dr Reisa: Pakai Masker Selamatkan Nyawa

Lutfi Dwi Puji Astuti, Isra Berlian
·Bacaan 3 menit

VIVA – Memakai masker merupakan protokol kesehatan yang wajib diterapkan masyarakat, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar. Memakai masker sendiri memiliki peranan besar dalam pencegahan penyebaran virus corona.

Pentingnya menggunakan masker, ini kembali dikampanyekan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama dengan Gerakan Pakai Masker.

Ketua Umum, Gerakan Pakai Masker, Sigit Pramono menjelaskan bahwa Gerakan Pakai Masker yang didirikan sejak Juni 2020 lalu ini merupakan gerakan kemanusiaan yang dilakukan untuk membantu masyarakat dan pemerintah secara tidak langsung untuk mengampanyekan tentang pentingnya menggunakan masker di tengah pandemi COVID-19.

"Berdiri sejak Juni tahun lalu sudah lakukan penyuluhan pasar rakyat, pesantren, bersama kemenparekraf di destinasi wisata kita melakukan kegiatan penyuluhan. Gerakan kami ini kita bukan hanya bagi masker, kami justru fokus bagaimana mengedukasi masyarakat, penyuluhan agar sadar kewajibannya untuk memakai masker,menjaga jarak dan mencuci tangan," kata dia dalam acara Bincang Bincang Program CHSE dan Gerakan Pakai Masker seperti dikutip dari channel YouTube Kemenparekraf, Selasa 2 Februari 2021.

Di sisi lain, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19, dr. Reisa Brotoasmoro menjelaskan bahwa memakai menggunakan masker di tengah pandemi ini sangat penting sebagai upaya pencegahan dari penularan virus corona yang hingga saat ini tidak diketahui kapan akan berakhir.

"Memakai masker merupakan kunci utama karena kita tahu penularannya melalui droplet yang keluar dari mulut kita, hidung ketika kita berbicara, ngobrol, batuk, bersin," kata dia.

Tidak hanya itu saja, memakai masker dan diikuti dengan menjaga jarak serta mencuci tangan, kata Reisa dapat menyelamatkan nyawa dan juga perekonomian.

"Dari sisi kesehatan menyelamatkan nyawa karena dia tidak terinfeksi, dari sisi pekerjaan parekraf menyelamatkan dari sisi perekonomian, mungkin orang tidak terinfeksi tapi enggak bisa makan karena gak bisa kerja karena enggak tahu apa yang harus dilakukan di tengah-tengah itu. Jadi solusi kita bagaimana menerapkan perekonomian jalan, kita tetap hidup produktif dengan 3M," kata dia.

Reisa pun kembali mengingatkan, bahwa dimanapun berada, dimanapun bekerja, berkarya berinteraksi dengan orang lain, setiap orang minimal harus melakukan 3M. Mulai dengan memakai masker diikuti dengan menjaga jarak adn mencuci tangan.

"Menjaga jarak harus dilakukan karena memakai masker perlindungannya tidak 100 persen, maka harus ditambahkan dengan jaga jarak. Kontak tidak langsung kita pegang segala macam yang tanpa disadari bisa menularkan caranya dengan mencuci tangan kesannya simple sepele tapi ini harus diterapkan," jelas dia.

Upaya Kementerian Pariwisata di tengah Pandemi COVID-19

Di sisi lain, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno menjelaskan bahwa pihaknya telah menerbitkan Panduan Pelaksanaan Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) atau yang disebut sebagai Panduan Pelaksanaan Kesehatan, Kebersihan dan Keselamatan untuk sektor Hotel, Restoran dan Bioskop pada 2020 lalu.

Panduan ini sendiri merupakan panduan teknis operasional bagi pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam melangsungkan berbagai aktivitas ekonomi yang berangsur-angsur kembali bergerak pasca pandemi COVID-19.

"Program CHSHE bagian protokol kesehatan, yang ketat dan disiplin. Kepatuhan dari masyarakat pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dan masyarakat harus tingkatkan mengenai gerakan 3M," kata Sandiaga Uno.

Hingga saat ini dijelaskan Sandiaga Uno sudah ada hampir 6.000 pelaku wisata dan ekonomi kreatif yang telah tersertifikasi CHSE ini. Dan di tahun 2021 ini Menparekraf, menargetkan sebanyak 6.500.

"2021 target 6.500 tapi saya bilang harus ditingkatkan lagi caranya dengan rangkul pengusaha. Jika pemerintah 6.500 kalau dunia usaha ikut berpartisipasi sehingga sertifikasi yang dibantu akan jumlahnya meningkat. Karena ada 34 juta lapangan pekerjaan yang harus diselamatkan, dan ga bisa bilang harus tunggu COVID-19 ini," kata dia.

Di sisi lain, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, Nia Niscaya menjelaskan bahwa CHSE ini diketahui perlu dilakukan untuk membangun kepercayaan bahwa usaha yang dijalankan pelaku wisata dan ekonomi kreatif itu sudah menerapkan protokol kesehatan.

"Selain B2B yang kedua juga B2C CHSE ini membangun kepercayaan konsumen bahwa restoran itu sudah menerapkan protokol kesehatan di sana. Dan yang perlu diingat juga ini biayanya gratis," jelas Nia.

Seperti diketahui kasus COVID-19 masih tinggi. untuk itu, tetap patuhi protokol kesehatan dan lakukan 3M: memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan serta mencuci tangan pakai sabun.

#ingatpesanibu
#pakaimasker
#jagajarak
#satgascovid19
#cucicatanganpakaisabun