"Double trouble": Temu kembar Sri Lanka terganggu membludaknya peserta

Oleh Dinuka Liyanawatte dan B. Channa Kumara

COLOMBO (Reuters) - Ribuan anak kembar dipasangkan dua-dua untuk memasuki sebuah stadion di ibukota Sri Lanka pada Senin - begitu banyak sampai-sampai para pejabat kesulitan menghitung mereka tepat waktu untuk membuktikan bahwa mereka telah menyelenggarakan pertemuan untuk pemecahan rekor.

Antrian besar tercipta di tempat terbuka di Kolombo saat orang-orang bersaudara kembar menunggu akta kelahiran mereka diperiksa. Banyak yang terlihat pergi sebelum mereka masuk hitungan.

Rekor terakhir ditetapkan di Taiwan pada 1999, ketika 3.961 pasangan kembar, 37 pasangan kembar tiga dan empat pasangan kembar empat berkumpul di luar Balai Kota Taipei.

"Penghitungan masih berlangsung. Kami akan menyerahkan penghitungan terakhir dan dokumentasi kepada komite Guinness World Record dan saya yakin kami akan diberitahu secara tertulis bahwa kami sudah menciptakan rekor," kata Upuli Gamage, penyelenggara acara ini bersama dengan kembarannya Chamali, kepada orang banyak.

Belum ada komentar langsung dari organisasi Guinness mengenai apakah acara tersebut sudah memenuhi syarat telah mencetak rekor Guinness.

Banyak dari kembar-kembar bersaudara itu -termasuk anak-anak, pensiunan dan petugas kepolisian- telah melewatkan perjalanan berjam-jam untuk menghadiri acara tersebut, yang dihadiri perdana menteri Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa, sebagai tamu kehormatan.

"Menarik sekali," kata Raheen Usman, pemuda 19 tahun dari Kolombo, yang ada di sana bersama saudara kembarnya Farheen.

"Saya mendapatkan banyak teman baru, sekarang semua teman saya kembar."

Upaya pemecahan rekor ini diikuti oleh konser yang dilakukan secara eksklusif oleh musisi kembar, termasuk orkestra yang beranggotakan 80 orang.

Kelompok kampanye Sri Lanka Kembar mengaku telah mengorganisir acara ini untuk meningkatkan kehidupan kembar dua, kembar tiga dan kembar empat yang kurang mampu. Keluarga miskin sering kesulitan mengatasi banyaknya kelahiran, tambah kelompok ini.

(Laporan Dinuka Liyanawatte dan B. Channa Kumara di Kolombo, ditulis oleh Alasdair Pal; Disunting oleh Andrew Heavens)