DPR Minta BPR Evaluasi Tingkat Suku Bunga Kredit

PLASADANA.COM - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Harry Azhar Azis meminta, industri BPR untuk mengevaluasi tingkat suku bunga yang begitu tinggi dari penyaluran kredit BPR. Dalam catatannya, secara rata-rata tingkat suku bunga kredit BPR mencapai 20-22 persen.

Menurutnya, tingkat suku bunga yang tinggi tersebut secara tidak langsung telah memberikan beban yang berat bagi masyarakat. Apalagi, mayoritas debitur BPR adalah masyarakat menengah ke bawah.

"Tidak ada kata maklum atas bunga tinggi, sekalipun dengan alasan cost of fund," ujar Harry di Jakarta, Senin (26/8).

Lebih lanjut dia menuturkan, persepsi yang berkembang selama ini bahwa kehadiran BPR berfungsi untuk melawan jaringan rentenir yang ada di pedesaan tidak dapat terus dipertahankan. Sebab, kata dia, ketika bank umum berhasil menambah jaringan infrastruktur melalui program branchless banking maka daya saing BPR akan semakin tergerus.

"Bagi saya semua institusi bisa ada dan tidak ada. Sasaran akhir sebuah lembaga adalah kesejahteraan masyarakat. Jadi, BPR kalau memberatkan rakyat, maaf saja," cetus Harry.

Menanggapi kritik yang dilontarkan Harry, Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), Joko Suyanto mengatakan, pihaknya memiliki perhatian yang sama dalam persoalaan suku bunga BPR. Bahkan, dia mengaku, dalam beberapa bulan belakangan pihaknya tengah melakukan kajian-kajian mengenai strategi memodernisasi BPR agar bisa lebih efisien dan semakin dipercaya masyarakat.

"Ini kita jadikan refleksi agar upaya memodernisasi BPR menjadi lebih efisien dapat segera tercapai," tandas Joko.

Penulis: Heru Budhiarto