DPRD Gorontalo belajar budidaya anggur lahan pesisir di Jakut

Aktivitas pertanian perkotaan (urban farming) di Jakarta Utara, tepatnya di Vezo Grapes Farm Sukapura, Cilincing, memikat rombongan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo untuk mempelajari budidaya anggur di lahan pesisir.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Moh Kris Wartabone di Jakarta Utara, Kamis, mengatakan, pihaknya terpikat kesuksesan budidaya anggur sejak menonton tayangan YouTube Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan saat memanen anggur di Vezo Grapes Farm.

Pertemuan informal yang menjadi ajang berbagi ilmu dan pengetahuan seputar budidaya anggur itu rencananya direkomendasikan kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk menerapkan budidaya anggur di lahan-lahan terbatas, seperti di Vezo Grapes Farm.

Karena di tempat itu, tanaman anggur bisa tumbuh subur dan menghasilkan buah melimpah meski ditanam di wilayah pesisir seperti Jakarta Utara (Jakut).

“Karakteristik Jakarta Utara dan Gorontalo mirip, wilayah pesisir dan cuacanya yang cukup panas," katanya.

Hasil pertemuan ini akan direkomendasikan kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk menggiatkan budidaya tanaman anggur dengan mempelajarinya dari Vezo Grapes Farm.

Penggiat budidaya tanaman anggur Vezo Grapes Farm, Tarto Blendot menyambut hangat kehadiran rombongan DPRD Provinsi Gorontalo untuk mempelajari budidaya tanaman anggur tersebut secara langsung di Vezo Grapes Farm.

Baca juga: Anies panen anggur di Cilincing
Baca juga: Jaktim targetkan panen raya anggur Oktober 2022

Dia mengapresiasi kehadiran rombongan DPRD Provinsi Gorontalo yang tertarik dengan budidaya tanaman anggur di sini. "Apalagi wilayah Gorontalo dan Jakarta Utara ini memiliki kesamaan, yakni sama-sama di wilayah pesisir,” kata Tarto Blendot.

Dalam pertemuan itu, dia menekankan penerapan "urban farming" kembali ke alam (back to nature) yang berarti seluruh kebutuhan budidaya tanaman anggur tidak menggunakan pupuk pabrik tapi mendaur ulang bahan organik.

"Seperti pada pupuk yang berasal dari limbah sayur, buah ataupun kotoran hewan," katanya.

Konsep tersebut telah dibuktikan dengan hasil budidaya tanaman anggur yang memuaskan serta dapat menekan biaya perawatan tanaman.

“Marilah kita bertani secara organik, kembali ke alam, dengan biaya sedemikian murah bahkan gratis dan hasilnya pun lebih optimal," katanya.

Konsep itu akan dibagikan kepada rombongan DPRD Provinsi Gorontalo, selain berbagi ilmu dan pengetahuan soal cara penanaman tanaman anggur yang baik sesuai dengan kondisi cuaca pesisir.