Dorong Peningkatan Konsumsi Protein Hewani Kementan Serap Satu Juta Telur dari Peternak Rakyat

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan menggelar aksi peduli dengan menyerap satu juta telur dari peternak rakyat. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah membantu penyerapan telur di tingkat peternak sekaligus upaya peningkatan konsumsi protein hewani.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo alias SYL menyampaikan, kegiatan penyerapan satu juta telur ini juga merupakan tindak lanjut dari hasil koordinasi dengan Kemenko Perekonomian yang kemudian mengimbau aksi solidaritas bersama untuk peternak rakyat.

"Telur yang dibeli oleh Kementan diperuntukkan untuk konsumsi pegawai Kementan, yayasan panti asuhan dan yatim piatu," ujar Menteri SYL, Senin (1/11).

Ia mengungkapkan, penyerapan telur oleh Kementan dari peternak ayam ras petelur ditargetkan sebanyak satu juta butir atau setara 62,5 ton dengan harga beli 19 ribu per kilogram. Pada tahap pertama telah diserap sebanyak 30 ton dan sisanya sebanyak 32.5 ton akan diserap pada tahap selanjutnya. Lokasi sentra penyerapan telur terdiri dari Provinsi Lampung, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Dukungan semua pihak dalam melakukan aksi solidaritas sangat dibutuhkan sebagai bentuk kepedulian terhadap peternak. Semoga upaya kepedulian ini dapat memicu pemulihan stabilitas perunggasan telur ayam ras," papar Mentan SYL.

SYL mengatakan, harga telur ayam ras memang dipengaruhi oleh volume supply di kandang dan daya serap pelaku pasar. Sementara, volume supply di kandang sangat tergantung dari struktur umur induk dan sebaran produksi puncak tidak merata setiap bulan.

Selain itu, pola konsumsi juga bersifat musiman (seasonal) terutama di daerah-daerah sentra produksi dan menyesuaikan HBKN serta kegiatan hajatan masyarakat berkaitan dengan penanggalan Jawa.

"Produksi telur yang tinggi di daerah sentra mempengaruhi peternak dan pelaku pasar mencari potensi pasar di daerah yang memiliki tren harga stabil dan lebih tinggi," ucapnya.

(Foto:Dok.Kementerian Pertanian RI)
(Foto:Dok.Kementerian Pertanian RI)

Akibat mekanisme pasar dan distribusi telur antar daerah, harga telur ayam ras fluktuatif atau berubah-ubah. Terlebih, adanya kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama pandemi covid-19 pengaruhi konsumsi telur ayam ras mengalami penurunan.

Padahal, potensi produksi telur ayam ras pada bulan Oktober sebanyak 426.241 ton dan kebutuhannya 377.744 ton. Jumlah ini berpotensi membuat surplus sebanyak 48.497 ton. Pada tahun 2021 sendiri produksi telur ayam diperkirakan mencapai 5,52 juta ton dengan tingkat konsumsi sebesar 5,48 juta ton.

"Maka kami pemerintah turun tangan untuk berupaya mengatasi harga telur dengan melakukan penyerapan 1 juta telur. Agar mengembalikan stabilitas harga," jelas Mentan SYL.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah menyampaikan, pada saat harga telur di bawah harga acuan maka pemerintah akan bergerak untuk menyerap komoditas tersebut. Penyerapan telur dari peternak rakyat akan dilakukan terus oleh Kementan hingga harga membaik.

"Hal yang terpenting, kita dapat berupaya mengurangi efek fluktuasi harga yang menekan harga telur dan merugikan peternak," jelas Nasrullah.

Berdasarkan laporan Petugas Informasi Pasar (PIP) harga telur ayam ras ditingkat peternak di Pulau Jawa per 13 Oktober 2021 tercatat rata rata Rp15.943/kg, harga terendah terjadi di Provinsi Jawa Timur rata-rata Rp13.333/kg dan di Jawa Barat Rp16.719/kg.

Menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 13 Oktober 2021, rata-rata harga jual telur di tingkat konsumen mencapai Rp23.100 per kilogram secara nasional. Namun harga telur di sejumlah wilayah terpantau berada di bawah rata-rata nasional.

Misalnya, di DKI Jakarta harga telur kini Rp19.000 per kilogram, Jawa Barat Rp18.900 per kilogram dan Jawa Timur Rp18.050 per kilogram. Selain itu, di Lampung kini harga telur Rp20.350 per kilogram, Jambi Rp19.850 per kilogram, dan Sulawesi Barat Rp18.150 per kilogram.

"Apabila dibandingkan dengan Permendag Nomor 7 Tahun 2020 yang menyebutkan harga acuan penjualan telur di tingkat konsumen dipatok Rp24.000 per kilogram, maka beberapa daerah berada di bawah harga acuan," tutur dia.

Pada kesempatan yang sama juga turut ditandatangani nota kesepahaman antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan PT Biogene Plantation. Nota kesepahaman ini dalam hal kerjasama untuk penyerapan telur dalam rangka upaya stabilisasi pasokan dan harga pembelian di tingkat peternak dengan skala UMKM.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel