DPR: Kebijakan harga gas signifikan tingkatkan produktivitas industri

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Ketua Komisi VII DPR RI Alex Noerdin menyatakan bahwa kebijakan harga gas yang ditetapkan sebesar 6 dolar AS per MMBTU untuk sejumlah industri tertentu dinilai menghasilkan dampak yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas beragam industri.

"Manfaatnya (kebijakan harga gas) cukup signifikan dengan peningkatan produktivitas industri tersebut," kata Alex Noerdin dalam rilis di Jakarta, Kamis.

Alex Noerdin telah memimpin tim kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke Sidoarjo, Jawa Timur, tepatnya ke PT Ispat Indo yang merupakan produsen baja dan pelaku industri yang sudah menikmati pasokan gas dengan harga 6 dolar AS per MMBTU sejak 2020 lalu untuk proses produksi baja mereka.

Ia mengemukakan hasil penjelasan direksi PT Ispat Indo menyebutkan bahwa kebijakan tersebut sangat bermanfaat dan cukup signifikan dengan peningkatan produksi perusahaan tersebut.

Dengan demikian, Alex menilai kebijakan tersebut sangat tepat untuk menggiatkan pelaku industri domestik khususnya untuk memulihkan kondisi perekonomian nasional akibat dari dampak pandemi.

Untuk itu, ujar dia, kebijakan tersebut juga perlu didukung untuk terus dilanjutkan setidaknya hingga tahun 2024 mendatang.

Kebijakan harga gas khusus itu tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 89 K/10/MEM/2020 tentang Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri. Dalam regulasi itu disebutkan tujuh sektor industri yang memperoleh gas dengan harga khusus 6 dolar AS per MMBTU, yaitu industri pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca dan sarung tangan karet. Berdasarkan aturan tersebut disebutkan bahwa skema harga ini akan berlangsung dari tahun 2020-2024.

Sebelumnya, Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi menyebutkan bahwa harga gas kompetitif mampu menurunkan ongkos produksi pupuk nasional hingga sekitar 16 persen, karena gas merupakan komponen dominan dalam pembuatan pupuk urea.

“Gas itu komponennya 74-78 persen. Jadi, setiap penurunan, katakanlah biasanya orang membeli gas 8 dolar AS per millions british thermal units (MMBTu), turun jadi 6 dolar AS per MMBTU, artinya berkurang 26 persen. Itu 16 persen bisa turun cost nya, jadi artinya, dampaknya cukup besar,” kata Rahmad.

Rahmad menyampaikan kendati pelaksanaan penurunan harga gas dimulai pada 2020, namun Pupuk Kaltim sudah memperoleh harga gas 6 dolar AS dari waktu ke waktu.

Menurut Rahmad, harga gas kompetitif sangat dibutuhkan industri pupuk nasional karena pada akhirnya mampu bersaing dengan produk asing.

“Tentu kita tidak bisa kompetitif dibandingkan produk asing jika harga gasnya di atas 6 dolar AS. Bahayanya adalah kalau barang asing itu masuk. Karena hal itu ada kaitannya dengan ketahanan pangan,” ungkap Rahmad.

Baca juga: Kadin minta industri manufaktur optimalkan subsidi gas 6 dolar/MMBTU
Baca juga: Kemenperin: Penurunan harga gas dongkrak utilisasi industri kaca
Baca juga: Harga gas industri berkinerja rendah dinilai layak dievaluasi