DPRD Garut usulkan ART korban penganiayaan dapat PKH, BPNT, dan KIP

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, Jawa Barat Yudha Puja Turnawan mengusulkan asisten rumah tangga (ART) korban penganiayaan oleh majikannya untuk mendapatkan program bantuan PKH, BPNT, dan KIP yang selama ini belum ia dapatkan.

"Janda miskin seperti Ibu Rohimah (ART korban penganiayaan) ini berhak mendapatkan PKH, BPNT, dan anaknya seharusnya mendapatkan KIP," kata Yudha Puja Turnawan di Garut, Kamis.

Ia menuturkan, sejak adanya laporan seorang ART, Rohimah (29) warga Desa Pangeureunan, Kecamatan Limbangan menjadi korban penganiayaan oleh majikannya di Bandung Barat, pihaknya langsung bergerak mengecek kondisi keluarganya di Garut.

Baca juga: Wakil Ketua DPR minta pemerintah dampingi ART korban penganiayaan

Hasil pengecekan bersama pemerintah setempat, kata dia, kondisi keluarga Rohimah di Garut cukup memprihatinkan, rumahnya tidak layak huni dan belum masuk dalam program bantuan pemerintah, seperti PKH, BPNT, dan anaknya program KIP.

"Persoalan bantuan ini bisa diurus dan mudah, Dinsos Garut juga sudah datang dan akan memprosesnya," kata Yudha.

Ia mengatakan persoalan warga miskin itu sudah disampaikan ke perwakilan Kementerian Sosial yang juga mengunjungi kondisi rumah Rohimah di Limbangan, hasilnya mempersilakan untuk diusulkan ke Dinas Sosial Garut.

Yudha berharap tidak hanya mendapatkan program bantuan sosial, tapi pemerintah bisa membantu memperbaiki rumah Rohimah yang saat ini kondisinya dinilai sudah tidak layak huni.

"Kemarin ke Kemensos sudah diutarakan, dan Kemensos meminta Dinsos Garut mengusulkan, kalau DTKS (data terpadu kesejahteraan sosial) sudah masuk. Saya juga menaruh harapan besar agar Teh Rohimah bisa mendapatkan rumah layak huni dari Kemensos RI," katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Garut Aji Sukarmaji menyatakan pihakya sudah menyalurkan bantuan makanan untuk keluarga Rohimah yang menjadi korban penganiayaan oleh majikannya.

Terkait upaya mendapatkan program bantuan sosial dari pemerintah, kata dia, Rohimah sudah masuk DTKS, pihaknya akan membuat usulan ke Kemensos supaya masuk sebagai penerima manfaat PKH, BPNT, dan KIP.

Baca juga: Khofifah jenguk anak dari ART diduga korban penganiayaan oleh majikan

Baca juga: Polisi tahan pria yang telah aniaya ART selama sembilan tahun

"Untuk Kartu Indonesia Pintar nanti kami segera melalui TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan), di sini mengurus ke Dinas Pendidikan, karena untuk masuk KIP itu harus masuk ke data DTKS," katanya.

Sebelumnya, Rohimah perempuan asal Garut menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh majikannya di Ngamparah, Bandung Barat. Rohimah akhirnya berhasil diselamatkan oleh warga setempat.

Kasus penganiayaan ART oleh pasangan suami istri itu sudah ditangani oleh Kepolisian Resor Cimahi. Polisi sudah menetapkan dua tersangka, yakni inisial YK (29) dan LF (29) terkait kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang ART.

Akibat perbuatan tersangka itu, korban mengalami luka lebam di wajah, kedua lengan, dan punggungnya, sehingga harus mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.