Dream Chasers: Sepakbola Eropa yang Megah dan Impian Bocah Indonesia

Satria Permana

VIVA – Sudah dua angkatan, Garuda Select dijalankan dan banyak cerita yang muncul di dalamnya. Semua bukan soal hasil instan, tapi bergantung pada kerja keras dan proses panjang.

Para pemain Garuda Select tentunya sudah merasakan bagaimana kerasnya tempaan yang mereka dapat dari Dennis Wise dan kawan-kawan.

Keras, tapi menggoda. Para pemain Garuda Select merasakan bagaimana asyiknya menerima ilmu yang begitu spesifik dari tim pelatih Garuda Select, selama mengikuti program di Birmingham, Inggris.

Materi yang diberikan kepada para pemain sejatinya sama saja dengan sepakbola Indonesia pada umumnya. Yang membedakan, adalah detail dari setiap sesi latihan.

Di Garuda Select, para pemain tak hanya diajarkan bagaimana caranya membangun pertahanan, serangan, hingga mengolah tempo permainan.

Mereka juga diwajibkan mengerti peran masing-masing dan tanggung jawabnya. Pastinya, fungsi dari para pemain di setiap posisi akan berbeda.

"Seperti pemain sayap, yang harus mengerti tanggung jawab dan tugasnya. Mereka juga harus bisa berkolaborasi dengan bek sayap yang mendukung kinerjanya. Pun, kami mencoba proses pergantian posisi," kata Direktur Teknik Garuda Select, Dennis Wise, dalam tayangan Dream Chasers Garuda Select Episode 16: Welcome Back to English Football.

Direktur Teknik Garuda Select, Dennis Wise, ditemui di kawasan Walsall, Inggris

Detail macam ini yang dibutuhkan para pemain Indonesia. Pakem lari dan lari, seperti kebanyakan sayap lainnya, sudah tak berlaku lagi di sepakbola modern.

Maka dari itu, perlu adanya pandangan berbeda untuk para pemain sayap Indonesia. Dan, mereka harus menerima materi macam ini sejak usia muda.

Salah satu pemain sayap Garuda Select, Ferdiansyah, merasa beruntung bisa merasakan tempaan keras di Birmingham. Ferdiansyah mengaku baru sekali ini bisa bertemu pelatih yang begitu keras menempanya dan rekan-rekan di Garuda Select.

"Baru kali ini saya bertemu dengan pelatih macam Dennis dan Des Walker. Keras, selalu meningkat dari sebelumnya," ujar Ferdiansyah.

Bagi Ferdiansyah, tempaan macam itu memang diperlukannya. Dia merasa harus ada pemicu yang bisa membuatnya semakin bergairah untuk mengejar mimpinya.

Ya, mimpi. Ferdiansyah menuangkan semua mimpinya dalam selembar kertas besar di kamar asramanya. Dia menuliskan seluruh keinginannya di sana.

Orang tua, jadi salah satu penyemangat Ferdiansyah untuk terus berkembang. Dan, Ferdiansyah berharap bisa menembus pentas sepakbola Eropa demi membuat orang tuanya bangga.

"Di kertas itu, semua impian saya tertulis. Membahagiakan orang tua, masuk ke Timnas Indonesia. Memang, itu impian saya. Pun, saya juga berharap bisa menarik perhatian pemandu bakat di sini (Inggris). Sepakbola yang menarik, cuacanya enak pula," ujar Ferdiansyah.

Mimpi yang ketinggian bagi pemain Indonesia? Tentu tidak, karena beberapa pemain Indonesia sudah sempat merasakan bagaimana mengadu nasib di Eropa.

Seperti kata Theodore Roosevelt,
"Arahkan mata Anda pada barisan bintang di langit. Dan, tetaplah berpijak pada tanah."

Jadi, bermimpi sah-sah saja. Berjuang semaksimal mungkin, namun hormati prosesnya, dan tetap membumi ketika buah manis sudah Anda terima.

Inspirasi dari Ferdiansyah bisa kita saksikan lewat Dream Chasers: Garuda Select yang ditayangkan Mola TV. Lewat paket Corona Care, Anda bisa menikmati tayangan tersebut sambil berdonasi membantu penanganan virus corona COVID-19 di Indonesia.