DPR: Generasi milenial jangan malu jadi petani

Ahmad Buchori
·Bacaan 2 menit

Anggota Komisi IV DPR RI Endang Setyawati Thohari menyatakan, generasi milenial atau kalangan muda di dalam negeri jangan sampai merasa malu menjadi petani karena saat ini perlu sekali adanya regenerasi profesi petani nasional.

"Anak muda atau kaum milenial ini harus mau dan jangan malu menjadi petani, karena bertani merupakan pekerjaan yang mulia yang tentunya memiliki potensi yang bagus ke depan," kata Endang Setyawati Thohari dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Endang menegaskan, sektor pertanian terbuka bagi siapa pun, terutama bagi anak muda.

Untuk itu, ujar dia, pihaknya juga mengajak anak muda untuk menjadi petani milenial di Tanah Air.

Apalagi, ia meyakini bahwa petani dengan kemampuan dan wawasan tentang pertanian yang baik akan mendukung terwujudnya cita-cita kedaulatan pangan di dalam negeri.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan beberapa hal penting yang bisa menjadi pegangan bagi petani milenial, sebagai acuan dalam membangun pertanian masa depan.

Ia mengungkapkan, anak muda harus membuat rencana jangka panjang yang jelas sebagai modal dasar dalam melangkah, sehingga petani muda tidak bisa berdiam diri tanpa memikirkan inovasi.

"Planningnya jelas dan harus terus perkuat. Jelas artinya budi dayanya tidak kabur. Pemasarannya sudah dikonsepkan dan pemasarannya sudah dipikirkan," kata Syahrul.

Dirinya juga menambahkan, petani milenial juga harus memiliki atensi dan berpikir keras untuk meraih kesuksesan sehingga anak muda tidak boleh menyerah bila satu kali gagal.

Sebelumnya, Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Puji Sumedi mendorong milenial mengembangkan pertanian berkelanjutan lewat pendekatan ekowisata sehingga pertanian menjadi bagian dari ekowisata.

"Ada pendekatan lain yaitu bagaimana kemudian mereka bisa bergerak dari sisi ekowisata sehingga pertanian menjadi bagian dari ekowisata," kata Puji dalam diskusi virtual tentang tantangan petani milenial.

Ia mengatakan, usaha-usaha mendorong semakin banyak petani muda lewat pendekatan berbeda itu telah dicoba dilakukan oleh KEHATI di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengenalkan prosesnya kepada kaum muda dari hulu yaitu pertanian sampai ke hilir yaitu pelatihan menjadi barista atau membangun ekowisata.

Pendekatan berbeda itu juga untuk menghindari pengalihan fungsi lahan yang mulai ditinggalkan karena semakin sedikit pemuda yang bekerja sebagai petani, katanya.

Baca juga: Mentan sampaikan lima pesan khusus untuk petani milenial di Jombang

Baca juga: Bank BJB siapkan dana KUR Rp1,1 triliun untuk petani milenial

Baca juga: Jabar siapkan 40 hektare lahan untuk program petani milenial

Baca juga: KEHATI: Peran petani milenial penting untuk lestarikan pangan lokal