DPR Panggil TGIPF Pekan Depan, Minta Penjelasan Hasil Investigasi Tragedi Kanjuruhan

Merdeka.com - Merdeka.com - Komisi IX DPR akan mengundang Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan. TGIPF akan diminta DPR menjelaskan hasil temuan, rekomendasi dan langkah-langkah dilakukan pemerintah terkait tragedi berdarah yang memakan korban 135 jiwa tersebut.

"Jadi agenda kita hari Senin, insyaAllah, itu mengundang kawan-kawan TGIPF untuk memberikan penjelasan tentang hasil temuan, rekomendasi dan kemudian langkah-langkah yang akan dilakukan," kata Wakil ketua Komisi X DPR, Dede Yusuf Macan Effendi, kepada wartawan di Senayan, Jakarta, Kamis (3/11).

Kemudian pada Selasa (8/11) Komisi IX DPR RI akan memanggil para suporter sepak bola untuk mendengarkan aspirasi dan harapan setelah tragedi Kanjuruhan.

"Mungkin mereka juga punya gambaran terkait pelaksanaan persepakbolaan itu nantinya seperti apa. Nah inti dari ini semua, kami memberikan atensi yang sangat besar," ujar dia.

DPR Harap Rekomenasi TGIPF Tak Hanya Sekedar Berkas

Dia berharap agar rekomendasi yang diberikan TGIPF tragedi Kanjuruhan tidak hanya sekedar berkas. Namun juga diimplementasikan dengan baik.

Namun Dede mengatakan, hal tersebut harus menunggu sikap dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebab rekomendasi tersebut diserahkan langsung kepada presiden.

"Beda kalau rekomendasi itu kepada kami, kita akan tanggapi. Jadi rekomendasi ini, TGIPF dibentuk oleh presiden untuk mencari temuan-temuan dan kemudian memberikan rekomendasi, siapa yang akan melaksanakannya, pasti presiden jadi kita tunggu langkah presiden dalam konteks ini," imbuh Dede Yusuf.


Temuan TGIPF

Fakta yang terungkap dari CCTV milik aparat tentang korban yang berjatuhan dalam tragedi Kanjuruhan pada Sabtu (1/10) di Stadion Kanjuruhan Malang, ternyata lebih mengerikan dari yang beredar di media sosial.

Hal ini diungkapkan Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Mahfud MD ketika jumpa pers di Istana Negara, Jumat (14/10).

"Fakta yang kami temukan korban yang jatuh itu proses jatuhnya korban itu jauh lebih mengerikan dari yang beredar di televisi maupun di medsos, karena kami merekonstruksi dari 32 CCTV yang dimiliki oleh aparat," ungkap Mahfud.

Menurut Mahfud, efek dari semprotan gas air mata sangat mengerikan. Para suporter mati terinjak-injak karena saling berebut keluar stadion.

"Jadi itu lebih mengerikan dari sekadar semprot mati, semprot mati gitu ada yang saling gandengan untuk keluar bersama satu bisa keluar yang satu tertinggal yang di luar balik lagi untuk nolong temannya terinjak-injak mati," ucapnya.

Selain itu, ada pula suporter yang memberikan bantuan pernapasan. Mereka tidak sadar karena terkena gas air mata.

"Ada juga yang memberi bantuan pernapasan, karena satunya sudah tidak bisa bernapas. Kena semprot juga mati gitu itu ada di situ, lebih mengerikan daripada yang beredar, karena ini ada di CCTV," ungkapnya.

Suporter Cacat, Kritis hingga Meninggal

Mahfud mengungkapkan, gas air mata yang ditembakkan polisi membuat suporter panik, berhamburan dan berdesak-desakan menuju pintu keluar. Akibatnya, banyak suporter akhirnya meninggal, cacat dan kritis di rumah sakit.

"Yang mati dan cacat serta sekarang kritis dipastikan itu terjadi karena desak-desakan setelah ada gas air mata yang disemprotkan. Itu penyebabnya," kata Mahfud dalam jumpa pers.

Kemudian, kata Mahfud, BRIN juga dilibatkan untuk melihat tingkat bahaya zat kimia pada gas air mata tersebut. Meski demikian, dia memastikan, apa pun hasil pemeriksaan BRIN itu tidak mengubah kesimpulan TGIPF bahwa penyebab kematian dalam tragedi Kanjuruhan adalah gas air mata.

"Adapun peringkat keterbahayaan atau keberbahayaan atau racun pada gas itu sekarang sedang diperiksa oleh BRIN badan riset dan inovasi nasional, tetapi apapun hasil pemeriksaan dari BRIN itu tidak bisa menyoreng kesimpulan bahwa kematian massal itu terutama disebabkan oleh gas air mata," tegas Mahfud.

Penembakan Gas Air Mata Membabi Buta

TGIPF Tragedi Kanjuruhan mengungkapkan fakta bahwa aparat keamanan menembakkan gas air mata secara membabi buta di stadion Kanjuruhan. Tembakan dilepaskan ke arah lapangan, tribun, hingga luar lapangan.

Temuan itu dilihat dari bagian kesimpulan terkait aparat keamanan dalam dokumen kesimpulan dan rekomendasi TGIPF yang dilihat Jumat (14/10). Dokumen berbentuk PDF itu sudah dikonfirmasi oleh Anggota TGIPF Kanjuruhan Rhenald Kasali.

"Melakukan tembakan gas air mata secara membabi buta ke arah lapangan, tribun, hingga diluar lapangan," sebut poin e.

Dari hasil investigasi, TGIPF juga menemukan, bahwa aparat keamanan tidak pernah mendapatkan pembekalan tentang pelarangan penggunaan gas air mata dalam pertandingan sepak bola sesuai aturan FIFA.

Ada Suporter Provokatif

Dari sejumlah temuan, TGIPF menyatakan suporter pertandingan melakukan tindakan dan mengeluarkan ucapan-ucapan bersifat provokatif dan melawan petugas.

"Melakukan tindakan dan mengeluarkan ucapan-ucapan bersifat provokatif dan melawan petugas," bunyi poin nomor 6 bagian b dokumen investigasi TGIPF dikutip Jumat (14/10).

Selain itu, pada bagian a, suporter tidak mengetahui atau mengabaikan larangan dalam memasuki area lapangan pertandingan, termasuk larangan melempar flare ke dalam lapangan.

"Melakukan tindakan melawan petugas (melempar benda benda keras, dan melakukan pemukulan terhadap pemain cadangan Arema dan petugas)," tulis bagian c. [gil]