Dorong Industri Game Lokal, IDGX Hadir Kembali pada 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Gelaran IDGX (Indonesia Game Developer Exchange) kembali digelar pada 2021. Dalam gelaran kali ini, IDGX mencakup sejumlah rangkaian kegiatan, seperti IGDX Academy, IGDX Business, dan IGDX Conference.

Sebagai informasi, IGDX pertama kali dilakukan pada 2019. Namun karena pandemi, program ini tidak diadakan tahun lalu dan baru sekarang digelar kembali.

"Industri game di Indonesia semakin hari mengalami peningkatan, baik produsen maupun penggunanya. Nah, di pandemi ini, peningkatan penggunanya sangat tajam dan kami ingin mendorong industri game ini ikut tumbuh, sehingga bisa menangkap potensi market di Indonesia," tutur Direktur Jenderal Aptika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan dalam konferensi pers, Rabu (28/7/2021).

Menurut Semuel, IDGX merupakan program pembangunan kemampuan sumber daya manusia dalam industri game. Jadi, para pelaku industri game ini akan mendapatkan pelatihan untuk pengembangan kemampuannya.

"Ini modelnya sama dengan Startup Studio, tapi khusus untuk game," ujar Semuel. Adapun Startup Studio merupakan program lanjutan Kementerian Kominfo untuk para founder startup mengikuti sesi mentoring secara intensif dari para ahli.

Adapun program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kominfo dengan Asosiasi Game Indonesia (AGI). Presiden AGI Cipto Adiguno menuturkan, program IDGX ini tidak ditujukan untuk pengembang pemula atau amatir.

"Berbeda dari program lain di AGI, IGDX tidak menargetkan pengembang pemula atau amatir. Jadi, bukan menumbuhkan talenta baru dari bawa, tapi meningkatkan talent yang sudah ada untuk dapat bersaing di pasar global," tutur Cipto.

Ajang IDGX tahun ini akan digelar pada Agustus hingga November 2021. Pendaftaran peserta IGDX sendiri sudah dibuka sejak 10 Juli dan berakhir pada 31 Juli 2021.

Dalam program tahun ini, IDGX ditargetkan akan diikuti oleh 15 studio game dengan level advance dan 10 studio game dengan level intermediate.

Kegiatan IDGX 2021

Ilustrasi/copyright pixabay.com
Ilustrasi/copyright pixabay.com

Seperti disebutkan di atas, IGDX tahun ini dibagi dalam beberapa kegiatan. Untuk IGDX Academy, Cipto mengatakan, kegiatan ini hadir untuk membantu capacity building para pengembang untuk tidak hanya membuat game yang lebih baik, tapi juga bisnisnya.

Beberapa mentor yang akan berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah Co-founder, Execution Labs Jason Della Rocca, Co-founder Mighty Bear Games Benjamin Chevalier, dan CEO Toge Productions Kris Antoni.

Lalu IGDX Business merupakan kegiatan business matchmaking yang memungkinkan pengembang Indonesia bertemu dengan publisher, studio game globla, pemerintah, game developer asing, termasuk investor secara online.

Untuk kegiatan ini, AGI dan Kementerian Kominfo bekerja sama dengan platform Meet to Match sebagai platform matchmaking yang stabil dan terpercaya di industri game, sekaligus memiliki network perusahaan game global.

Terakhir, ada IGDX Conference yang menghadirkan seminar maupun workshop secara hybrid selama dua hari.

Kegiatan ini akan menghadirkan pembicara dari tokoh ternama di industri game dalam negeri maupun internasional, termasuk perwakilan sektor industri lainnya.

"Pembicara mewakili Indonesia, Asia Tenggara, dan negara-negara yang industri gamenya sudah maju," ujar Cipto melanjutkan. Sejumlah pembicara yang disebut tertarik adalah Kedutaan Besar Polandia dan Prancis.

Selain itu, ada pula pembicara dari stakeholder industri game, seperti Google, Microsoft, Sony, dan Nintendo. Program ini juga menjadi tempat berbagi perspektif dan sudut pandang mengenai masa depan industri game di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Terbuka untuk Beragam Kategori Game

Cipto mengatakan, IGDX tidak membatasi genre atau kategori game yang ingin bergabung dalam program ini. Jadi, tidak tertutup kemungkinan ada beragam kategori game yang berpartipasi dalam program ini

"Untuk IGDX, kami tidak membatasi diri pada game untuk hiburan, tapi juga game edukasi atau game sebagai alat perusahaan meningatkan talenta internal atau mendeteksi kepribadian karyawannya," ujar Cipto.

Bahkan, ia mencontohkan flight simulator yang mungkin terbilang sangat spesifik dapat ikut berpartipasi.

"Jadi, kami tidak berusaha menutup diri untuk kategori hiburan saja, tapi semua produk digital yang bersifat interaktif bisa dikategorikan sebagai game," tuturnya menutup pernyataan.

(Dam/Isk)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel