DPD minta pemerintah tingkatkan penelitian logam tanah jarang

·Bacaan 1 menit

Ketua DPD LaNyalla Mahmud Mattalitti meminta pemerintah meningkatkan penelitian dan eksplorasi terkait keberadaan komoditas logam tanah jarang atau rare earth element di Indonesia.

"Kami mendorong pemerintah untuk melakukan penelitian lebih mendalam karena kita masih minim penelitian tentang logam tanah jarang ini," ujarnya dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Kamis.

LaNyalla mengatakan sumber daya logam tanah jarang kini banyak dicari untuk digunakan sebagai salah satu komponen berbagai produk, antara lain baterai, telepon seluler, komputer, dan industri elektronika.

Baca juga: Wakil Ketua DPD berharap Badan Pangan solusi pembangunan pertanian

Logam itu juga berguna juga untuk material pembuatan pembangkit listrik energi baru terbarukan berbasis matahari dan angin, serta bahan baku industri pertahanan hingga kendaraan listrik.

Menurutnya, Indonesia akan sangat diuntungkan jika ikut mengembangkan potensi logam tersebut. Prospek di masa depan akan bagus dalam menunjang pengembangan teknologi tinggi dan teknologi alternatif.

"Pemerintah sudah saatnya juga membuat road map industri pertambangan logam tanah jarang ini sehingga peta eksplorasi, eksploitasi, dan terkhusus target investasi dapat dipetakan prioritasnya," kata LaNyalla.

Baca juga: Ketua DPD RI minta metode distribusi vaksin ke daerah diperbaiki

Berdasarkan buku 'Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia' yang dibuat Badan Geologi Kementerian ESDM pada 2019, sumber daya logam tanah jarang yang berhasil diteliti banyak dijumpai pada lokasi kaya sumber daya timah, seperti Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan selatan Kalimantan Barat.

Selain itu juga terdapat di beberapa wilayah seperti Parmonangan, Sumatera Utara; Ketapang, Kalimantan Barat; Taan, Sulawesi Barat; dan Banggai, Sulawesi Tengah.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel