Dua Orang Tewas Tertimbun Tambang Emas Ilegal di Kaltara, Salah Satunya Personel TNI

Merdeka.com - Merdeka.com - Dua orang ditemukan tewas tertimbun longsor di area tambang emas ilegal Desa Tenggiling KM 15, Sekatak, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), Rabu (11/1) dini hari. Salah satu korban tewas adalah anggota TNI yang tugas di Detasemen Polisi Militer (Denpom) di Bulungan.

Keterangan diperoleh merdeka.com, tambang emas ilegal itu longsor hari Senin (9/1) sore sekitar pukul 16.30 WITA. Tim gabungan baru menemukan dua orang tewas tertimbun longsor dua hari kemudian, Rabu (11/1) sekitar pukul 01.00 WITA.

"Iya itu benar (dua orang meninggal)," kata Kapolres Bulungan AKBP Ronaldo Maradona Siregar dikonfirmasi merdeka.com, Kamis (12/1).

Dua orang meninggal itu adalah pria berinisial K (23), dan satu warga lagi berinisial R (43) sebagai penambang emas ilegal di desa setempat. Pria berinisial K diketahui personel TNI yang tugas di Denpom VI/3 Bulungan.

"Informasi itu benar. Saya konfirmasi ke Dirkrimsus, itu benar. Dari Kapenrem (Korem 092/Maharajalila) benar juga karena ada oknum TNI itu benar," kata Kabid Humas Polda Kalimantan Utara, Kombes Pol Budi Rachmat dikonfirmasi merdeka.com.

Belum diketahui keberadaan personel TNI di area tambang emas ilegal itu. Menurut Budi Rachmat, peristiwa itu sedang dalam penyelidikan Polri dan TNI.

"Iya (sedang diselidiki) karena juga ada POM TNI, ada aturan mainnya," ujar Budi.

Budi menegaskan Polda Kaltara sudah sering melakukan penindakan penambangan tanpa izin (PETI). Namun lokasi para penambang PETI kerap berpindah-pindah.

"Kita, Polda Kaltara, terkait PETI ini sudah beberapa kali ditindak. Pindah sana, pindah situ. Tiba-tiba muncul lagi PETI. Masyarakat kami minta tidak melakukan PETI yang jelas dilarang," sebut Budi.

"Dilarang karena merusak ekosistem, area perkebunan. Terlarang karena ilegal dari sisi keamanan yang tidak memenuhi aturan keselamatan. Jangan hanya melihat untung tapi tidak mempertimbangkan sisi risikonya," demikian Budi. [cob]