Dua WNI Korban Tragedi Halloween di Korsel Sudah Pulang dari Rumah Sakit

Merdeka.com - Merdeka.com - Dua Warga Negara Indonesia (WNI) turut menjadi korban dalam tragedi Halloween di Distrik Itaewon, Seoul, Korea Selatan, pada Sabtu (29/10). Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut, dua WNI itu mengalami luka ringan dan kini sudah pulang dari rumah sakit.

"Ada dua warga negara kita yang luka ringan dan pada saat dilakukan pengecekan keduanya sudah tidak berada di rumah sakit, sudah kembali ke tempatnya masing-masing," kata Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (31/10).

Retno memastikan Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) dan Dubes Indonesia di Korea akan memantau para WNI usai tragedi Halloween.

"Tentunya direktur PWNI bersama dengan dubes kita di Seoul dan timnya terus melakukan pemantauan sekiranya ada informasi lain," ucapnya.

Retno juga sudah menyampaikan duka cita atas tragedi Halloween tersebut. Dia terus berkomunikasi dengan pihak terkait pasca kejadian itu.

"Untuk Halloween saya sudah sampaikan duka cita baik melalui Twitter maupun saya langsung berkomunikasi dengan menteri luar negeri Korea Selatan dan juga dengan dubes Korea Selatan yang ada di indonesia di awal-awal peristiwa," kata Retno.

Ratusan orang meninggal dunia usai berdesakan pada acara Tragedi Halloween di kawasan Itaewon, Korea Selatan, pada Sabtu (29/10). Mayoritas korban meninggal merupakan anak muda berusia 20-an tahun.

Dilansir dari Reuters, tewasnya ratusan orang itu dipicu kerumunan besar. Mereka saling berdesakan di sebuah gang sempit. Beberapa saksi menggambarkan kerumunan menjadi semakin tidak terkendali dan gelisah saat malam semakin larut. Peristiwa itu Tragedi Halloween di kawasan Itaewon, Korea Selatan terjadi sekitar pukul 10.20 WIB.

"Sejumlah orang jatuh selama festival Halloween, dan kami memiliki banyak korban," kata pejabat Departemen Pemadam Kebakaran Korsel, Choi Seong Beom.

Choi mengatakan, semua korban tewas kemungkinan besar akibat kecelakaan di satu gang sempit itu. Sementara, polisi mengalami kesulitan mengendalikan kerumunan.

Moon Ju-young (21 tahun) mengatakan, ada tanda-tanda masalah serius di gang sempit sebelum insiden itu. "Setidaknya lebih dari 10 kali ramai dari biasanya," katanya.

Rekaman media sosial menunjukkan ratusan orang yang memadati gang sempit dan miring itu hancur dan tidak bisa bergerak ketika petugas darurat dan polisi berusaha membebaskan mereka. Rekaman lain menunjukkan adegan kacau petugas pemadam kebakaran dan warga merawat puluhan orang yang tampaknya tidak sadarkan diri.

Petugas pemadam kebakaran dan saksi mata mengatakan, orang-orang terus berduyun-duyun ke gang sempit yang sudah penuh sesak. Padahal, orang-orang di atas jalan yang miring itu jatuh. Kondisi ini membuat orang-orang di bawah mereka terguling-guling.

Seorang wanita yang tidak disebutkan namanya mengaku berhasil menyelamatkan putrinya dari tragedi maut di gang sempit kawasan Itaewon. Sementara lebih banyak orang terjebak selama lebih dari satu jam sebelum ditarik keluar dari kerumunan.

Seorang saksi mata Reuters mengatakan, kamar mayat darurat didirikan di sebuah gedung yang berdekatan dengan tempat kejadian. Sekitar empat lusin mayat kemudian dibawa dengan tandu beroda dan dipindahkan ke fasilitas pemerintah untuk mengidentifikasi para korban.

Presiden Yoon Suk-yeol memimpin pertemuan darurat dengan pembantu senior dan memerintahkan satuan tugas dibentuk untuk mengamankan sumber daya untuk merawat yang terluka dan untuk meluncurkan penyelidikan menyeluruh penyebab bencana.

Data sementara, 154 orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut, 26 di antaranya merupakan warga negara asing. Sementara itu, 82 orang mengalami luka-luka.

Halloween merupakan festival pertama di Seoul dalam tiga tahun terakhir setelah negara itu mencabut pembatasan Covid-19 dan jarak sosial. Banyak pengunjung pesta mengenakan topeng dan kostum Halloween. [tin]