DPRD Saran ke Anies Pakai Hotel Melati Buat Isolasi Pasien COVID-19

Siti Ruqoyah, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sisa ketersediaan ruang isolasi dan juga ICU pada rumah sakit Rujukan COVID-19 di DKI Jakarta sisa 19 Persen. Terkait hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi Pemprov DKI.

Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, Iman Satria, mengatakan anak buah Anies Baswedan di Dinas Kesehatan Provinsi DKI harus segera mengambil langkah cepat mengatasi masalah ini. Diharapkan Pemprov DKI melalui Dinkes dapat menyediakan ruang rawat untuk mengantisipasi penuhnya ruang rawat.

"Tanggapan saya, pemprov ini bisa melihat dengan jeli supaya mengantisipasi ini. tentunya bagaimana? mesti diadakan bukan penelitian lagi, mesti diadakan tindakan yang konkrit. Dinkes ya mau saya ambil tindakan yang cepat. Umpamanya mempersiapkan hotel-hotel yang kelas tiga, ataupun melati yang bisa dipergunakan untuk gejala-gejala yang ringan, gitu loh," kata Iman, kepada wartawan.

Bagi pasien yang mengalami gejala ringan, bisa ditempatkan di hotel-hotel tersebut. Sedangkan pasien gejala berat, mesti dirawat di rumah sakit agar mendapatkan penanganan yang maksimal.

"Kategori sedang berat masuk RS, yang ringan jangan dimasukin ke RS gitu loh. Ini yang saya belum bisa melihat apakah itu sudah dijalankan oleh dinas atau belum, jangan hanya gejala ringan saja sedikit semuanya masuk RS yang sebenarnya bisa ditempatkan orang orang gejala berat," ujar Iman

Terkait adanya sejumlah pasien di RS Rujukan COVID-19 DKI yang berasal dari luar Jakarta, Iman mengatakan hal itu memang tidak bisa dihindari, sebab semua pasien harus segera ditolong tanpa adanya perbedaan. Namun, Pemprov DKI, kata Iman harus memiliki solusi agar jangan sampai kekurangan ruang rawat untuk warga Jakarta sendiri.

"Ketentuannya bantu aja gada masalah. Kita berurusan dengan nyawa, tapi memang harus ada juga kriteria-kriteria yang bisa diterapkan, andaikan memang bisa dibawa rujuk ke RS di mana dia berada, dalam keadaan dijamin oleh dokter bahwa dia tidak akan parah dalam perjalannya, kalau bisa dikembalikan ke daerah awal," ujar Iman

Tentunya, langkah tersebut juga harus dikoordinasikan dengan daerah tempat pasien COVID-19 tersebut berasal. "Dengan bantuan koordinasi, kita bicara umpama dia dari Bogor, atau dari mana, tapi bukan dilepaskan, dibantu koordinasi kalau memang gak ada dibantu, gitu." ujarnya