Drama Proses Tutup Warung Para Pekerja Indonesia Wanita di Kawasan Perbatasan

Liputan6.com, Sarawak - Rona bahagia terpancar dari raut wajah puluhan pekerja Indonesia di Tradewinds Plantations Berhard, Simunjan, Sarawak, Malaysia, saat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengadakan bakti sosial (baksos) berupa pemberian alat kontrasepsi gratis di tempat kerja mereka pada Sabtu, 16 Februari 2020.

Saking semangatnya, para pekerja yang terdiri dari pasangan suami istri (pasutri) mengaku sudah duduk manis di bawah tenda yang terpasang di pekarangan masjid, yang berada tidak jauh dari pemukiman tempat tinggal mereka, sejak pukul 07.00 pagi waktu setempat.

Kepala Subdirektorat Kualitas Pelayanan KB Jalur Swasta BKKBN Pusat, dr Nia Reviani MAPS, tiba paling pertama di lokasi acara. Begitu wanita berkerudung merah jambu itu mendekat, rasa senang tidak dapat mereka sembunyikan lantaran sebentar lagi akan mendapat alat pencegahan kehamilan cuma-cuma.

 

Kepala Subdirektorat Kualitas Pelayanan KB Jalur Swasta BKKBN Pusat, dr Nia Reviani MAPS, mengajak para pekerja Indonesia untuk menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang. Selain dapat menghemat pengeluaran, alat kontrasepsi seperti KB susuk maupun spiral dapat mencegah kehamilan jauh lebih besar.

Namun, gurat-gurat kebahagian itu mendadak sirna saat Nia mulai menjelaskan jenis alat yang akan diberikan. Nyali mereka mendadak ciut. Para ibu mengira bahwa pemerintah akan membagikan pil KB.

Pada kesempatan itu, BKKBN ingin mengutamakan pemberian alat kontrasepsi jangka panjang berupa KB susuk dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau intrauterine device (IUD) atau dikenal dengan spiral.

Nia bukan tidak membawa pil KB. Hanya saja, BKKBN ingin meningkatkan kesadaran para penyumbang devisa negara untuk menggunakan yang jangka panjang. Semata-mata untuk kebaikan mereka juga.

“Kalau ibu-ibu masih pakai pil, mau berat badannya bertambah terus? Dengan memakai KB susuk atau spiral, ibu-ibu bisa menurunkan berat badannya, pemakaiannya juga lama, dan kejadian untuk kebobolan pun akan kecil. Selain itu, kalau pakai yang jangka panjang, ibu-ibu bisa mengumpulkan uang untuk dipakai mudik. Ibu-ibu mau mudik, kan?,” kata Nia.

Kepada Health Liputan6.com, para ibu membeberkan alasan yang bikin mereka enggan menggunakan KB susuk. Menurut mereka, alat kontrasepsi yang ditanamkan di lengan akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Ada ketakutan di diri mereka tidak dapat mengangkat sawit hasil panen.

Mendengar seabreg kegelisahan yang ditunjukkan para pekerja Indonesia, Nia pun meyakini bahwa pemasangan KB susuk tidak akan menyulitkan gerak mereka. “Tenang, ibu-ibu. Pemasangannya di sebelah kiri. Mengapa di sebelah kiri, karena tangan kiri jarang dipakai beraktivitas."

 

Mantap Pasang Alat Kontrasepsi Susuk

Para pekerja Indonesia berjalan bersama Nia menuju klinik KB untuk menjalani pemasangan alat kontrasepsi, ada KB susuk dan KB spiral (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Miskul, yang semula terlihat agak ragu, mantap melangkah bersama empat orang yang lain, berjalan di belakang Nia menuju perkantoran ladang kelapa sawit yang berjarak 200 meter dari pekarangan masjid.

Ruangan di sebelah kiri dari gedung perkantoran sudah disulap menjadi klinik KB. Terdapat tiga bilik berukuran kecil dengan pembatas kain berwarna hijau. Masing-masing bilik berisi kasur empuk dilapisi seprai berwarna biru, dengan tambahan dua buah bantal dan selimut yang tebal. Di dekat pintu, duduk seorang perawat yang bertugas mengukur tekanan darah para calon pemasang alat KB.

 “Saya mau kurus,” kata Miskul sambil tertawa saat mengutarakan alasannya menjatuhkan pilihan menggunakan alat kontrasepsi susuk.

Bagian perkantoran ladang kelapa sawit yang disulap menjadi klinik KB. Ada tiga bilik berisi kasur dengan dua buah bantal dan selimut yang tebal (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Miskul seharusnya menjadi orang pertama yang dipasangkan KB susuk. Sayang, ibu satu orang anak ini keburu panik, yang membuat tekanan darahnya mencapai 200 mmHg. Perawat pun menyuruh Miskul untuk istirahat sejenak.

Sepuluh menit kemudian, Miskul kembali masuk ke dalam klinik. Saat menjalani pengecekkan tekanan darah, lagi dan lagi perawat meminta dia buat tenang. Tensi Miskul memang sudah turun, tapi hitungannya masih tinggi, yaitu 168 mmHg. Tekanan darah setinggi ini tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan.

Miskul, yang seharusnya menjadi orang pertama yang memasang alat kontrasepsi susuk justru menjadi yang terakhir lantaran tekanan darahnya tidak juga turun. Hal ini lantaran panik yang menderanya. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Gugup juga menyerang Nur Hayati. Tensi pertama wanita 34 tahun berhenti di angka 152/60 mmHg. Setelah beristirahat selama lima menit, dan menggunakan waktu yang sebentar itu untuk berkonsultasi dengan Nia guna meyakini diri sendiri bahwa tidak salah memilih, tekanan darah ibu tiga orang anak turun menjadi 128/60 mmHg.

“Belum pernah melakukan ini, jadinya deg-degan,” kata Nur.

Nur selama ini pengguna suntik KB tiga bulan. Hal ini sudah dia lakukan sejak lahir anak pertama yang sekarang sudah berumur 25 tahun. Gara-gara alat kontrasepsi yang dia gunakan, Nur kebobolan sampai akhirnya memiliki tiga orang anak yang jarak umurnya sangat berdekatan.

“Anak kedua saya umurnya 20 dan anak ketiga 19 tahun,” Nur menjelaskan.

 

Nur yang semula tegang justru tidak merasakan sakit apa pun saat alat kontrasepsi susuk mulai dimasukkan ke dalam lengannya. Pemasangan ini dikerjakan oleh seorang bidan profesional (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Nur mengaku agak kelimpungan saat harus melakoni rutinitas suntik KB tiga bulan di tempat tinggalnya sekarang. Sebab, biaya yang digelontorkan tidak murah. Sekali suntik, kata Nur, dia harus membayar sebesar 90 Ringgit Malaysia atau setara Rp296 ribu.

“Karena harus cek kencing (urine) dulu. Jadi biayanya mahal,” ujarnya. Karena biaya yang agak mencekik, Nur tak ingin menyia-nyiakan ‘hadiah’ dari BKKBN.  

Setelah perawat menyatakan Nur dalam kondisi baik-baik saja, seorang bidan membawa dia ke dalam bilik untuk dilakukan tindakan pemasangan alat kontrasepsi susuk.

Nur mengizinkan Health Liputan6.com melihat proses pemasangan alat tersebut. Saat tindakan berlangsung, Nur terlihat jauh lebih rileks. Tiga orang bidan yang menanganinya, terus mengajak Nur berbicara agar dia tidak merasakan sakit saat alat dimasukkan ke dalam lengan.

 

Selama alat kontrasepsi susuk dimasukkan ke lengan Nur, bidan tak henti-hentinya mengajaknya mengobrol agar Nur tidak merasakan sakit apa pun. Nur pun mengaku seperti digigit semut. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

“Sakit, enggak?,” tanya seorang bidan.

“Tidak,” jawab Nur.

“Benar? Masa enggak sakit?,” tanya bidan yang lain.

“Benar,” jawab Nur lagi. Tidak sampai lima menit, pemasangan alat selesai.

Bahagia tak dapat Nur sembunyikan. Keinginannya untuk pasang alat kontrasepsi susuk pun terwujud. Saat ditanya bagaimana rasanya saat proses pemasangan alat kontrasepsi berlangsung, Nur menjawab,“Tidak sakit sama sekali. Kayak digigit semut, tapi lebih sakit digigit semut.”

 

Biaya Melahirkan Lebih Mencekik Ketimbang Biaya KB

Yamani (baju hitam) bersama teman-teman sesama pekerja Indonesia menikmati bakti sosial pemberian alat kontrasepsi gratis dari BKKBN di tempat kerja mereka pada Minggu, 16 Februari 2020 (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Mahalnya biaya KB di sana juga dilontarkan pekerja Indonesia bernama Yamani. Saat berkeinginan ‘tutup warung’ setelah anak keempat lahir, Yamani berpikir agak panjang. Sudahlah mahal, keberadaan rumah sakitnya pun jauh dari pemukiman tempat tinggal dan kerja mereka.

Akan tetapi di satu sisi, wanita asli Makassar harus cepat-cepat melakukannya. Karena untuk kali ini, Yamani benar-benar takut kebobolan. “Kalau yang kemarin itu tidak ada yang kebobolan, karena kemauan sendiri,” kata dia.

Wanita 31 tahun memiliki empat orang anak, yang jarak kelahirannya bisa dibilang ‘lebih normal’ ketimbang Nur. Anak pertama Yamani berumur 17 tahun, anak kedua berumur 14 tahun, anak ketiga tujuh tahun, dan yang terakhir baru berumur satu tahun.

“Anak pertama laki-laki, ternyata anak kedua laki-laki lagi. Saya pengin anak perempuan, program lagi, yang lahir (anak ketiga) laki-laki lagi. Coba terus akhirnya anak terakhir dapat perempuan,” katanya.

Biaya KB bisa mencapai 100 Ringgit Malaysia

Menurut Yamani, setiap tiga bulan dia harus cek darah dan KB yang biayanya mencapai 100 Ringgit Malaysia atau setara Rp329 ribu. “Di kampung saya (Makassar) cuma Rp25 ribu,” katanya.

Yamani adalah pelaku suntik KB tiga bulan sejak 2004. Selama 15 tahun membiarkan hormon progesteron (progestin) yang berasal dari suntik KB masuk ke tubuhnya, membuat badannya melar.

“Dulu badan saya kecil,” kata Yamani. Yamani pun merasa lega setelah tahu sudah ada KB susuk tertanam di lengan kirinya. “Saya jadi bisa berhemat. Nanti kalau saya pulang kampong tiga tahun lagi, sekalian KB (susuk) lagi di sana,” ujarnya.

Biaya Melahirkan Tak Kalah Mahal

Yamani bercerita bahwa tidak hanya biaya KB saja yang mahal. Untuk melahirkan pun, Yamani setidaknya harus memiliki uang setidaknya 3.500 Ringgit Malaysia atau setara Rp11 juta.

Waktu anak ketiga lahir di rumah sakit di Kota Bintulu, biayanya masih lebih murah. Sekitar 900 Ringgit Malaysia atau setara Rp2,9 juta sudah mencakup semua. Mulai dari kamar, biaya dokter, sampai perawatan jika anak yang lahir terkena sakit kuning.

Sementara di rumah sakit di kawasan tempat tinggalnya sekarang, biaya sebesar 3.500 Ringgit Malaysia saja belum mencakup semua itu. “Kalau anak kena kuning, tambah lagi. Cek penyakit lain, nanti tambah lagi. Total di hospital kalau dihitung 6.000 Ringgit Malaysia (Rp19,7 juta),” katanya.

Melahirkan Sendiri di Rumah

Hal ini yang akhirnya membuat Yamani harus melahirkan anak terakhir di rumah. Bahkan, semua proses persalinan dilakukan berdua suami tercinta.

“Saya melahirkan sendiri dibantu suami. Tidak pendarahan dan yang menggunting ari-ari suami saya juga. Guntingnya pakai gunting rumah,” katanya.

Perjalanan Panjang Menuju Tempat Pahlawan Devisa Negara Berada

Potret pemukiman para pekerja Indonesia di Tradewinds Plantations Berhard, Simunjan, Sarawak, Malaysia. Di sini mereka menghabiskan hari-harinya bersama keluarga tercinta (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Bicara soal jarak, Health Liputan6.com bersama rombongan BKKBN dari Jakarta merasakan sendiri jauhnya dari kota ke ladang kelapa sawit. Dengan kecepatan 80 kilometer per jam saja, lamanya perjalanan yang harus ditempuh adalah 1,5 jam. Kalau dihitung-hitung kasar, jaraknya itu sekitar 100 kilometer.

Rombongan dari Ibu Kota sebenarnya sudah berada di Sarawak, Malaysia, sejak satu hari sebelumnya. Setelah jalan darat selama 12 jam dari Pontianak, Kalimantan Barat dan masuk melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Entikong, kami tiba di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kuching pada Sabtu sore, 15 Februari 2020, kira-kira pukul 07.00 malam waktu setempat. Kumandang adzan Maghrib penandanya.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, tidak lama setelah Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, dan Gubernur Kalimantan Barat, H Sutarmidji SH, melepas rombongan Mobil Unit Penerangan (MUPEN) dan Motor KB di halaman Pendopo Gubernur Kalimantan Barat.

Bersama rombongan BKKBN, sebanyak tiga MUPEN ikut sampai di Balai Karangan, Kabupaten Sanggau. Kegiatan ini juga diikuti para Penyuluh KB (PKB) di Kota Pontianak dan sekitarnya.

Selain Kepala BKKBN Pusat dan Gubernur Kalimantan Barat, ikut di dalam rombongan Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Dwi Listyawardani; Direktur Bina Ketahanan Remaja, Eka Sulitia Ediningsih; Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Maria Evi Ratnawati; dan Kepala BKKBN Provinsi Jawa Barat, Kusmana.

 

Langit biru dengan awan putih yang tebal serta pepohonan di kanan dan kiri jalan menemani perjalanan rombongan BKKBN dari Pontianan menuju PLBN Entikong, Kalimantan Barat (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Dari Pontianak ke Kabupaten Sanggau memakan waktu selama delapan jam. Menurut pewarta dari Kalimantan Barat, kami yang dari Jakarta cukup beruntung karena perjalanan ini dilakukan saat jalan sudah mulus. Sehingga waktu yang selama itu tak terasa sama sekali.

Memang tidak terlihat kemacetan. Jalanannya pun benar-benar mulus. Di kanan dan kiri jalan, mata dimanjakan dengan pemandangan yang serba hijau. Langit di hari itu pun sungguh indah, membuat indera penglihatan tidak merasa lelah meski terus memandangnya.

Di Kabupaten Sanggau, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengunjungi pos pelayanan KB yang ada di Puskesmas Balai Karangan. Betapa terkejutnya Hasto saat melihat langsung kondisi sebenarnya.

 

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo saat melihat langsung proses pemasangan alat kontrasepsi susuk di Puskesmas Balai Karangan, perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia pada Sabtu, 15 Februari 2020 (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Hasto mengaku tak menyangka, meskipun terletak di daerah perbatasan, puskesmas ini jauh lebih baik ketimbang beberapa puskesmas yang ada di kota-kota besar.  

Pada hari itu saja, Hasto mendapat laporan bahwa ada 40 orang yang dilayani.  “Pelayanan bagus. Padahal, ini puskesmas di perbatasan, lho, tapi standarnya bagus sekali," kata Hasto kepada Health Liputan6.com.

"Standar pelayanan di Jawa saja kalah, ya. Jadi, kalau hanya pasang susuk, pasang IUD, lepas susuk, atau lepas IUD, cukup dilayani di sini. Tidak perlu ke mana-mana, tidak perlu ke seberang,” Hasto menambahkan.

Ada pun bagus yang dimaksud mantan orang nomor di Kulon Progo, DI Yogyakarta, karena ketersediaan alat kontrasepsinya cukup.

“Tadi saya cek di kepala perwakilan yang di Kalimantan Barat, alat tidak kurang, obat tidak kurang. Kemudian, tenaga cukup, bidan ada, kemudian sarana ada untuk tempat masang,” ujarnya.

Pemerintah Hadir untuk Para Pekerja Indonesia di Sarawak

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kuching, Yonny Tri Prayitno dan Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, berfoto bersama para bidan yang bertugas saat bakti sosial pemasangan alat kontrasepsi kepada PMI (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Malam hari sebelum kunjungan ke ladang kelapa sawit Tradewinds Plantations Berhard, Konjen RI di Kucing, Yonny Tri Prayitno, berbincang santai dengan Health Liputan6.com . 

Saat ini, kata dia, jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Sarawak, Malaysia, sebanyak 130 ribu yang tersebar di 52 perusahaan.

Dan, menyoal bakti sosial berupa pembagian dan pemasangan alat kontrasepsi gratis, Yonny, mengatakan, tindakan tersebut merupakan lanjutan dari ide yang pernah tercetus kala KJRI Kuching bertemu dengan BKKBN Kalimantan Barat.

Pada pertemuan hari itu, kedua belah pihak sama-sama mencari pola agar pemerintah negara hadir di antara para pekerja Indonesia. Kemudian, komunikasi pun berlanjut dengan pihak pengusaha, karena bagaimana juga ketika PMI dalam kondisi baik, pengusaha juga yang diuntungkan.

“Intinya negara ada melindungi mereka. Pada saat saya bertemu dengan kepala BKKBN perwakilan Kalimantan Barat, ada ide soal family planning. Apakah mereka sudah ada tindakan atau mungkin pelayanan keluarga di ladang tetrsebut,” kata Yonny.

Saat mencetuskan gagasan, yang terlintas di kepala Yonny apakah para pekerja Indonesia yang mencari nafkah dan tinggal di dalam ladang, yang jaraknya sangat jauh dari kota, terpikir melakukan keluarga berencana?

Survei dilakukan bersama tim BKKBN Kalimantan Barat dan tim konsulat KJRI di Kuching. Dan, hasil survei menunjukkan, tidak ada kejelasan bagi mereka buat mengatur bagaimana mengelola keluarga berencana.

“Nah, di situ mulai kami pikirkan untuk bikin penyuluhan, dengan istilah bakti sosial keluarga berencana,” ujarnya.

BKKBN Pusat Menyambutnya dengan Tangan Terbuka

Ketika rencana sampai di telinga BKKBN Pusat, Hasto pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Hasil diskusi antara KJRI Kuching dengan BKKBN Pusat menghasilkan rencana untuk melakukan penyuluhan dan konseling dalam waktu dekat.

“BKKBN mendatangkan tim professional, konsulat jenderal yang nanti menentukan tempat orang-orangnya bagaimana. Termasuk hubungan company-nya bagaimana, kita siapkan semuanya. Tanggal 16 ini akan dilakukan bersama-sama,” ujarnya.

Kegiatan yang pertama ini, kata Yonny, nantinya akan menjadi sebuah kerutinan,“Katakanlah sekarang kita dapat satu ladang. Nanti dapat lagi satu ladang lagi, kita buat lagi.”

KJRI Kuching menyerahkan sepenuhnya kepada BKKBN terkait kesiapan mereka menjadikan ini kegiatan rutin yang bisa dilakukan lebih dari satu kali dalam setahun.

“Nanti diatur atau dikoordinasikan konsulat jenderal. Katankanlah, kami yang permisi dulu dengan pihak pengusaha di sini, supaya bakti sosial ini berjalan lancar,” kata dia.  

BKKBN Bakal Menyediakan Jalur Khusus untuk Memasok Alat Kontrasepsi

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, saat mengunjungi pemukiman tempat tinggal para pekerja Indonesia di Tradewinds Plantations Berhard, Sarawak, Malaysia sebelum melakukan bakti sosial pemasangan alat kontrasepsi gratis (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Hari bakti sosial tiba. Hasto Wardoyo dan rombongan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional datang dengan membawa banyak ‘alat perang’.

Mulai dari alat kontrasepsi untuk pria berupa kondom, sampai alat kontrasepsi yang dikhususkan untuk wanita, di antaranya suntik, pil KB, implan atau KB susuk, dan IUD pun dibawa. Semuanya diberikan secara gratis pada hari itu.

Akan tetapi senada dengan Nia, Hasto mengatakan bahwa yang menjadi prioritas untuk diberikan adalah metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).

“Jadi, kalau pasang susuk itu kan bagus, karena long term. Dia bisa lama meskipun kita tidak tengok-tengok di sini, tapi kan dia masih tetap terkover dari perlindungan kontrasepsi,” kata Hasto kepada Health Liputan6.com .

Pada kesempatan itu, para pekerja curhat soal biaya KB yang cukup menguras kantong. Mendengar keluh kesah mereka, Hasto mengatakan bahwa BKKBN siap membuat sistem yang disebut dengan jalur khusus (jalsus)

“Kalau saya punya pikirannya begini, maunya di sini ada provider, ada yang suntik, ada yang IUD, dan ada satu bidan yang ditugaskan,” kata Hasto.

“Kita ingin usulkan ke Kemenkes (Kementerian Kesehatan) mengirim perawat atau bidan ke sini, satu atau dua saja, sudah keren banget. Saya tidak perlu baksos begini, tapi tinggal kirim alat kontrasepsi saja. Dapat dipasok dan dapat dipertahankan di sini,” dia menambahkan.

Bahkan, jika jumlah pekerja yang ingin pasang alat kontrasepsi IUD cukup banyak, Hasto bakal membekali meja ginekologi yang menurut dia bisa ditaruh di ruang kecil. 

"Paling untuk IUD dibutuhkan konseling terlebih dahulu," ujar Hasto.

Mengajak Langsung Para Pekerja untuk Ikut Pasang Alat Kontrasepsi Jangka Panjang

Sebelum melihat bakti sosial pemasangan alat kontrasepsi gratis, Hasto Wardoyo mengecek kediaman para pekerja untuk memastikan semua masyarakat Indonesia di sana mendapatkan pelayanan kontrasepsi (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Setelah bertemu dengan puluhan warga yang berada di pekarangan masjid, Hasto, Yonny, dan rombongan masuk ke pemukiman warga. Selain ingin melihat langsung tempat tinggal warga Indonesia yang mencari nafkah di ladang kelapa sawit tersebut, Hasto ingin memastikan semuanya mendapatkan pelayanan kontrasepsi dari BKKBN.

Salah seorang warga yang kebetulan sedang berada di rumah adalah Eny Astuti, yang sudah tinggal di situ selama 14 tahun. Ibu tiga orang anak terlihat tengah menggendong anak terakhirnya yang masih berumur delapan bulan.

"Ibu tidak ikutan?," kata Hasto bertanya ke Eny. Eny bukannya tidak ingin ikutan pelayanan kontrasepsi cuma-cuma tersebut. Hanya saja, Eny yang merupakan seorang pengguna pil KB, sudah memasok banyak pil yang dia beli di Indonesia. 

"Saya setiap kali pulang ke Indonesia langsung stok banyak, Pak," katanya. 

Wanita asal Sambas mengaku pil KB ini cocok dengannya. Sejak anak pertama lahir sembilan tahun yang lalu, dia sudah setia menggunakan pil yang banyak dihindari para wanita karena dianggap bisa bikin gemuk. 

"Di saya tidak terlalu berpengaruh. Makanya saya nyaman," ujarnya.