Dorong Penggunaan GeNose, Pengamat: Murah dan Tidak Menyakitkan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan GeNose C19 sebagai salah satu syarat perjalanan moda transportasi menuai komentar sejumlah kalangan. GeNose disebut-sebut memunculkan 'negatif palsu' dan tidak akurat sebagai alat skrining Covid-19.

Kendati, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, penggunaan GeNose C19 masih menjadi pilihan karena harganya murah dan tidak menyakitkan dalam proses pemeriksaan atau tes.

"GeNose murah dan tidak menyakitkan. Masalah akurasi ini bukan masalah transportasi, namun masalah kesehatan," kata Djoko saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (25/6/2021).

Harga rapid test, swab antigen dan swab PCR yang mahal dinilai tidak bisa diaplikasikan untuk moda transportasi massal khususnya di kereta api, karena kebanyakan, harga tiket kereta justru lebih murah dari harga rapid, swab antigen dan swab PCR.

Oleh karenanya, penggunaan GeNose C19 ini dinilai tidak akan membebani penumpang.

Sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta agar penggunaan GeNose dihapus karena memiliki akurasi yang rendah sehingga menimbulkan lonjakan kasus Covid-19.

Senada, Ahli Biologi Molekuler Ahmad Utomo juga menyarankan agar pemerintah menggunakan alat skrining Covid-19 yang baku dan diakui secara internasional, seperti rapid test, swab antigen dan swab PCR.

Teknologi GeNose C19 Diperbarui, Bisa Deteksi Covid-19 Varian Baru

Petugas memberikan kantong kepada warga untuk menjalani tes GeNose C19 usai terjaring razia penggunaan masker di Kelurahan Sudimara Barat, Kota Tangerang, Kamis (27/5/2021). Tes tersebut untuk menekan penyebaran corona COVID-19 di wilayah tersebut. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas memberikan kantong kepada warga untuk menjalani tes GeNose C19 usai terjaring razia penggunaan masker di Kelurahan Sudimara Barat, Kota Tangerang, Kamis (27/5/2021). Tes tersebut untuk menekan penyebaran corona COVID-19 di wilayah tersebut. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Teknologi GeNoSe C19, alat pendeteksi virus Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) kini semakin canggih. Tim inventor GeNoSe C19 dr. Dian Kesumapramudya Nurputra M.Sc, Ph.D, SpA. dan Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si menyampaikan adanya pembaharuan pada teknologi GeNose C19.

Hal ini disampaikan dalam konferensi pers “GeNose C19 Update tentang Kecerdasan Buatan” Minggu (23/5).

Dian menjelaskan terdapat beberapa pembaharuan GeNose C19. Pertama, pembaharuan terkait perangkat lunak kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Versi sebelumnya dari AI GeNose C19 adalah 1.3.2 build 5 yang sekarang berkembang menjadi versi 1.3.2 build 6.

AI Versi 1.3.2 build 6 diperbarui dari sisi interface yang lebih ramah bagi operator alat (user friendly), basis data yang lebih besar, dan fitur pembacaan kurva secara manual.

“Pembaharuan ini untuk menanggapi berbagai macam permintaan dari dokter, tenaga kesehatan, dan pengguna yang ingin mempelajari bentuk-bentuk kurva hasil pembacaan alat GeNose C19 dan menunjukkan bagaimana sebenarnya kurva pasien yang positif dan negatif,” tutur Dian sebagaimana dikutip Liputa6 dari situs resmi UGM.ac.id.

Dengan adanya update AI tersebut, akurasi alat pun meningkat sehingga GeNose C19 bisa lebih baik melayani orang-orang yang menjalani tes skrining COVID-19.

Selain itu pembaruan kecerdasan buatan pada teknologi GeNose C19 juga bisa untuk mengantisipasi varian-varian baru virus SARS-CoV-2 yang muncul.

Akses basis data varian baru virus didapatkan dari rumah sakit yang merawat pasien dengan varian baru, sehingga peneliti mampu mendapatkan sampel napas untuk memperbarui kecerdasan buatan GeNose C19.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel