DPR Desak Evaluasi Kinerja Dirjen Bea Cukai

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Yani mendesak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengevaluasi kinerja Direktur Jenderal (Dirjen) Bea Cukai dan jajarannya terkait dengan maraknya penyelundupan narkoba yang diduga melibatkan pegawainya.

"Perlu segera ada evaluasi terhadap kinerja Dirjen Bea Cukai dan jajarannya," kata anggota Komisi III Bidang Hukum DPR RI Ahmad Yani di Jakarta, Jumat.

Politikus asal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu mengatakan jika diperlukan ada pergantian pada pimpinan Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Yani beralasan oknum pegawai Bea Cukai diduga terlibat beberapa kasus penyelundupan yang menjadi perhatian publik. Misalnya, meloloskan limbah bahan berbahaya beracun (B3), penyelundupan 351 kilogram sabu-sabu melalui Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok.

Terakhir, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap basah Kepala Subbagian Bea dan Cukai Bandara Internasional Soekarno Hatta, Wahono, terkait dengan dugaan pemberian sejumlah uang dari seorang WNA asal Amerika Serikat bernama Andrew.

"Ini menandakan kinerja Bea Cukai gagal melakukan reformasi sumber daya manusianya," ujar Yani.

Yani menegaskan bahwa pimpinan Dirjen Bea Cukai harus bertanggung jawab terhadap kinerja jajarannya yang diduga terlibat beberapa kasus penyelundupan.

Anggota Komisi III dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Syarifudin Sudding, mengatakan ada dugaan kasus penyelundupan sudah menjadi sindikat yang dilakukan oknum Bea Cukai.

Sementara itu, penyidik Polda Metro Jaya sedang mendalami kemungkinan adanya peningkatan tersangka terhadap 16 petugas Pelabuhan Tanjung Priok, termasuk pegawai Karantina Perikanan, Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai (KPUBC), serta petugas gudang, terkait dengan penyelundupan 351 kilogram sabu-sabu.

"Indikasinya ada kesalahan standar operasional prosedur dalam pemeriksaan paket barang yang berisi narkoba itu," kata Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Nugroho Aji.

Saat ini, ke-16 orang pegawai yang bertugas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara tersebut, masih berstatus saksi. Namun, tidak menutup kemungkinan di antara mereka menjadi tersangka.

Ke-16 orang saksi itu, yakni petugas KPUBC Tanjung Priok berinisial JHS (pemeriksa barang), TB (pemeriksa dokumen), BA, KS, TS, MR, SM, JN, dan JH (petugas mengurus dokumen).

Selanjutnya, dua orang pegawai Balai Karantina Perikanan Pelabuhan Tanjung Priok berinisial EN dan YA dan lima orang petugas gudang berinisial ZR, UM, MN, RW, dan SR.

Sebelumnya, petugas Polda Metro Jaya menggagalkan peredaran sabu-sabu seberat 351 kg dan menangkap lima tersangka berinisial AK, DR, MW alias A, dan seorang warga Malaysia, EWH alias J, serta impotirnya, Ptr pada beberapa lokasi di Jakarta dan sekitarnya.

Narkoba senilai Rp70 miliar itu diselundupkan dari China melalui Malaysia dan tiba di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok, Jakarta Utara melalui jalur laut.

Sejauh ini, penyidik telah memeriksa petugas pemeriksa dokumen KPUBC Tanjung Priok, Joy Aryanto, Budi Sulistyo, Tri Baroto (pemeriksa dokumen), dan Hende (petugas karantina) yang mengeluarkan surat barang.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.