Dorong UMKM Indonesia Go Digital, AWS dan Midtrans Luncurkan Pojok Usaha

·Bacaan 4 menit
Ilustrasi UMKM (dok.pexels)

Liputan6.com, Jakarta - Amazon Web Service (AWS) bersama penyedia payment gateway Midtrans baru-baru ini meluncurkan sebuah platform yang memampukan bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk dapat mengadopsi teknologi dan layanan cloud AWS dengan mudah.

Adalah platform tersebut diberi nama Pojok Usaha, dan digelar sejak bulan Mei lalu. Baik AWS dan Midtrans menargetkan platform ini dapat menjaring lebih dari 10 ribu UMKM Indonesia sehingga mencapai pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan efisiensi serta sumber pemasukkan baru berbekal teknologi.

Salah satu kisah sukses UMKM yang mengoptimalkan platform ini adalah Mutia Karya dan Livina Global Teknologi. Dalam sesi diskusi secara virtual, Gunawan Susanto, Country Manager, Indonesia, AWS, mengaku bangga dengan kedua UMKM ini.

“Kami bangga dengan cerita sukses Mutia Karya dan Livina Global Teknologi, karena layanan, infrastruktur, dan dukungan yang dihadirkan AWS mampu menjawab tantangan isu-isu sosio-ekonomi, sekarang dan di masa mendatang."

Dia juga mengatakan, "Berawal dari bisnis konvensional, kini keduanya telah bertransformasi menjadi usaha yang inovatif dan dapat menginspirasi dan memberdayakan sesama pelaku UMKM lainnya."

AWS sendiri mengakui bukan perusahaan yang paling tahu tentang UMKM di Indonesia. "Kami selalu mencari tahu dan berusaha menjangkau sebanyak mungkin UMKM untuk dapat mengadopsi teknologi digital secepatnya," katanya.

Salah satu cara yang dilakukan AWS adalah dengan bekerja sama dengan platform pihak ketiga, seperti pojo usaha, decoding, dan HIPMI.

“Kami tidak bisa menjangkau semua pelaku UMKM seorang diri. Maka, melalui kerja sama dengan pemberdaya ekosistem seperti Mutia Karya dan Livina Global Teknologi, niscaya kami akan menciptakan efek domino yang positif bagi seluruh masyarakat Indonesia.”

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kisah Mutia Karya

Seperti warung sembako pada umumnya, Mutia Karya milik Jumi Sanoprika menjual beras dan berbagai kebutuhan sehari-hari di Medan.

Bertolak dari asal-usul sederhana, Mutia Karya mengembangkan platform yang memampukan sesama pelaku warung terhubung dengan ekosistem supplier hingga logistik yang lebih luas bernama Mikrolet.

“Pertama kali ‘tahu’ dunia digital itu ketika saya bergabung dengan GoStore, layanan pembuat situs web e-commerce milik Gojek,” kata Jumi.

Berawal dari situ, Jumi yang tidak memiliki background pengetahuan tentang IT pun mengikuti beberapa seri webinar, salah satunya mengenai Pojok Usaha dan bergabung ke dalam platform Pojok Usaha.

Dengan platform bernama Mikrolet yang tengah dikembangkan Jumi dan tim Mutia Karya di atas infrastruktur teknologi AWS, para pelaku warung kini bisa langsung terhubung dengan pabrikan atau kilang secara langsung.

Dari sisi teknologi, Mutia Karya menggunakan virtual private server (VPS) Amazon Lightsail, dan Amazon Quicksight, dan Amazon WorkMail.

Luncurkan Aplikasi Mostore

Kisah lain datang dari UMKM asal Lampung yang bergerak di bidang jasa konsultasi IT umum sejak tahun 2012. Tahun ini, Livina Global Teknologi mengembangkan sayap bisnisnya dengan meluncurkan aplikasi yang dinamakan Mostore.

Aplikasi ini memampukan para pelaku UMKM yang bergerak di bidang makanan dan minuman, kerajinan tangan, dan banyak lagi untuk mempromosikan produk-produk mereka di berbagai platform digital dengan mudah.

Saat ini sudah ada sekitar 200 UMKM yang bergabung di aplikasi Mostore. “Kendala UMKM adopsi digital adalah dari segi infrastruktur, dari internet hingga listrik yang bisa tiba-tiba padam tanpa pemberitahuan,” kata Ryan Firdaus, IT Manager Livina Global Teknologi.

Dia menambahkan, Kendala ini menciptakan masalah downtime yang tidak diinginkan dan tentunya sangat mengganggu berjalannya bisnis.

Selain itu, kebanyakan UMKM masih awam di bidang digital marketing. “Mereka hanya mengetahui cara beriklan dan berjualan melalui WhatsApp dan Facebook.”

Ryan juga menjelaskan, “Banyak dari UMKM mengalami kesulitan dari segi bisnis, seperti tata kelola produk, pengelolaan persediaan barang/stok, dan pemasaran.”

Dalam paparannya, dia mengatakan aplikasi Mostore ini dibuat menggunakan Amazon Elastic Cloud Compute atau EC2. Mostore juga menggunakan Amazon Simple Storage Service (S3), khususnya S3 Bucket untuk penyimpanan gambar.

“Satu UMKM saja bisa memiliki lebih dari 100 produk yang ditawarkan. Keadaan ini tentu menuntut penggunaan teknologi penyimpanan yang andal.”

Selain itu, Livina Global Teknologi juga menggunakan Amazon Relational Data Service (RDS) agar tata kelola data semakin baik.

AWS Ingin Patahkan Stigma Digitalisasi

Lebih lanjut, Gunawan juga ingin mematahkan asumsi tentang digitalisasi itu mahal dan terbatas pada mereka yang memiliki modal besar.

Ia menegaskan, AWS percaya semua bisnis dari kelas enterprise besar, startup, UMKM, hingga institusi pemerintahan bisa memanfaatkan teknologi cloud untuk berinovasi.

Semangat tersebut pula yang mendorong AWS untuk berkolaborasi dengan Midtrans untuk meluncurkan platform Pojok Usaha yang memang dirancang khusus bagi pelaku UMKM.

“Cerita-cerita seperti ini semakin memperkokoh komitmen kami bahwa AWS ada untuk Indonesia, dan AWS pun ada untuk komunitas-komunitas terkecil, termasuk pelaku UMKM,” katanya.

Rencananya, AWS akan memantapkan komitmennya di Indonesia pada penghujung tahun 2021/awal tahun 2022 dengan infrastruktur Jakarta Region.

Dengan Region terbaru ini, setiap pelaku usaha dan pemangku kepentingan bisa menjalankan aplikasi mereka secara lokal, melayani pelanggan dan pengguna di Indonesia dan seluruh Asia dengan latensi yang lebih rendah, dan mengakses seluruh teknologi berbasis cloud yang ditawarkan AWS.

(Ysl/Isk)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel