Drama Korea ala Grab dan Gojek

Lazuardhi Utama
·Bacaan 3 menit

VIVA – Apa yang terjadi antara Grab dengan Gojek seperti kisah drama Korea atau drakor. Mengapa? Berawal dari pertemuan, bertengkar, tetapi setelah beberapa perubahan dramatis, mereka menyadari bahwa, mungkin saja, mereka memang ditakdirkan untuk bersama alias berjodoh.

Hubungan antara dua penyedia aplikasi super (super apps) di Asia Tenggara itu tampaknya baik-baik saja. Tapi, apakah ada kebahagiaan abadi untuk mereka berdua? Investor Grab dan Gojek, seperti dikutip VIVA Tekno dari Nikkei Asia, Sabtu, 2 Januari 2021, telah mendorong keduanya untuk menikah alias merger.

Baca: Penasaran sama Bank Digital ala Gojek

Bisa jadi karena niat Grab untuk go public di Bursa Efek Singapura lewat mekanisme IPO. Gangguan bisnis yang berkelanjutan akibat pandemi COVID-19 sejak Desember 2019 yang berimbas pada operasional inti Grab dan Gojek adalah alasan kuat lain supaya mereka secepatnya disahkan.

Andai saja keduanya sepakat merger, bukan berarti masalah mereka selesai. Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU pasti menolak aksi korporasi keduanya karena akan mendominasi layanan ojek dan taksi online, pengiriman makanan dan minuman hingga barang, serta pembayaran digital.

Yang artinya terjadi monopoli di industri transportasi online Indonesia. Meski begitu, keduanya sudah tahu akan terjadi penolakan. Namun, menurut Nikkei Asia, mereka memiliki kartu As, yaitu sosok pengusaha berpengaruh yang menjabat sebagai komisaris utama Gojek.

Grab telah hadir di delapan negara memiliki nilai lebih dari US$14 miliar atau Rp198 triliun. Sedangkan Gojek bernilai US$10 miliar atau Rp141 triliun dan telah hadir di Indonesia, Singapura, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Seperti diketahui, isu merger Grab dengan Gojek kembali mencuat jelang tutup tahun 2020. Pada awal Desember kemarin, keduanya telah membuat kesepakatan untuk menggabungkan bisnis mereka, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.

Jika benar terjadi maka akan menjadi merger terbesar perusahaan berbasis internet di Asia Tenggara. Dua perusahaan decacorn ini dikatakan telah menyatukan pendapat, meskipun ada beberapa yang masih harus dinegosiasi, seperti dilansir dari South Morning China Post.

Menurut informan yang tidak mau disebutkan identitasnya, salah satu yang sedang dinegosiasi adalah pendiri Grab, Anthony Tan, akan menjadi kepala eksekutif perusahaan hasil merger ini. Detail akhir sedang dikerjakan oleh para senior di masing-masing perusahaan bersama Masayoshi Son dari SoftBank Group, investor utama Grab.

Namun, Tan membantah kabar tersebut. "Akan selalu ada isu dan gosip. Jangan biarkan hal itu mengganggu kita," ujar Kepala Eksekutif Grab, Anthony Tan, seperti dikutip dari situs Kr-Asia.

Meski sudah dibantah, informasi merger justru semakin kuat. Bahkan Tan menunjukkan taring ambisinya dengan menuntut kontrol yang kuat atas Gojek jika merger benar-benar terjadi. Selain itu, Tan juga menawarkan diri untuk menjadi 'Kepala Eksekutif Seumur Hidup (CEO for Life)'. Hal ini sontak memicu reaksi dari para investor.

Baca juga: Grab Bisa Diakses di AppGallery Huawei

Layanan aplikasi online asal Singapura itu juga menyodorkan beberapa klausul lain sebagai syarat untuk merger, termasuk memberikan Tan hak suara yang cukup besar di perusahaan, hak veto atas keputusan dewan, serta memiliki pengaruh atas kompensasinya sendiri, menurut dua sumber yang mengetahui persis rahasia masalah tersebut.

Sumber terpisah yang memiliki informasi merger Grab dan Gojek ini, seperti dikutip dari Nikkei Asia, juga mengatakan kondisi seperti “siapa yang akan diangkat, dan dalam kondisi apa, CEO baru jika Anthony Tan meninggal dunia" juga termasuk dalam pembahasan antara kedua kompetitor di Asia Tenggara tersebut.

Apapun itu, 2021 bisa menjadi tahunnya mereka. Persis seperti akhir kisah perjalanan cinta kebanyakan pasangan di drakor. Ok, kalau begitu kita tunggu saja episode akhir dari drama Korea ala Grab dan Gojek.