Dua Hakim Tipikor Semarang Tahu Praktik Suap  

TEMPO.CO, Semarang - Dua Hakim Pengadilan Tipikor Semarang, Pragsono dan Asmadinata, disebut-sebut mengetahui sejak awal adanya transaksi suap hakim Kartini Marpaung untuk mengatur vonis terdakwa Ketua DPRD (non aktif) Grobogan Muhammad Yaeni. Kesimpulan itu muncul dalam sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan saksi untuk terdakwa Sri Dartutik yang memberikan uang suap Rabu 16 Januari 2013.

Saksi Heru Kisbandono menyatakan, sebelum pemberian suap Rp 150 juta, beberapa kali dia bertemu Kartini Marpaung, Pragsono dan Asmadinata. »Pertemuan dilakukan  rumah makan dan hotel di Semarang maupun di Solo,” kata hakim Tipikor Pontianak yang juga menjadi terdakwa kasus suap.

Dalam pertemuan itu, kata Heru, dibicarakan mengenai rencana suap. Heru menyatakan, Kartini meminta uang suap Rp 500 juta. Belakangan disepakati uang suapnya adalah Rp 150 juta.

Pragsono dalam kesaksiannya mengakui pernah berkomunikasi dengan Heru. Bahkan, Heru juga pernah datang ke ruang kerja Pragsono untuk membahas vonis Yaeni. Pada 17 Agustus pagi, sesaat sebelum ada penangkapan yang dilakukan KPK, Pragsono dan Heru juga berkomunikasi. Pragsono mengirimkan pesan pendek ke Heru yang berbunyi: »Saya tunggu sekarang atau 25 Agustus saja”. Sebab, pagi itu sebenarnya Heru akan mengantar uang suap. Pragsono juga mengakui Kartini terus menerus mengiming-imingi uang suap. »Ini mau Lebaran lho,” kata Kartini.  

Sementara Asmadinata membantah kesaksian Heru. Dia mengaku tak pernah membahas ihwal uang suap perkara Yaeni. Meski  mengetahui sejak awal kasus suap, status Pragsono dan Asmadinata masih sebatas saksi. Keduanya sudah diperiksa beberapa kali.  

KPK menangkap Heru, Kartini dan Sri Dartutik pada 17 Agustus 2012. Sri Dartutik adalah terdakwa kasus suap hakim. Ia ditangkap bersama dengan hakim Heru Kisbandono dan Kartini Marpaung pada 17 Agustus 2012. Mereka diduga bertransaksi suap Rp 150 juta untuk mengatur vonis korupsi Ketua DPRD (non aktif) Grobogan M Yaeni.  

ROFIUDDIN

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.