang berpotensi mempertimbangkan tindakan kekerasan bahwa Pelantikan akan menjadi target "aman" karena Trump tidak akan hadir.

  • Penggunaan kata “Patriot Amerika” untuk menggambarkan beberapa pendukungnya juga diartikan sebagai dukungan bagi mereka yang melakukan tindakan kekerasan di US Capitol.

  • Pernyataan Trump dapat ditafsirkan bahwa dia tidak berencana untuk memfasilitasi "peralihan [kekuasaan] yang tertib" dan sebaliknya dia berencana untuk terus mendukung, memberdayakan, dan melindungi mereka yang yakin dia memenangkan pemilu.

  • Rencana untuk protes bersenjata di masa depan sudah mulai berkembang baik di dalam dan di luar Twitter.