Doni Monardo Ingatkan Potensi Ancaman Gempa dan Tsunami di Sumbar

Hardani Triyoga, Andri Mardiansyah (Padang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, mengingatkan bahaya potensi gempa dan tsunami di Sumatera Barat. Menurut dia, masyarakat Ranah Minang mesti bisa mempersiapkan diri terhadap ancaman bencana. Doni mencontohkan peristiwa tsunami di Aceh pada 16 tahun lalu.

"Ini potensi. Kita sudah lihat Aceh. Gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh 26 Desember 2004 lalu, ternyata bukanlah yang pertama. Telah terjadi berkali-kali gempa dan tsunami seperti yang terjadi pada 26 Desember 2004. Demikian juga di wilayah Pesisir Pantai Barat Sumatera Barat," kata Doni di Padang, Kamis 15 April 2021.

Menurut Doni, pertemuan subduksi di wilayah Selatan atau sebelah Barat Mentawai masih memiliki potensi dan energi yang belum lepas. Kalau di Nias, sudah pernah lepas. Menurut dia, antara Mentawai sampai dengan Enggano Bengkulu, ini adalah potensi yang masih peluang.

Namun, ia mengingatkan agar masyarakat sejak sekarang bisa mitigasi gempa. Hal ini menurutnya sebagai salah satu cara yang terbaik mengantisipasi.

"Kita tidak boleh panik, harus tetap tenang karena ini (gempa, tsunami) adalah peristiwa alam. Gempa dan tsunami itu, pasti akan terjadi sebagaimana yang saya katakan tadi di Aceh. Tapi, kapan waktunya, tidak ada satupun yang bisa menentukan kapan waktu yang tepat," ujar Doni.

Bagi dia, cara terbaik dengan melakukan mitigasi bencana seperti terus melakukan pelatihan

"Maka dari itu, kita harus siapkan diri. Masyarakat sudah terbiasa terutama di wilayah Padang untuk berlatih. Pelatihan-pelatihan, tidak boleh berhenti. Kesiapsiagaan, juga harus selalu dilakukan," lanjut Doni.

Doni menyampaikan pentingnya masyarakat terutama yang tinggal di zona rawan gempa bisa tetap berpedoman kepada cara-cara tradisional. Ia bilang cara ini sebagai alarm tanda bahaya. Misalnya, dengan cara meletakkan susunan kaleng bekas di dekat tempat tidur dan cara lain.

Menurutnya, ketika kejadian di malam hari, teknologi tidak sepenuhnya bisa menjamin informasi kepada masyarakat.

"Cara tradisional harus dilakukan. Menempatkan kaleng-kaleng bekas di dekat tempat istirahat atau tempat tidur. Ketika ada gempa, kalengnya jatuh, itu peringatan kita untuk mengambil langkah-langkah yang bisa dilakukan," ujar Doni.

Kemudian, cara lain menurutnya dengan mencari konstruksi bangunan yang tinggi. "Jika tidak ada shelter, di pinggir pantai, maka harus ada solusi mencari bangunan yang lebih tinggi atau pepohonan yang ada di sekitar rumah," sebut Doni.