Dua Muslimah Ditikam, Polisi Prancis Sebut Tak Ada Motif Rasialis

Aries Setiawan
·Bacaan 2 menit

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Sejumlah saksi mata mengatakan penikaman terhadap dua perempuan Muslim merupakan tindakan islamofobia. Dua wanita Muslim ditikam berulang kali dan disebut "Arab kotor" di bawah Menara Eiffel, Ahad (18/10).

Menurut laporan, insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Prancis setelah kasus pemenggalan seorang guru beberapa waktu lalu. Dilansir di Morocco World News, Selasa (20/10), polisi Prancis membuka penyelidikan percobaan pembunuhan setelah menahan dua tersangka.

Namun, polisi tidak memperlakukan kejahatan ini sebagai serangan islamofobia. "Di tahap penyelidikan ini, tidak ada elemen yang membuktikan adanya motif rasialis terkait dengan penggunaan jilbab," ujar sebuah sumber yang dekat dengan investigasi, dikutip di Le Monde.

Para korban diketahui dari nama depan mereka, yaitu Kenza dan Amel. Mereka mengatakan kepada media Prancis mereka diserang oleh dua wanita lain setelah meminta para wanita mengendalikan anjing mereka ketika mereka berjalan di dekat Menara Eiffel.

Dilansir New York Post, Kamis (22/10), jeritan mereka terekam dalam video yang viral di ibu kota Prancis. Kenza ditikam enam kali dan berakhir di rumah sakit setempat dengan paru-paru tertusuk. Sementara Amel membutuhkan operasi untuk luka tusukan di tangannya.

Foto yang diunggah di media sosial menunjukkan responden pertama berkerumun di sekitar korban saat mereka berbaring di tanah. Metro UK dan laporan lokal melaporkan dua wanita kulit putih, yang keduanya berusia 22 tahun ditangkap dan ditahan karena dicurigai melakukan percobaan pembunuhan.

Mereka muncul di hadapan hakim pada Rabu. Para korban yang berasal dari Aljazair mengatakan mereka berada di taman bersama tujuh kerabat mereka. Bersama keluarga tersebut juga terdapat empat anak yang ketakutan oleh anjing pitbull yang dilepaskan di dekatnya.

Mereka diserang setelah meminta kedua wanita tersebut, yang sepertinya mabuk, menjauhkan anjing mereka dari anak-anak. Jaksa penuntut mengatakan masih terlalu dini dalam penyelidikan untuk mengklasifikasikan serangan itu sebagai kejahatan rasial.

Saksi mata mengatakan para korban dihardik dengan kalimat “Kembali ke negaramu" dan salah satu kerudung mereka dirobek selama serangan. Serangan itu terjadi pada Ahad malam bersamaan dengan ribuan orang turun ke jalan untuk memberi penghormatan kepada Samuel Paty, guru Prancis yang dipenggal oleh seorang ekstremis di luar sekolahnya pada Jumat lalu.

Prancis adalah rumah bagi lebih dari lima juta Muslim. Masyarakat mengeluhkan peningkatan tajam dalam islamofobia yang disebabkan tindakan keras pemerintah terhadap masjid dan organisasi Muslim.

https://www.moroccoworldnews.com/2020/10/323179/islamophobia-suspected-motive-behind-stabbing-of-2-muslim-women-in-paris/

https://nypost.com/2020/10/21/muslim-women-stabbed-called-dirty-arabs-in-eiffel-tower-attack/