Dosen ITS Bikin Peta Pengembangan Desa Tertinggal

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tiga dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui program pengabdian bagi masyarakat membuat peta pengembangan desa tertinggal. Peta tersebut dibuat untuk pembangunan berkelanjutan.

Dr Eko Yuli Handoko menuturkan, dirinya bersama Ir Yuwono MT dan Karina Pradinea Tucunan ST MEng menciptakan sebuah peta sebagai dasar pembangunan dan pengembangan desa dengan tajuk "Pemetaan Desa Menggunakan Metode Partisipatif untuk Pembangunan Desa dan Kawasan (Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur)".

"Desa Ngepung mengalami kendala kekurangan air bersih dan infrastruktur jalan yang kurang memadai. Selain itu juga masih minimnya lampu penerangan di jalan utama desa," ujar dia, seperti dikutip dari Antara, ditulis Sabtu, (14/11/2020).

Dirinya bersama dua orang rekannya memberikan output berupa peta desa dan peta potensi sebagai solusi dari kendala tersebut.

Peta tersebut dapat dimanfaatkan sebagai perencanaan tata ruang desa, referensi pembangunan infrastruktur jalan maupun saluran irigasi air dengan memanfaatkan informasi topografis.

"Di samping itu, peta ini berfungsi sebagai acuan validasi batas wilayah desa," ujar dia.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Enam Urgensi Pembuatan Peta Desa

Institut Teknologi Surabaya (ITS) membuka pendaftaran mahasiswa melalui Jalur Mandiri
Institut Teknologi Surabaya (ITS) membuka pendaftaran mahasiswa melalui Jalur Mandiri

Adapun enam urgensi pembuatan peta desa, yaitu untuk mengetahui posisi desa terhadap kawasan di sekitarnya, melihat potensi desa, menyelesaikan sengketa batas wilayah, inventarisasi aset desa dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

"Yang terakhir adalah membantu perencanaan pembangunan infrastruktur desa, serta sebagai dasar informasi untuk integrasi spasial pembangunan wilayah," ujar dosen Departemen Teknik Geomatika tersebut.

Dalam pembuatan peta, dosen yang ahli di bidang Geodesi Satelit Kelautan tersebut menggunakan metode partisipatif, yakni, metode di mana publik ikut terlibat dalam proses pengumpulan data dan analisis terkait isu di sekitarnya melalui identifikasi dan penggambaran fitur geospasial dengan menggunakan piranti dan teknologi pemetaan.

"Metode ini dapat memberi ruang yang lebar antara pemerintah dan masyarakat untuk berkomunikasi," katanya.

Menurut Lektor Laboratorium Geodesi dan Surveying ITS tersebut, terdapat dua elemen penting dalam pemetaan ini.

Yang pertama adalah menyediakan peta untuk desa yang tidak memiliki foto udara, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan desa mengkomunikasikan potensi dan permasalahan yang ada melalui peta desa yang telah dibuat oleh tim pengabdi.

Kedua, lanjut Eko, setelah peta tersebut jadi, dengan menggunakan metode Rapid Rural Appraisal, dirinya bersama tim melakukan pemetaan potensi masalah beserta usulan program-program desa secara bersama dengan masyarakat.

Meski sempat terkendala oleh pandemi COVID-19, program pengabdian yang dimulai sejak awal 2020 ini berjalan lancar dan akan berakhir di bulan Desember mendatang. Sebelumnya, Eko bersama timnya telah melakukan pengabdian serupa di Desa Kandangan, Gresik.

"Namun, saat itu kami belum menerapkan metode partisipatif sehingga masyarakat masih kurang berperan," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini