Donald Trump Menepis Ada Virus Corona COVID-19 di Gedung Putih

Liputan6.com, Jakarta - Presiden AS Donald Trump menepis tentang kemungkinan penyebaran Corona COVID-19 di Gedung Putih. Padahal, valet Presiden Donald Trump dan sekretaris Wapres Mike Pence sudah positif terkena Virus Corona jenis baru itu.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (12/5/2020), Trump berbicara kepada wartawan yang menggunakan masker di Gedung Putih Rose Garden.

Ia membahas tentang Wakil Presiden AS Mike Pence yang berada di karantina setelah sekretaris persnya dinyatakan positif, meskipun ia tidak mengatakannya secara langsung.

Katie Miller, juru bicara Pence, yang mengepalai gugus tugas Virus Corona Gedung Putih, dites positif pada pekan lalu bersama dengan pelayan pribadi Donald Trump.

Tiga anggota gugus tugas telah ada di karantina. Seperti ahli penyakit menular Anthony Fauci, Robert Redfield, direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dan Stephen Hahn, kepala Food and Drug Administration.

"Saya akan mengatakan bahwa dia (Pence) dan saya akan membahas hal itu," kata Trump.

"Selama periode karantina ini, kita mungkin akan berbicara," kata Donald Trump. "Aku belum melihatnya sejak itu."

"Kita bisa bicara di telepon," katanya tentang Pence.

"Dia dites negatif, jadi kita harus mengerti itu, tapi dia berhubungan dengan banyak orang. Tidak ada kerentanan apapun."

Upaya Terpilih Kembali

Presiden AS Donald Trump dalam briefing melawan Virus Corona (COVID-19) di Gedung Putih. Dok: Gedung Putih

Trump mencoba mengabarkan tentang wabah virus pada bagian lain, di mana presiden bekerja di luar kantor.

"Kami ingin agar supaya kami bisa tetap mempertahankannya. Kami memiliki banyak orang yang masuk dan keluar (Gedung Putih)."

Trump, yang mati-matian berusaha untuk mengembalikan ekonomi ingin kembali terpilih pada November mendatang.

Ia mengatakan AS membuat "langkah luar biasa" dalam meningkatkan jumlah dan pengujian virus "naik sangat cepat."

Dia mengatakan itu penting untuk membuat negara itu dibuka kembali.

"Rakyat ingin negara kita terbuka. Beberapa negara bisa bergerak lebih cepat," katanya.

Simak video pilihan berikut: