Dua Hal Penting Diperhatikan Saat Proses Rehabilitasi Pascagempa Cianjur

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepala BMKG, Dwikorta Karnawati mengingatkan perbaikan rumah korban pascagempa jangan hanya asal jadi. Semua konstruksi bangunan harus mempertimbangkan aspek keamanan.

Menurut dia, gempa yang terjadi di Kabupaten Cianjur pada Senin (21/11) lalu bukan yang tergolong kuat. Daya rusak hingga menimbulkan ratusan korban jiwa lebih disebabkan pada konstruksi bangunan.

Maka dari itu, pemerintah harus memperhatikan aspek penting saat perbaikan rumah korban. Ia mencontohkan, di lokasi episentrum gempa, tak semua bangunan roboh, padahal dari segi kontur tanah sama.

"Kondisi tanah tidak begitu signifikan. Seandainya nanti akan dibangun kembali, Insya Allah dengan kondisi tersebut (rumah yang akan dibangun atau diperbaiki) masih bisa di lokasi yang sama. Tapi yang penting adalah mempertimbangkan jarak episenter dan konstruksi bangunan," jelas dia.

"Ada bangunan yang tidak begitu rusak, ada yang rusak parah di lokasi yang sama. Jadi, yang vital adalah konstruksi bangunan (yang membuat banyak korban jiwa). Sebagian besar rumah masih bisa diperbaiki di lokasi yang sama. Asal konstruksi bangunan tahan gempa. Kecuali yang berada pada episenter, titik terkuat (gempa), bangunan rumah harus berjarak minimal radius 100 meter dari pusat gempa. Atau pada zona patahan, lembah atau lereng yang perlu diperhatikan," ia melanjutkan.

Kalaupun opsi yang dipilih pemerintah menyiapkan relokasi, sambung Dwikorita, lahannya juga harus diperhatikan. Pertimbangan penting yang tak boleh dianggap remeh adalah lahan jauh dari potensi fenomena alam atau kontur tanah yang masuk kategori aman. Konstruksinya harus dibuat tahan gempa.

Untuk diketahui, hingga Kamis (24/11) gempa susulan dengan kekuatan kian melemah masih terus terjadi di Kabupaten Cianjur. Ia memprediksi dalam sepekan ke depan, kondisinya akan makin stabil. Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang.

Hal yang harus diwaspadai dalam waktu dekat adalah menghadapi curah hujan yang semakin tinggi. Apalagi banyak pengungsi yang diam di tenda darurat. Belum lagi meningkatnya potensi banjir hingga longsor yang bisa berpengaruh pada proses penanggulangan bencana.

"Memang ada gempa susulan namun semakin lemah. Empat sampai satu minggu ke depan sudah mulai stabil. Yang harus diwaspadai, terutama potensi hujan yang semakin meningkat. Puncak curah hujan Desember sampai Januari," ucap dia.

Sementara itu, Bupati Cianjur, Herman Suherman mengakui bahwa bangunan tahan gempa sangat penting. Namun, penyediannya bergantung pada anggaran. Apalagi, pemerintah pusat hanya menyediakan Rp50 juta bagi rumah dengan status berat.

"Kalau dikaitkan dengan konstruksi yang harus tahan gempa, kita berpikir dua kali, pasti menggunakan dana yang besar. Kami berharap masyarakat setidaknya berpikir masa depan. kalau masyarakt punya celengan, ayo bersama sama. Ini untuk keamanan bersama-sama sehingga ada kolaborasi," jelas dia.

Di tempat yang sama, Kepala BNPB, Suharyanto menyebut pekan depan akan membangun rumah contoh tahan gempa di setiap kecamatan. Diharapkan keberadaannya bisa menjadi referensi bagi masyarakat.

"Ini ada pilihan, bisa dibangun oleh masyarkat, oleh tukang, atau bupati, TNI Polri atau pihak ketiga yang sudah biasa membangun rumah tahan gempa. Rumah contoh ini sudah dibangun di Palu, NTB," ucap dia. [lia]