Dua tersangka kaki tangan pelarian Ghosn ditangkap di AS

Boston (AFP) - Seorang ayah dan anak yang diduga membantu buron mantan kepala Nissan Carlos Ghosn yang melarikan diri dari Jepang pada Desember ditangkap di Amerika Serikat pada Rabu dan dibawa ke pengadilan di mana mereka dihadapkan kepada seorang hakim dalam penampilan daring yang langka terjadi.

Michael Taylor, mantan anggota pasukan khusus AS yang beralih menjadi kontraktor keamanan, dan putranya Peter Taylor disebutkan dalam surat perintah penangkapan Jepang yang meminta ekstradisi mereka karena ikut serta dalam pelarian dramatis Ghosn.

Kedua pria yang masing-masing berusia 59 tahun dan 27 tahun itu muncul di pengadilan mengenakan jumpsuit oranye dan masker wajah krem ketika hakim federal AS di Massachusetts memimpin melalui konferensi video karena tindakan darurat selama pandemi virus corona.

Keduanya berisiko melarikan diri ke luar negeri dan harus tetap dalam tahanan ketika Amerika Serikat menunggu permintaan ekstradisi resmi dari Jepang, kata jaksa penuntut.

"Peter Taylor berisiko sangat tinggi untuk kabur dan fakta itu saja mengharuskan penahanannya," tulis jaksa AS dalam berkas pengadilan tak bersegel.

Keluarga Taylors ditangkap Rabu pagi di Harvard, Massachusetts, ketika putranya sedang bersiap pergi ke Lebanon, tempat Ghosn melarikan diri setelah menyelinap keluar dari Jepang.

Amerika Serikat dan Jepang memiliki perjanjian ekstradisi, tetapi Lebanon dan Jepang tidak.

Jepang belum mengajukan permintaan ekstradisi resmi dan punya waktu 45 hari untuk melakukannya.

Pengacara Taylors, Paul Kelly mengatakan kasus itu "tidak semudah kelihatannya," dan mengatakan ada proses pengadilan "lain" di negara selain Jepang atau Amerika Serikat. Dia tidak merinci.

Sidang jaminan diharapkan dalam beberapa hari atau pekan mendatang. "Status quo untuk saat ini adalah penahanan," kata Hakim Donald Cabell.

Keluarga Taylors dan seorang pria Lebanon bernama George-Antoine Zayek dituduh Jepang telah membantu Ghosn melarikan diri dari negara kepulauan itu pada 29 Desember.

Ghosn, yang memimpin Nissan selama hampir dua dekade sebelum penangkapannya pada 2018, bebas dengan jaminan menunggu persidangan atas tuduhan kejahatan keuangan ketika dia melarikan diri secara dramatis.

Antara Juli dan Desember 2019, Peter Taylor melakukan beberapa perjalanan ke Jepang dan "bertemu dengan Ghosn setidaknya tujuh kali," kata jaksa penuntut.

Menurut dokumen pengadilan, Taylors dan Zayek membantu bos mobil tersebut bersembunyi di dalam kotak hitam besar dari jenis yang digunakan untuk mengangkut peralatan audio untuk musik, yang kemudian mereka masukkan ke jet pribadi.

Pada saat itu, bagasi yang diletakkan di pesawat seperti itu tidak perlu diperiksa.

Menurut pengajuan pengadilan, Michael Taylor dan Zayek menyamar sebagai musisi. Pada 29 Desember mereka bepergian dengan Ghosn dengan kereta berkecepatan tinggi dari Tokyo ke Osaka di mana mereka memasuki kamar 4609 sebuah hotel di dekat Bandara Internasional Kansai.

Kotak yang diduga digunakan Ghosn dalam pelariannya yang seperti Houdini dibawa ke ruangan pada hari sebelumnya oleh Taylor dan Zayek.

"Tidak ada gambar Ghosn meninggalkan kamar 4609," kata pengadilan, mengutip bukti kamera keamanan.

"Sebaliknya, Ghosn bersembunyi di salah satu dari dua kotak hitam besar yang dibawa oleh Michael Taylor dan Zayek."

Kedua pria itu naik jet pribadi dengan kotak-kotak besar dan berangkat ke Turki malam itu, kata dokumen pengadilan.

"Dua hari kemudian, pada 31 Desember 2019, Ghosn membuat pengumuman kepada publik bahwa dia berada di Lebanon," tambah jaksa penuntut.

Pemerintah Jepang mengatakan awal tahun ini bahwa tidak ada catatan Ghosn meninggalkan negara itu.

Pengajuan pengadilan memberikan laporan rinci tentang pelarian itu.

"Rencana rahasia mengeluarkan Ghosn dari Jepang adalah salah satu tindakan pelarian yang paling berani dan diatur dengan baik dalam sejarah baru-baru ini," tulis jaksa penuntut, "yang melibatkan serangkaian pertemuan hotel, perjalanan kereta peluru, persona palsu dan penyewaan sebuah pesawat pribadi yang sensasional."

Pada Februari, Nissan mengajukan gugatan perdata untuk memperoleh kembali sekitar 10 miliar yen ($ 90 juta) dari Ghosn untuk apa yang disebutnya "tahun-tahun kesalahannya dan aktivitas penipuannya."