DPR Terus Pantau Penanganan Kenaikan Harga Kedelai

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron menyatakan DPR RI akan terus memantau perkembangan penanganan kenaikan harga kedelai yang dilakukan oleh pemerintah.

"Presiden Yudhoyono sudah memerintahkan Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian untuk segera mengatasi naiknya harga kedelai yang mempengaruhi produksi tempe dan tahu," kata Herman Khaeron melalui telepon selulernya, Rabu.

Menurut dia, kenaikan harga kedelai mempengaruhi produksi tahu dan tempe hingga menyebabkan sejumlah produsen mengecilkan ukuran produksinya dan ada yang mulai menghentikan produksinya.

Persoalan ini, kata dia, termasuk dalam katagori darurat apalagi menjelang Lebaran, sehingga harus ada penanganan yang cepat dan tepat.

"Menteri Pertanian harus memastikan betul apa dan dimana akar masalahnya. Perlu ada transparansi dari pemerintah mengenai hal ini," katanya.

Ketua Departemen Pertanian DPP Partai Demokrat ini menjelaskan, jika menyangkut stok kedelai perlu ada penambahan stok yang aman untuk jangka waktu tertentu, tapi jika kelangkaan kedelai karena ada permainan dari spekulan maka harus segera ditindak tegas.

Ia menambahkan, kebutuhan kedelai dalam negeri sekitar 2,25 juta ton per tiga bulan, sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 779 ribu ton per tiga bulan.

"Masih ada kekurangan sekitar 1,4 juta ton per tiga bulan yang dipenuhi melalui impor dari Amerika Serikat," tuturnya.

Dari informasi yang dihimpun, menurut dia, Amerika Serikat saat ini sedang mengalami musim kering sehingga ada penurunan produksi kedelai yang berdampak terjadi kenaikan harga.

"Ini yang menyebabkan harga kedelai di Indonesia menjadi tinggi," katanya.

Herman Khaeron yang sedang menjalani reses di daerah pemilihannya di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengatakan dari penelusuran nya di pasar tradisional Kanoman Cirebon, tahu dan tempe masih tersedia di pasar tapi harganya naik rata-rata sekitar 25 persen.

Bahkan, kata dia, ada produsen tahu dan tempe yang mengecilkan ukurannya agar tidak merugi.

"Para pedagang tahu dan tempe mengkhawatirkan berhentinya pasokan kedelai yang merupakan produk impor. Jika pasokan kedelai berhenti, maka produksi tahu dan tempe juga berhenti," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, mengusulkan kepada pemerintah, agar Indonesia bisa mewujudkan swasembada kedelai sehingga tidak tergantung pada produk impor.

Untuk mewujudkan swasembada kedelai, kata dia, pemerintah perlu membuat rencana strategis dan memperluas ladang kedelai. (tp)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.